Jangan Lempari Klenteng dan Vihara Kami

11 Agustus 2012 02:25:16 Dibaca :
Jangan Lempari Klenteng dan Vihara Kami

Puluhan massa Ormas Islam ini dipimpin oleh Abdul Rahman melakukan baksi solidaritas untuk Umat Muslim Rohingnya di Myanmar yang dilakukan oleh FPI dan Gabungan Ormas Islam di Jalan Sulawesi, Kota Makassar, Jumat (10/8/2012). Mereka melakukan konvoi usai salat Jumat di masjid Al-Markaz Al-Islami.

Sekitar pukul 14.45 Wita, konvoi berhenti di depan Klenteng Xian Ma.  Di depan klenteng, Abdul Rahman pemimpin aksi melakukan orasi. Dia mengancam akan merusak Klenteng jika Muslim Rohingya terus ditindas. Setelah itu, tanpa dikomando beberapa orang melempari batu ke arah klenteng, [sumber]

Siapa yang pernah mampir di Ujung Pandang, (kebetulan, ketika ku ke sana, namanya masih Ujung Pandang), maka jika melewati Jl Sulawesi, tentu akan tahu Klenteng Xian Ma. Klenteng yang telah ada sejak puluhan tahun yang lalu, cukup dikenal orang Makasar.

Banyak orang kecil di Makasar di saat jelang Lebaran, pasti akan mennati jadual pembangian sembako oleh/dari pengurus Klenteng; dan itu sudah sejak lama dilakukan.

Tak disangka, tahun ini,  persiapan mereka, ternyata di kotori oleh Abdul Rahman, pentolan FPI Makasar, dan kawan-kawannya; aksi solidaritas dan orasi untuk membela Etnis Rohingya, berjanjut dengan menghujani batu ke arah Klenten; (walau tak  rusak berantakan, parah, tapi itu sudah cukup menujukan tindakan anarkis FPI.  Selain itu, FPI Makassar juga menyerang - merusak -melempari dengan batu, Klenteng Kwan Kong, dan Klenteng Ibu Agung Bahari.

FPI juga melakukan penyerangan ke Vihara Girinaga, FPI mengancam, apabila kasus tragedi Myanmar tak kunjung selesai, maka FPI akan kembali dan membumi hanguskan Vihara Girinaga. Salah satu batu mengenai tempat dudukan patung atau rupang Buddha Mahayana yang terbuat dari kayu, hingga terjadi kerusakan dan tulisannya copot, [tribune news].

Melihat situasi di atas, apa yang saya takutkan, kini menjadi kenyataan. 1 Agustus yang lalu, saya menyatakan dalam tulisan, Jangan Seret Tragedi Rohingya Menjadi Konflik Agama, banyak orang marah dan sinis, dan menyatakan bahwa itu berlebihan. Kekuatiran itu karena dengan mata bisa melihat di media massa, khususnya di Nusantara, ada kecenderungan menyeret tragedi Rohingya, sebagai bentuk penindasan - kekerasan - kebrutalan atas nama agama terhadap umat beragama; Budha terhadap Islam.  Sehingga ada semacam upaya balas dendam. Seakan ingin berkata ke/pada Rezim Myanmar, ku akan lakukan hal sama terhadap umat Budha di Nusantara; atau ku akan menekan mereka, jika Rezim tidak berhenti menindas Rohingya.

Dan salah satu fakta telah ada; terjadi di Makasar, FPI demo, melempari, merusak, dan mengancam. Mengapa mereka lakukan itu!? Apa hubungannya, antara rezim penindasan dengan manusia Indonesia beragama Budha!? Hanya kesamaan agama khan; apakah jutaan umat Budha di Nusantara adalah bagian dari Rezim tersebut!?

Mengapa sampai kita yang ada di Nusantara, saling benci dan mencaci!? Jika sama-sama melihat Rohingya Case, sebagai tragedi kemanusiaan - pelanggaran dan penindasan HAM, maka mari menyatukan  kekuatan untuk perlawanan dan melawan; bukan saling melawan di negeri ini.

Jangan sampai tragedi Rohingya, justru membuat kita - sesama anak bangsa terpecah belah dan saling acungkan pedang; seakan, di sana yang luka-luka, di sini yang para berdarah.

Alangkah eloknya, mata dunia melihat Nusantara, jika semua anak bangsa yang beda agama, menyatu untuk menekan Myanmar (dan bukan membalas dengan cara tak elok kepada mereka yang tak bersalah di Nusantara).

13444031871971976911

13446496981300996819kammi.or.id Puluhan mahasiswa dari Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI), Senin, (6/8/2012) mendatangi Klenteng Xian Ma, di Jl Sulawesi, Makassar. Tempat tersebut merupakan sekretariat organisasi Perwalian Umat Budha Indonesia (Walubi) Sulawesi Selatan. Kedatangan sekelompok aktivis dari KAMMI tersebut untuk berdiskusi dengan pengurus Walubi terkait kasus pembantaian umat Islam Rohingya, Myanmar. Menurut salah seorang pengurus KAMMI Makassar, Ardi, kedatangan mereka hanya untuk bersilaturrahmi sekaligus berdisuksi dengan pengurus Walubi. “Kami ingin mengetahui pendapat mereka terkait kasus Rohingya,” kata Ardi, usai melakukan kunjungan. Mereka beranggapan, bahwa antara pemeluk agama butuh silaturrahmi. Sebab kuat dugaan, terjadinya kasus di Rohingya salah satunya dipengaruhi oleh faktor kurangnya silaturrahmi diantara mereka. “Silaturahmi merupakan satu-satunya cara agar kasus Rohingya tidak terjadi di Negara lain,” tambah Ardi.  Ia menambahkan, bahwa KAMMI tidak pernah mentolerir segala bentuk kekerasan yang mengatasnamakan agama. Karena itu, KAMMI berharap agar sesama umat beragama saling menjaga kedamaian. Sementara itu, pengurus Walubi Sulawesi Selatan merespon kedatangan mahasiswa KAMMI di Klenteng Xianma, Makassar. Kepada perwakilan KAMMI, Walubi dengan tegas menyatakan mengutuk keras kejadian di Rohingnya, Myanmar.  “Antar pemeluk agama seharusnya anti kekerasan dan justru menanamkan saling cinta damai. Makanya kami mengutuk kekerasan yang terjadi di Rohingya,” kata Wakil Ketua Walubi Sulsel, Yonggri 1344649483688708543skala news.com BAKSOS di Klenteng Xian Ma, pada Lebaran 2011. Pembagian paket beras gratis di Klenteng Xian Ma, Makassar. Ribuan warga yang hadir disana, nampak berebut dan saling dorong agar bisa terlebih dahulu mendapatkan beras seberat 10 kilogram yang dibagikan oleh pengurus klenteng. Usai sahur, warga sudah mulai nampak berkerumum di Kleteng yang berada di Jalan Sulawesi, Makassar, Minggu (21/8). Karena banyaknya warga yang antrian, desak-desakan pun tak terhindari. Aksi saling dorong pun terjadi dan mengakibatkan sejumlah warga jatuh pingsan. Aparat kepolisian dan anggota TNI kewalahan mengatasi membludaknya warga yang mengantri dalam pembagian beras yang rutin dilakukan oleh pengurus klenteng Xian Ma setiap menjelang Idul Fitri ini. Salah seorang pengurus Klenteng Xian Ma, Peter Gozal mengatakan, pemberian paket beras ini memang rutin setiap jelang lebaran dan selalu dinantikan oleh warga yang kurang mampu. Sebab itu jumlah pengantri memang selalu membludak. "Pembagian paket sembako ini dilakukan untuk saling berbagi kepada umat muslim yang ingin merayakan hari raya Idul Fitri," kata Peter.(dip)

UPDATE :

13444911902004349481INI ADALAH PENYATAAN RESMI PP HIKMAHBUDHI

Yth Bhikkhu, Bhiksuni, Bhiksu, Bhiksuni, Romo pandita, Bapak dan Ibu

Merespon kejadian di Makasar, PP HIKMAHBUDHI sudah melakukan rapat dan mengeksplor isu tersebut. Kekerasan oleh FPI di Makasar tidak bisa didiamkan begitu saja, karena akan menjadi preseden buruk yang merugikan Buddhis di masa yang akan datang. Buddha adalah agama yang dilindungi Konstitusi negara, tidak sepatutnya diperlakukan seperti itu. Untuk itu ada beberapa rekomendasi dari HIKMAHBUDHI:

  1. Harus ada respon yang jelas dan tegas terhadap perlakuan FPI sebagai kelompok.
  2. Segera lakukan komunikasi dengan pimpinan umat Islam di tingkat pusat dan daerah untuk penyikapan bersama terhadap fpi.
  3. Menegaskan bahwa konflik di Rohingya sdg dlm proses penyelesaian oleh PBB, ASEAN dan pihak terkait lainnya. Janganlah konflik di negara lain menjadi penyebab aksi-aksi yang merugikan bangsa dan negara.
  4. Menuntut Kepolisian Republik Indonesia, mengusut dan menghukum para pelaku yANg melakukan pelanggaran hukum dalam aksi tersebut.
  5. Menghimbau umat Buddha di seluruh Indonesia untuk tetap tenang dan terus meningkatkan kerukunan antar umat beragama.
  6. Vihara dan Klenteng adalah tempat ibadah resmi agama, yang dilindungi UUD 1945. Maka setiap tindakan, mengintimidasi, merusak dan lain lain adalah pelanggaran terhadap kebebasan beragama umat Buddha di Indonesia.
  7. Aksi ke tempat ibadah umat Buddha adalah tindakan pelecehan terhadap Pancasila dan UUD 1945,  jadi harus ditindak tegas pihak berwenang.

Appamadena Sampadetha PP HIKMAHBUDHI

Adi Kurniawan

Ketua Umum

Polisi Buru Anggota FPI Pelempar Batu ke Klenteng

Pihak Kepolisian Daerah Sulawesi Selatan akan menindak tegas anggota Front Pembela Islam (FPI) yang melakukan aksi pelemparan di dua klenteng di Makassar yang terjadi Jumat lalu (10/8). Menurut Kabid Humas Polda Sulsel Kombes Chevy Ahmad Sopari, meski akan ditindak tegas, tapi sebelumnya, aparat kepolisian terlebih dahulu akan mempelajari rekaman gambar yang menjadi barang bukti saat aksi berlangsung.

"Setelah mempelajari itu, maka polisi akan menciduk pelakunya, sesuai barang bukti," ungkap Chevy. Chevy juga menegaskan jika Kapolda Sulselbar Irjen Mudji Waluyo menegaskan siapapun yang coba merongrong kerukunan umat beragama di Sulsel pasti akan diproses hukum. "Dengan kejadian tersebut, masyarakat diimbau agar tidak cemas, karena aparat kepolisian kini melakukan pengamanan yang lebih intensif," tegasnya.

Awalnya FPI Sulsel, Jumat (10/8), menggelar aksi solidaritas terhadap pembantaian Umat Muslim Rohingya, Myanmar di Makassar. Sayangnya aksi tersebut berakhir dengan pelemparan terhadap dua klenteng di Jalan Sulawesi Makassar. Ketika menggelar aksi di depan Klenteng Kwangkong, tiba-tiba massa melakukan pelemparan dengan batu dan terlihat memukuli pintu klenteng dengan kayu. Hal yang sama terjadi di Klenteng Xianma. Bangunan yang juga sekretariat dari Walubi ini lagi-lagi menjadi sasaran pelemparan.

PENJELASAN JUSUF KALLA [silahkan klik untuk baca detail]

Jusuf Kalla, ketua Palang Merah Indonesia (PMI) dan mantan wakil presiden Republik Indonesia, meninjau langsung ke daerah konflik di Myanmar antara etnis Rohingya dan Rakhine menjelaskan bahwa, "Konflik ini, bukan karena agama. Hanya konflik internal yang melibatkan Rohingya dan Rakhine.Mereka saling menyerang dan korban jatuh dari Rohingya dan Rakhine. Konflik yang terjadi di Myanmar lebih dikarenakan etnis Rakhine sebagai penduduk asli bersinggungan dengan penduduk pendatang, etnis Rohingya. Korban yang jatuh dari pihak etnis Rohingya sebesar 60 persen, sisanya adalah etnis Rakhine. Konflik tersebut, lebih diperhatikan korban yang jatuh di kalangan etnis Rohingya sementara korban Rakhine jarang diangkat ke permukaan. Korban dari kedua belah pihak tersebut harus dibantu, tanpa memandang keyakinan dari korban.

Korban banyak dari Rohingya. Namun, Rakhine juga menjadi korban dari konflik internal tersebut. Jadi OKI dan pemerintah Myanmar sepakat untuk membantu dan menfasilitasi perdamaian.

Rakyat Indonesia agar tidak mudah terpancing oleh provokasi ormas beragama tertentu yang justru akan menambah keruh kehidupan beragama di Indonesia. Ormas beragama yang tidak pernah datang langsung ke lokasi konflik tersebut, lanjutnya, tidak bijak untuk memicu konflik di tanah air yang justru dipicu oleh sentimen keagamaan.

OKI dan Pemerintah Myanmar, telah sepakat untuk berusaha agar konflik tidak membesar. Selayaknya, masyarakat Indonesia dapat berpikir jernih untuk tidak memperkeruh karena bagaimanapun juga penyerangan atas rumah ibadah tidak dibenarkan.

13435306281366980106 CIRI-CIRI KOMENTAR SAMPAH

  1. vulgar, porno, seksualitas dan pelecehan seksual
  2. ancaman, benci, kebencian, permusuhan,
  3. makian - caci maki seseorang maupun kelompok
  4. sentimen sara, rasis, rasiali, diskriminasi, dan sejenisnya
  5. menyerang individu
  6. melenceng - menyimpang  jauh dari topik yang dibahas
  7. komentar spam, isi komentar yang sama dan berulang-ulang pada/di satu tulisan - artikel - lapak
KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?