Kotaksuara

Dedi Mulyadi, Sosok Sederhana dari Seorang Kawan Lama

5 September 2017   20:44 Diperbarui: 5 September 2017   20:50 240 0 0

Tidak semua orang mampu memposisikan dirinya lebih rendah dari orang lain, lebih menghormati orang lain, lebih mementingkan kepentingan orang lain, bahkan ketika dirinya dicerca, di caci maki, di fitnah bahkan sampai di ancam jiwanya sekali pun, tetap menghormati dan bersikap santun kepada orang orang yang melakukan ini semua kepada dirinya.  Inilah yang ada pada diri Kang Dedi Mulyadi yang menjalani hidupnya meski sebagai seorang kepala daerah namun jauh dari kesan sombong dan glamor seperti yang biasa dipertontonkan kepala daerah yang lainnya. Gaya hidupnya Kang Dedi sangat sederhana, hal nyatanya yang kasat mata dari cara Kang Dedi Mulyadi berpakai dan berolah raga, rutinitas olah raga Kang Dedi paling lari pagi dan keliling naik sepeda ketika sore hari, bukan Golf, Bowling atau shooping

Sifat sederhana inilah yang paling menonjol dari Kang Dedi Mulyadi yang mampu merubah mental Pejabat di purwakarta, merubah cara pandang dan perilaku orang Purwakarta, tentu saja tidak ketinggalan semua jajaran SKPD  (Satuan Kerja Perangkat Daerah) yang ada di Purwakarta.

Bagi Kang Dedi mengelola birokrasi dengan sederhana sama saja menghemat pengeluaran, anggaran yang biasanya untuk rapat di hotel hotel berbintang, seragam pegawai dan kegiatan kegiatan yang kurang bermanfaat bisa digunakan untuk biaya pembangunan.

Sifat sederhananya Kang Dedi Mulyadi, tidak hanya Kang Dedi seorang namun di tunjukan juga oleh istri dan putranya,  Ibu Anne Ratna Mustika istrinya Kang Dedi kalau kepasar sering naik angkot dan putra bungsunya Kang Dedi malah menjadi Dalang, bukan Pereli atau jadi anak Band seperti gaya hidup anak anak pejabat pada umumnya, Keserderhanaan suami-istri ini benar-benar sepasang manusia yang istimewa. Sejak memiliki ibu Bupati yang sangat sederhana, penampilan ibu-ibu pejabat lain pun di Purwakarta lambat laun berubah, Ibu  Hj. Anne Ratna Mustika adalah sosok Ibu Bupati yang pendiam namun aktip di berbagai organisasi ini seperti menjadi pelengkap kesederhanaan Kang Dedi Mulyadi.

Bayangkan! Jika kita memiliki kepala daerah  punya perilaku bak ratu dan raja, besar kepala dan memperlakukan bawahan seperti hamba sahaya. Mungkin tidak semua, tapi seperti itulah umumnya mereka. Kalau mengadakan rapat, seringnya diluar kota dan diadakan di hotel bintang lima. Kehidupan pribadi mereka tak ubah layaknya para pengusaha, padahal gaji dan uang mereka dibayar oleh pajak negara yang sumbernya dari rakyat di daerah tersebut yang mungkin secara umum sangat miskin.

Bagaimana kalau Kang Dedi menjamu tamu di rumah dinasnya atau pendopo, paling yang sudah menjadi kebiasaannya yaitu hidangan sate Maranggi atau biasanya Kang Dedi mengajak tamunya langsung di tempat rumah makan yang tergolong sedrhan di Cibungur itu, bukan ke hotel hotel  atau restoran berbintang di Purwakarta dengan hidangan hidangan ala Barat atau Mandarin.

Jika dalam suasana libur akhir pekan bukan weekend di Singapure atau Bali, kebiasaan Kang Dedi malah di sawah, ngureuk belut sama nyabit rumput, satu kebiasaan yang benar benar langka dari sosok seorang kepala daerah yang jika mau bisa memanfaatkan semua fasilitas kemewahan dengan bebas serba gratis.

Ada yang unik lagi ketika Kang Dedi berkunjung ke daerah daerah di Jawa Barat sebagai Ketua DPD Golkar jawa Barat, perlakuan perlakuan istimewa para politisi Golkar di daerah yang menghormati Kang Dedi dengan sangat luar biasa, jika disambut longser malah Kang Dedi yang menari dengan si Longser, jika disambut pakai Sisingaan Kang Dedi malah yang mengotong personil Sisingaannya dan sisi lain yang sangat luar biasa perlakuan Kang Dedi kepada siapa saja saat berkunjung ke suatu tempat selalu menjadi penghimbur, penyelamat, Kang Dedi selalu bersikap bak seorang kawan lama kepada semua orang, dari hal hal seperti ini kita meyakini jika beliau diberi amanah menjadi pemimpin Jawa Barat untuk priode 2018-2023 akan membawa perunahan dan kemajuan untuk Jawa Barat. (DKS)