HIGHLIGHT

Mesir Bisa, Kapan Indonesia Bisa!?

28 Juni 2012 09:19:05 Dibaca :
Mesir Bisa, Kapan Indonesia Bisa!?
Muhammad Mursi koleksi english.alarabiya.net

Wapres Mesir, Perempuan, Kristen, Liberal Presiden Mesir Tunjuk Wanita Jadi Wapres

Mohamed Mursi, merupakan presiden pertama Mesir setelah tergulingnya Husni Mubarak; kemenangannya membuat suara pekikan para pendukungnya terdengar sampai jauh. Presiden yang muncul dari/dan didukung penuh Ikhwanul Muslimin tersebut, terpilih dengan lebih dari 50% suara pemilih,  mengalahkan para kandidat lainnya.

Kemenangan Mohamed Mursi dan Ikhwanul Muslimin (organisasi Islam transnasional ini), membawa kekuatiran pada politisi kanan (di Mesir), termasuk kalangan agamawan sekuler, liberal, dan minoritas; kuatir karena memunculkan  penindasan baru Mayoritas terhadap minoritas.

Akan tetapi, kuatir dan kekuatiran tersebut, pupus, Mohamed Mursi, melakukan gebrakan pertaman, gebrakan sejarah, ia akan mengangkta wakil presiden, dari kalangan Kristen Koptik, seorang perempuan, yang juga liberal. (kantor berita MENA dan TV Al-Jazeera, belum membocorkan namanya ke publik Internasional).  Menurut penasihat politik Mursi, Ahmed al-Deif,  "Untuk pertama kalinya dalam sejarah Mesir, seorang perempuan akan mengambil posisi tersebut"

Agaknya, dengan cara itu, (walau ini adalah salah satu cara, untuk menggalang persatuan bangsa Mesir), telah memberi rambu bahwa Mesir tidak menjadi negara dengan bentuk pemerintah berdasar agama (agama Islam); sehingga ada jaminan peran sipil sipil yang berdasarkan pada prinsip menghormati perbedaan suku, keyakinan, dan agama. Itu di Mesir, negeri yang baru mengenal demokrasi, dan lepas dari otoritas diktator pemerintah sebelumnya. Baru mengenal, namun melangkah lebih maju dan dewasa dari NKRI, negeri ku tercinta.

Keberanian presiden terpilih, Mohamed Mursi, memilih seorang perempuan, Kristen Koptik, liberal, tentu luar biasa. Mungkin saja, ada kalangan radikal - fundamental di Mesir, yang menolaknya, terutama dari kalangan salafi tradisonal (yang paling sering membuta fatwa aneh-aneh, misalnya tak boleh gunakan huruf  T Latin, perempuan dilarang pegang dan makan pisang, dilarang makan tomat, dan lain senagainya, yang semua ada lambang-lambang berupa Salib).

Bagaimana dengan di Nusantara!? Bukankah untuk/pada beberapa kalangan, kata-kata Kristen, Perempuan, Liberal, merupakan sesuatu yang haram!? Misalnya, perempuan tak layak sebagai pemimpin dan imam umat, umat tak boleh menjadikan kafir sebagai pemimpin, pemikiran liberal merusak akidah Islam, dan seterusnya. Oleh sebab itu, di negeri ini, di Indonesia, kecil kemungkinan ada Wakil Presiden dari kalangan minoritas, perempuan, dan liberal. Nah, jika di Mesir bisa, kapan Indonesia juga bisa!? 1340702337842289522Abbah Jappy P

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?