Zahra El-Fajr
Zahra El-Fajr mahasiswa

Tasawuf Psikoterapi UIN SGD | Bandung | 19thn | Facebook: Zahra Bejoo | Instagram/twitter/LINE: @jaraa234 | Jaraa234.tumblr.com | travel.detik.com/jaraa234

Selanjutnya

Tutup

pilihan headline

Drama ǀ Setelah Patah Lalu Apa?

19 Desember 2016   21:25 Diperbarui: 20 Januari 2017   21:37 1 15 18
Drama ǀ Setelah Patah Lalu Apa?
Ilustrasi: Weheartit

Kamu pernah sadar tidak, jatuh cinta bisa menjadi patah hati lainnya.” Aku bilang,

“Lalu buat apa jatuh cinta kalau tahu itu membawa luka?” kamu malah bertanya, aku mengiyakan pertanyaanmu. Benar juga, tapi, siapalah yang akan waras ketika dilanda jatuh cinta? Akan tetapi, hari itu, jauh-jauh hari setelah percakapan kita itu, akhirnya kita saling jatuh hati.

“Di kepalaku selalu saja kamu,” katamu,

“Di bahagiaku, selalu saja kamu,” jawabku. Kami tertawa bersama. Banyak hal yang sebelumnya biasa saja, tapi terasa istimewa saat dilalui bersamamu. Banyak percakapan kita yang sederhana tapi menyirat makna penting. Banyak tawa renyah yang kita habiskan, padahal dalam hati kita sama-sama takut kehilangan. Banyak, banyak kali aku menegur diri agar tak terlalu jatuh cinta padamu, tapi hatiku menolak perintahku sendiri. Karena telah banyak yang kita lalui, aku sadar bahwa cinta bukan sesuatu yang bisa ditakar, dan dikendalikan.

“Ra, aku harap kamu takut kesendirian.” kamu memecahkan hening.

“Aku kan pemberani,” aku jawab,

“Iya, aku harap.”

“Tapi kenapa?”

“Hiduplah bersamaku, Ra. Akan aku nyalakan lilin setiap kamu hendak tidur.”

Kamu sudah hafal aku lebih menyukai cahaya lilin ketimbang lampu tidur. “Mulai kapan aku boleh pindah kesini?” kamu tersenyum sangat manis.

Aku tak peduli hal apa yang lebih menyenangkan dari ini, tapi berbelanja ke pasar di pagi hari bersamamu sangat menyenangkan, juga saat mericuhkan dapur. Kamu paham betul aku tak pandai memasak, “Bakatku hanya membahagiakanmu, Key.” Bisikku, tak lama senyummu mengembang seiring mendekapku. Begitulah, rumah ini selalu hangat oleh tawa kami.

Dari ketujuh hari dalam satu pekan, aku paling suka hari Minggu, tentu saja kalau ada kamu. Saat weekend, kita lebih memilih bermalas-malasan di rumah. Tidur-tiduran di rumput halaman belakang, membaca novel atau mendengar lagu kesukaan. Di sela-sela suasana sunyi yang amat kita sukai itu, kadang kita mengobrol ringan tentang hal sepele yang menarik.

“Manfaatnya jadi kekasihmu?” aku langsung melontarkan pertanyaan acak padamu, kamu sigap mengerti maksudku. Kamu mungkin langsung berpikir keras saat itu;

“Kamu akan tidur nyenyak! Aku jamin!” jawabmu sangat out of the box. Kami tertawa seketika.

How about perks of being yours?” kamu bertanya balik, kalau aku yang melontarkan pertanyaan, sudah pasti jawabanku tersiapkan sebelumnya.

“Kamu akan awet muda.” Kamu keheranan.

“Awet muda apanya? Tumbuh berkembang itu natural,”

“Kalau sama aku kamu akan banyak tersenyum, tertawa karena aku terlalu membahagiakan. Nah kamu akan awet muda karena itu,” jawabku.

“Awet muda dan tidur yang nyenyak, hmmm....” responmu sangat menyebalkan. Aku timpuk bantal padamu. Kami selalu menertawai jawaban satu sama lain seakan-akan jawabannya selalu meleset dari ekspektasi, dan kedengaran konyol. Kami tertawa banyak, hingga lupa waktu dan hal penting lainnya selain waktu.

“Aku terlalu suka saat-saat bersamamu” siang ini kami akan main kata ‘terlalu’.

“Aku terlalu terobsesi suara nafasmu kalau lagi tidur.” lanjutku,

“Aku terlalu ngangenin buat kamu,”

“Aku terlalu lebih ngangenin buat kamu.”

“Aku terlalu cinta gila padamu,”

“Aku terlalu waras memilihmu.”

“Ah curang, kamu selalu bisa mengambil ide dari jawabanku..” akhirnya kamu mengeluh dengan manja, sebenarnya aku terlalu suka mata kamu, aku terlalu suka senyummu yang tidak terlalu manis karena bagaimana pun yang paling manis adalah senyumku yang mana senyum manis itu bisa mengembang hanya karena aku bersamamu, tentunya. Aku terlalu nyaman menggenggammu, aku terlalu erat memelukmu, aku terlalu tak bisa lepas dari memandangmu. Betapa berartinya kata ‘terlalu’ itu ketika kamu masuk ke kehidupanku, kamu tahu?

Di awal hari Minggu, ritual saling membangunkan meninggalkan kesan manis juga, kita sama-sama susah untuk bangun, semacam pasangan yang sama-sama dysania dan entah itu kombinasi yang baik atau sebaliknya. “Key, bangun,” aku lenturkan pipimu. Kamu hanya ber ‘hmmmm’ saja. Lucu, tapi aku lapar, bagaimana pun kamu harus bangun.

“Kalau kamu nggak bangun-bangun, aku mau jadi kelopak matamu deh.”

Tak lama kamu menyaut, mengerti ini akan dimulainya permainan,

“Aku mau jadi bulu matanya.” Jawabmu

“Aku mau jadi otot kelopak mata.”

“Aku mau jadi bola mata.”

“Aku mau jadi mimpi di tidurmu.”

“Aku mau nemenin kamu di mimpi.”

“Aku mau makan di mimpimu kerena aku benar-benar lapar, maka, Key, aku mohon, bangunlah.” Kamu bangun, usahaku berhasil. Juga hari minggu selalu berhasil membuat rindu.

Narator

Tapi aku sependapat dengan yang Ra katakan, bahwa jatuh cinta bisa menjadi patah hati lainnya, entah patah hati bagi yang masih di dunia atau patah hati bagi mereka yang sudah di tempat yang lebih tinggi.

Hari itu aku menyaksikan hawa duka di pemakaman ayahnya Ra, ayahnya meninggal secara tak terduga, ia diracuni padahal petugas keamanan ditugaskan tak tanggung-tanggung, ia masih kecolongan. Tak lama, bundanya Ra menyusul pergi entah ke alam mana.

Key tak pernah tahu bahwa suami kekasihnya yang ia racuni adalah ayahnya Ra. Mereka tak pernah sadar bahwa mereka terikat takdir rahasia yang berkaitan. Ketika malam itu kutanyai mengapa Ra membunuh bundanya setelah tak lama dari kematian ayahnya, Ra hanya menjawab “Aku hanya penasaran saja, untuk siapa lelaki itu datang ke pemakaman.” Parahnya Ra tidak sadar atas kesalahan yang ia lakukan hanya karena ia penasaran? Dia nyatanya dibutakan cinta. Setelah berhasil mendapatkan lelaki yang membuat penasaran itu, ya, Key membuat Ra penasaran ketika Key datang ke pemakaman ayahnya dan kedua kalinya saat pemakaman bundanya, ketika itulah mereka akhirnya berkenalan.

“Sampai kapan kamu akan merahasiakannya, Ra?”

“Sampai aku mati, tentu saja!”

Menurutmu siapa kah yang lebih patah hati melihat kenyataannya begini? Ayah Ra? Bunda Ra? Key? Atau Ra?

Ayah Ra

Aku tak pernah mengkhianati siapa pun, entah mengapa aku diakhiri dan dikhianati sekaligus dalam waktu yang bersamaan.

Bunda Ra

Setelah ditinggal selamanya oleh suami yang dibunuh oleh kekasihku, aku dibunuh oleh putriku.

Key

Aku ditinggal selama-lamanya oleh kekasih yang dengan mati-matian kuusahakan untuk bisa bersamanya.

Ra

Setelah kehilangan sekali, dua kali, kita tidak pernah merasa terbiasa dengan kehilangan. Selalu ada pahit saat harus menerimanya.

~

Aku tidak pernah menduga, Key mendatangiku dan mengharapkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaannya yang mengalir deras. Lama-lama ia mencium kecurigaan tak tertahan, aku ingin tahu bagaimana kelanjutannya apa bila mereka saling mengetahui rahasia masing-masing, hari itu kuberi tahu semuanya pada Key. Juga pada Ra setelahnya.

Key sangat kaget, ia sempat kabur dari rumah. Ia benar-benar terpukul mengetahui Ra yang seromantis itu mempunyai sisi yang tak ia sangka, juga Ra yang selama ini menyimpan dendamnya atas kehilangan ayahnya, tapi Ra bimbang dengan yang mana yang akan ia pilih. Ini mungkin salah, tapi Ra memutuskan menyusul kedua orang tuanya karena ia bilang “Menyedihkan melihat Key kehilangan rasa tertariknya padaku,” Ra pun berakhir putus asa membawa penyesalan-penyesalannya pergi bersamanya untuk ia tanggung akibatnya, ketika tak lama Key menyusulnya ke rumah dan berniat meminta saling memaafkan karena Key terlanjur tak mampu tanpa Ra. Ini benar-benar salah dari awal, mereka pun saling kehilangan satu sama lain.

Key tidak pernah merasa penyesalan atas ketidakwarasan yang merasukinya karena cinta, rupanya itu yang aku lihat. 

Lalu, jika Key akhirnya bersamaku, siapakah yang paling patah hatinya?

Cerita mereka diawali dan diakhiri dengan cara yang sama

Bandung, Desember 2016

Zahra