Janu Muhammad
Janu Muhammad

Pemerhati pendidikan dan kepemudaan, geograf muda di bidang perkotaan.

Selanjutnya

Tutup

pilihan headline

Kuliah di Luar Negeri, Manfaatnya Apa Sih?

3 Agustus 2017   19:29 Diperbarui: 4 Agustus 2017   09:48 1596 10 8
Kuliah di Luar Negeri, Manfaatnya Apa Sih?
koleksi pribadi



"Yang dibawa bukan hanya catatan kuliah, tesis, publikasi ilmiah, atau disertasi saja. Bawalah juga dosen, profesor, laboratorium, dan fasilitas-fasilitas lain yang dulu anda gunakan selama kuliah." (pesan Pak Lukito Edi Nugroho)

Masih teringat di kepala, lima tahun lalu saya pertama kalinya menghadiri pameran studi ke luar negeri. Momentum itu menjadi pijakan pertama saya untuk bermimpi kuliah di Eropa, tepatnya di Belanda. Beberapa brosur itu sepertinya masih tersimpan rapi di kamar saya, sebagai pengingat bahwa saya pernah mengalami masa-masa perburuan beasiswa dan kampus luar negeri. Sejak saat itu, saya mulai mempersiapkan segala syarat kuliah ke luar negeri dan juga syarat beasiswa. Yang terbersit saat itu adalah. Apakah mungkin, seorang anak desa seperti saya kuliah di luar negeri ?

Saya tidak menyangka rasa ingin tahu itu berlanjut. Saya terlalu nekat untuk mengambil langkah! Namun, 2 minggu mengikuti kuliah singkat di Utrecht University Belanda itu adalah pengalaman berharga yang akan selalu diingat. Jatuh bangun saya melangkah, bahkan hampir menyerah karena vertigo. Dua minggu di Belanda telah menjadi saksi awal saya merasakan pendidikan di luar negeri. Ilmu-ilmu yang saya dapatkan disana kemudian saya bagikan kepada rekan-rekan jurusan pendidikan geografi UNY serta teman-teman di komunitas. 

Kemudian pertanyaannya, apa yang akhirnya bisa saya bawa ke Indonesia? Tentunya seperti yang Bapak Lukito Edi Nugroho sampaikan pada catataan beliau di facebook. yaitu: sumberdaya (resources). Ya, untuk mendapatkan sumberdaya, saya mau tidak mau harus memiliki network/jaringan. Sepulang dari Belanda tahun 2013, saya telah membawa nama seorang dosen yang intensif menjadi pembimbing saat summer school. Saya telah mendiskusikannya matang-matang agar kelak dapat mengundang beliau datang ke Universitas Negeri Yogyakarta. Beliau setuju dan menunggu konfirmasi waktu dari saya.

Meskipun kami sudah berpisah antara Belanda-Indonesia, saya tetap sering menghubungi beliau melalui email untuk menyapa dan intinya agar tetap keep in touch. Rencana saya untuk mengundang beliau akhirnya saya sampaikan ke ketua jurusan di kampus dan syukurlah, disetujui. Dari jurusan saya akhirnya menghubungi kantor internasional UNY untuk diberikan proposal pengajuan pembiayaan dosen tamu. Proposal kami di ACC dan pada Oktober 2014 akhirnya kami dapat mengundang dosen geografi kota asal Utrecht Belanda itu. Satu jalan terbuka.

Beliau memberikan kuliah tamu selama satu minggu, juga jalan-jalan ke beberapa tempat di Yogyakarta (termasuk Merapi dan Kraton) juga jajan sate di depan gor UNY. Katanya "mak nyos" versi bahasa Jawa,hehe. Bagi saya, mungkin ini sebagai 'hutang' yang harus saya lunasi karena saya pernah diajar selama 2 minggu di Belanda. Bagi para dosen dan mahasiswa kami, tentu menjadi kesempatan berharga yang tak akan terlewatkan karena mendapat kuliah dengan bahasa Inggris, apalagi dengan perspektif ilmu yang bisa jadi berbeda. Bagi institusi, adalah kesempatan baru untuk berjejaring di tingkat internasional karena UNY sudah lama mencanangkan World Class University. Bagi dosen saya yang Belanda itu, tentu menjadi pengalaman pertama berkunjung di Indonesia, bahkan Asia. Dengan hal-hal baru yang beliau jumpai, saya berharap bahwa beliau akan lebih cinta Indonesia. 

Akses pertama telah saya buka, semoga semakin terbuka lagi pintu selanjutnya. Agar adik-adik mahasiswa juga semangat dalam belajar di UNY, syukur-syukur bisa kuliah di luar negeri dengan beasiswa. Sejak saat itu, saya menyadari bahwa peran saya adalah sebagai hub (penghubung) arus lokal dan internasional. 

Allah memberikan saya kesempatan untuk berkunjung ke Australia pada tahun 2014. Saya diberikan mandat oleh kepala jurusan agar mencarikan dosen tamu di University of Queensland. Tiga minggu di Brisbane saat itu tampaknya cukup padat kegiatannya. Lagi-lagi, saya harus melaksanakan amanah dari kampus. Kala itu saya membaca profil salah satu dosen di UQ dan akhirnya membuat appointment. Alhamdulillah, akhirnya saya dapat bertemu beliau. Kami menjalin komunikasi lebih lanjut. Beberapa waktu kemudian. Sampai akhirnya ada sebuah email yang isinya menerangkan bahwa beliau akan berkunjung ke Yogyakarta karena baru ada riset (saat itu baru hangat-hangatnya isu Jogja asat). 

Berbekal komunikasi via email, dan kami saling memberikan informasi, akhirnya hari itu kami kembali dapat mengundang beliau untuk mengisi kuliah tamu di kampus. Kesempatan kedua kali ini semakin meyakinkan saya bahwa inilah salah satu cra agar saya dapat giving back ke kampus saya, dan untuk Indonesia tercinta. Kita coba datangkan sumberdaya dari luar negeri itu agar para mahasiswa juga semakin terbuka dengan ilmu pengetahuan. Semakin menumbuhkan semangat untuk maju. Agar tahu rasanya diajar dengan bahasa Inggris, agar dapat berpikir terbuka dan kritis dalam berpikir ilmiah.

Pada intinya, setiap perjalanan Anda ketika ke luar negeri, saya pesankan agar tidak hanya dinikmati sendiri. Jika itu adalah berhubungan dengan akademik atau sektor strategis, maka berikan buah tangan yang manfaatnya berdampak untuk banyak orang. Siapkan kartu nama, jaring kenalan sebanyak mungkin sesuai bidang yang kita tekuni, dan jaga komunikasi. Seperti dengan program dosen tamu itu, saya berharap agar sumberdaya bagus itu juga dapat diakses oleh para mahasiswa kita, peran kita adalah sebagai penghubungnya.

Pada tahun 2016 kemarin. Allah kembali memberikan rezeki dengan amanah beasiswa LPDP. Saya dipercaya pemerintah untuk merantau ke Britania Raya selama satu tahun ke depan. Pun demikian, juga terjadi karena bantuan dosen saya yang dari Belanda itu. Beliau adalah salah satu kunci utamanya, yang memberikan surat rekomendasi dan bimbingan untuk mempersiapkan berkas aplikasi kampus University of Birmingham. Lagi-lagi, komunikasi memperlancar rezeki. Alhamdulillah pada 2017 ini saya dapat menemui beliau di Rotterdam, sebelum beliau pindah ke Kanada.

Bagi adik-adik, kawan-kawan yang hendak melanjutkan studi ke luar negeri, saya titipkan pesan: agar persiapkan sebaik mungkin. Bangun niat yang baik, bahwa kuliah ke luar negeri itu bukan karena untuk gengsi. Niatkan untuk menimba ilmu, agar berkah dan bermanfaat. Rencanakan dengan baik, perjuangkan semaksimal mungkin, mohonlah restu orang tua. Berjanjilah agar kelak ketika diberi kesempatan kuliah di luar negeri dengan beasiswa, maka akan giving back untuk negeri kita. Sekali lagi, ambil inisiatif dalam persiapannya, jadilan kandidat-kandidat yang memang layak diinvestasikan beasiswa.

Teruntuk kepada Anda para penerima beasiswa, termasuk saya. Penting sekali untuk berjejaring secara luas, tidak hanya dengan mahasiswa Indonesia di luar negeri, tetapi juga dengan orang-orang dari negara lain. Ajaklah mereka untuk ke Indonesia, ajaklah untuk melakukan kolaborasi riset,atau melakukan proyek di Indonesia. Syukur-syukur yang bergerak di bidang industri atau ekonomi kreatif, tawarkan potensi-potensi Indonesia agar mereka dapat berinvestasi, atau sebagai mitra pekerjaan. 

Lagi, pada hakikatnya kita yang saat ini atau akan sekolah di luar negeri mempunyai manfaat untuk membuka jalan bagi Indonesia. Anda yang terpilih atau dipercaya negara untuk menjadi duta Indonesia di negara tempat studi adalah sayap-sayap garuda yang diharapkan mengharumkan tanah air di mata dunia. Anda adalah ksatria-ksatria yang telah ditunggu kontribusinya untuk Indonesia selepas studi nanti. Terimakasih beasiswa LPDP dan Indonesia yang telah memberikan kepercayaan ini, semoga kami pun kelak dapat bermanfaat untuk bumi pertiwi. insyaAllah.

---

Salam dari Birmingham :)