HIGHLIGHT

Teror di Solo Sebagai Penyampaian Pesan

31 Agustus 2012 01:08:03 Dibaca :
Teror di Solo Sebagai Penyampaian Pesan
kompas.com

Penembakan terhadap polisi kembali terjadi di Solo, Jawa Tengah, Kamis (30/8/2012) malam. Seorang polisi tewas karena ditembak dari jarak dekat oleh seorang tak dikenal di Pos Polisi Singosaren, Jalan Rajiman Serengan, Solo.

Kepala Divisi Humas Polri Inspektur Jenderal Anang Iskandar saat dihubungi, Kamis malam, mengatakan bahwa peristiwa berdarah itu terjadi sekitar pukul 21.00. Korban bernama Bripka Dwi Data Subekti (sebelumnya disebutkan Aipda Widata) tewas seketika akibat tertembak di dada sebanyak empat kali.  "Ya, telah terjadi penembakan di Pos Polisi Matahari Singosaren jam 21.00, ditembak jarak dekat. Korban Briptu Data, anggota Polsek Serengan dengan luka empat tembakan di dada," kata Anang di Jakarta.

Anang mengatakan, pelaku terdiri dari dua orang yang menggunakan sepeda motor Suzuki Smash (sebelumnya ditulis Honda Supra). Pelat nomor kendaraan pelaku pun tercatat AD 2434 HB/BH. Pelaku berhasil melarikan diri dengan cepat menggunakan sepeda motor itu. "Pelaku penembakan lari, ditunggu temannya menggunakan sepeda motor. Dikejar massa lari, terus menembak lagi," ujar Anang.

Pada saat kejadian, ada beberapa anggota polisi lain yang sedang berjaga dan patroli di luar pos polisi. Korban langsung dilarikan ke rumah sakit dan saat ini telah dipindahkan ke Rumah Sakit Dr Moewardi Solo untuk menjalani otopsi.

Aksi penembakan ke arah pos polisi ini menambah panjang daftar penyerangan terhadap polisi di kota tersebut. Sebelumnya, aksi serupa juga terjadi di dua Pos Pengamanan (Pospam) Lebaran di Solo. Penembakan dan pelemparan granat oleh orang tak dikenal dilakukan secara berturut-turut. Pertama di Pospam Simpang Gemblengan, Jumat (17/8/2012). Kemudian, kembali terulang pada di Bundaran Gladak, Jalan Jenderal Sudirman, Sabtu (18/8/2012). Pada kejadian tersebut, dua polisi terluka, [SUMBER].

Pesan apa yang ingin mereka sampaikan!?

Satu kali lagi ada kekerasan bersenjata di Solo; entah apa motif mereka (mereka yang melakukan teror tersebut) yang sebenarnya. Dari teror-teror sebelumnya, sampai kini, seperti biasanya, publik tak pernah mendapat info, aparat keamanan tidak atau belum menyampaikan motif utama - pelaku - aktor intelektual di balik semuanya itu.

Juga seperti biasanya, ketika publik mulai lupa dan kemudian melupakan, maka kasusnya pun terpendam. Itu adalah lagu wajib (yang sering terjadi) penanganan kasus dan melupakan kasus serta mendiamkan masalah - dan lain - lain. Akhirnya, publik hanya berkira-kira - berandai-andai - berraba-raba, dan memaknai serta membaca sikon itu dengan cara serta pemahaman sendiri. Akibatnya lagi, publik menjadi apatis terhadap banyak masalah hukum dan peradilan di Nusantara; sekaligus malas melakukan upaya hukum di negeri ini.

Lalu, pesan yang ingin disampaikan oleh/dalam Teror Peluru di Solo!? Mungkin saja pesan tersebut adalah

Dari barisan sakit hati, sakit hati karena Polisi di Solo telah menangkap satu atau lebih dari antara (lingkaran - kelompok - golongan - gang - dan lain-lain) mereka;  mereka  menjadi sakit hati, sehingga memberi pesan berdarah. Siapa mereka, silahkan anda telusur.

Dari barisan teroris; mereka lakukan karena memang sudah tidak suka, sakit hati, benci, dan penuh kebencian terhadap polisi. Alasan mereka sederhana, karena polisi telah berhasil menutup aksi-aksi teror mereka; polisi dianggap penghalang, oleh sebab itu patut diberi pelajaran. Mereka berpesan agar polisi jangan macam-macam, nanti ditembak. Atau bahkan, para teroris tersebut ingin sampaikan bahwa mereka masih ada - belum habis - masih punya kekuatan - masih bisa menghancurkan apa dan siapa pun.

Dari barisan politik. Nah, ... untuk yang ini, antara ada dan tiada. Politisi kotor - busuk menggunakan tangan-tangan penjahat, pelaku kriminal, preman, gang, mafia, dan sejenisnya, untuk melakukan - menimbulkan ketakutan. Pesannya cukup gampang ditangkap, agar kompetitor - pesaing politik jangan macam-macam; karena akan mengalami kesulitan atau bahkan nasibnya sama dengan yang tertembak.

Silahkan nambahkan dari hasil analis mu ....

BERPOLITIKLAH dengan HATI dan ARAS, bukan dengan SARA

ARAS, bisa juga menjadi anti rasis, anti sentimen sara. Aras juga merupakan aneka tindakan, kata, perbuatan yang bisa mencapai hati - rohani seseorang; sesuatu yang mendalam dan bermakna sehingga mempunyai kesan kuat serta tak terlupakan.

Jadi, kampanye SARA diganti dengan kampanye ARAS; tidak melawan SARA dengan SARA; namun menghadapi kekuatan SARA dengan kelembutan ARAS.

Oleh sebab itu, untuk kandidat Gubernur/Wakil Gubernur yang yang menjadi korban kampanye SARA, perhatikanlah, gunakanlah ARAS. Bicara dan bertindak serta lakukan sesuatu ke/pada para pemilih - rakyat, yang mencapai - menyentuh hati para pemilih Jakarta.

Politik Aras, adalah politik yang elegan dan bermartabat; yang menunjukan kedewasaan politik seorang politisi; ia tak menggunakan uang dan benda lain, untuk membeli dukungan serta suara pemilih.

Politik aras, adalah hati yang bicara kepada hati yang mendengar dan menerima; yang terbangun karena komunikasi yang sejajar, apa adanya, dan humanis, cinta damai, dan seterusnya. Sehingga jika tak terpilih sekalipun, ia tetap ada dalam setiap hati serta tak terlupakan.

Janganlah kau mau jadi pemimpin, yang diawali dengan memecah-belah rakyat yang akan dipimpin

13425911631086018773

CIRI-CIRI KOMENTAR SAMPAH

  1. vulgar, porno, seksualitas dan pelecehan seksual
  2. ancaman, benci, kebencian, permusuhan
  3. makian - caci maki seseorang maupun kelompok
  4. sentimen sara, rasis, rasialis, diskriminasi, dan sejenisnya
  5. menyerang individu
  6. melenceng - menyimpang jauh dari topik yang dibahas
  7. komentar spam, isi komentar yang sama dan berulang-ulang pada/di satu tulisan - artikel - lapak
KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?