Zahra El-Fajr
Zahra El-Fajr mahasiswa

Tasawuf Psikoterapi UIN SGD | Bandung | 19thn | Facebook: Zahra Bejoo | Instagram/twitter/LINE: @jaraa234 | Jaraa234.tumblr.com | travel.detik.com/jaraa234

Selanjutnya

Tutup

pilihan

Cerpen | Mei Raya

5 Mei 2017   13:20 Diperbarui: 5 Mei 2017   14:07 330 7 2
Cerpen | Mei Raya
Ilustration/ Source: Tumblr

Hari ini adalah 5 Mei 2017, sehari setelah ulang tahun ke 18 tahun-mu. Bagaimana aku bisa lupa? Aku hanya, tak bisa mengucapkannya sebaik dulu, tak bisa mengungkapnya sebahasa dulu; mencari kado dan mencoba membuat bahagiamu tahan lama setidaknya sehari itu. Walaupun pada tahun berikutnya, hal yang sama adalah bahwa aku tak pernah merayakannya di sampingmu, kendati begitu aku tetap senang melihatmu tersenyum di foto.

Ah, sekarang rambutmu gondrong,

Kamu tetap begitu menyukainya warna merah,

Kamu lebih tampan aslinya daripada di foto,

Aku menghela nafas panjang, atau bahkan sudah terisak menangisi entah. Seingatku, 2 tahun lalu aku menangis pada hari ulang tahunku untuk pemicu yang sama, yaitu; kamu. Hari itu aku menangis bahagia dan haru, kenyataan bahwa hanya kamu yang sebegitunya padaku terlihat jelas dari kadomu; banyak sekali permen dan cokelat di dalam tas tak tidak kado lainnya seperti novel, foto, sepatu, notebook, dan banyak kebahagiaan. Aku menangis karena seminggu ini kamu menghindar, menghilang, menyibukkan diri tanpa kabar, aku menangis karena akhirnya mengerti bahwa kamu mempersiapkan semua ini. Aku menangis karena aku pikir aku hanya tak ingin melupakan momen ini sampai tua nanti. Aku masih menyimpan kado itu, apakah dengan perasaan masih terkandung di dalamnya atau tidak, aku belum yakin.

Dua tahun berikutnya, momen ulang tahunku selalu menyenangkan, selalu ingin aku syukuri. Setelah itu, hari ulang tahunmu ini aku menangis lagi, menangisi apakah aku sudah benar-benar bahagia dengan pilihan-pilihan yang aku sematkan? Senyum itu, apakah kamu telah benar-benar bahagia? Bagaimana jika dibandingkan dengan dulu, saat kita masih bersama. Atau bayangkan saat ini kita masih bersama, akankah sebahagia ini atau malah lebih bahagia?

Tidak ada lagi kado menarik untukku, aku malah hanya teringat kata-katamu, bahwa aku tidak akan menemukan laki-laki sepertimu, lalu aku harus bagaimana ? Sementara aku melihatmu mencari diriku pada orang lain, kamu menganggap orang lain itu adalah aku, sampai kamu tersadar tidak ada pula yang seperti aku.

Mengapa ketika menulis diary tentang pengalaman ulang tahun, aku malah tenggelam dalam perasaan bimbang yang masih belum kuyakini apakah ini semacam penyesalan atau gejala yang wajar setelah perpisahan. Kebaikan-kebaikannya seakan mengampung ke permukaan kala kisah kita justru sudah tenggelam. Tapi mengapa kamu membuat hatiku kebas? Kupikir kamu yang pantas, dan tak melepas. Tapi mengapa aku tetap cemas?

Apakah tali sepatumu terlepas? Orang bilang tali sepatumu akan terlepas ketika seseorang merindukanmu. Jika aku bahasakan, ya, aku merindukanmu.. Aku merindukanmu sampai ke kuku-kuku.

Apakah kini kamu merayakan ulang tahunmu di pekarangan rumah? Bagaimana kalau hujan? Saat hujan, tak mungkin nyalakan lilin. Tapi lilin itu menyala di anganku seraya bernyanyi selamat ulang tahun, kamunya aku (dulu). Masa lampauku bersamamu layaknya lilin itu, terang indah dan sementara. Kemudian kubiarkan hujan itu juga turun di anganku dan memadamkan lilin. Kupikir lilin memang seharusnya padam pada akhirnya, seperti kita. Saat matahari pagi esoknya benderang, kita akan sama-sama lupa terpukaunya lilin ulang tahun kemarin. Jika ulang tahun berikutnya telah sampai, kita akan sama-sama mengenang hingga benar-benar padam dalam ingatan.  

Aku benar-benar ingin bertanya padamu, apakah bimbang kita seirama?

Bahwa tanpa menunggu ulang tahun berikutnya, mengenangmu dalam ingatan adalah yang mustahil padam.


Selamat ulang tahun, Kamu

Bandung, 5 Mei 2017

Zahra