Fase-fase Bulan & Sudut Elongasi Bulan

08 Januari 2012 08:22:28 Dibaca :

Bab I Pendahuluan


Sebagaimana bumi, bulan juga minimal mempunyai dua gerak yang penting, yaitu rotasi dan revolusi bulan. Dimana rotasi bulan merupakan perputaran bulan pada porosnya dari arah barat ke timur. Sedangkan revolusi merupakan gerak orbit bulan mengitari bumi selama satu bulan.


Bulan merupakan satelit alam yang selalu mengorbit pada bumi. Perjalanan orbit bulan dapat dijadikan acuan waktu bagi manusia khususnya dalam penanggalan qomariyah. Dari hari ke hari panampakan cahaya bulan jika dilihat dari bumi mengalami perubahan. Letak perubahan tersebut bukan pada eksistensi bulan itu sendiri, tetapi terletak pada posisi bulan terhadap matahari. Akibatnya, wajah bulan itu mengalami perubahan.


Karena Semakin bulan itu menjauh dari matahari, maka cahaya bulan yang dapat terlihat dari bumi akan semakin luas yaitu seluas lingkaran. Perubahan wajah bulan dari sabit ke purnama hingga kembali ke sabit lagi disebut dengan fase bulan. Sehingga perubahan fase bulan ini sangat berhubungan dengan jarak atau sudut elongasi bulan. Jarak sudut atau elongasi bulan adalah sudut yang dibentuk oleh bulan dan matahari relative terhadap pengamat di bumi. Sehingga sudut yang dihasilkan antara pengamat satu dengan pengamat yang lain pada lokasi yang berbeda maka hasilnya tidak akan sama.


Dalam makalah ini kami akan membahas fase-fase bulan dan sudut elongasi. Semoga bermanfaat bagi kita semuanya amin.



Bab II Pembahasan


A. Bulan


Bulan moon dalam bahasa inggris luna dalam bahasa romawi artemis dalam bahasa yunani adalah satu-satunya satelit alami yang dimiliki bumi. Jika dilihat dari posisinya bulan adalah benda angkasa yang paling dekat dengan bumi. Bulan juga menjadi benda yang kedua yang paling terang setelah matahari dan satu-satunya permukaan benda langit yang diamati dengan mudah [1]


Bulan adalah bola batu raksasa yang mengitari bumi. Permukaannya gersang, dipenuhi kawah yang berasal dari ledakan meteorit miliaran tahun yang lalu.


Bulan mungkin terbentuk saat planet lain bertumbukan dengan bumi muda. Pecahan batuan dari peristiwa itu uncul bersama dan membentuk bulan.[2]


Bulan adalah satu-satunya benda langit pengikut bumi yang berdiameter 3480Km. Bulan beredar pada jarak rata-rata 384.421 km. Bulan mempunyai dua gerakan yang penting yaitu rotasi bulan dan revolusi bulan.


Ø Rotasi bulan adalah perputaran bulan pada porosnya dari arah barat ke timur. dalam satu kali rotasi bulan memerlukan waktu sama dengan satu kali revolusinya mengelilingi bumi. Oleh karena waktu berotasi dan berevolusi sama maka permukaan bulan yang menghadap bumi relatif tetap. Adanya sedikit perubahan pada permukaan bulan disebabkan gerak angguk bulan pada porosnya. Gerak angguk ini sangat kecil sekali.


Ø Revolusi bulan adalah peredaran bulan mengelilingi bumi dari arah barat ke timur. Satu kali penuh revolusi bulan memerlukan waktu rata-rata 27 hari 7 jam 43,2 menit. Waktu peredaran bulan ini terbagi dua


a. Sideris ( Syahru nujumi) yaitu waktu yang ditempuh bulan untuk kembali ke asalnya. Revolusi bulan ini dijadikan dasar bulan qomariyah, tetapi waktu yang dipergunakannya bukan waktu sideris melainkan waktu yang sinodis.[3]


b. Sinodis(syahru iqtirani) yaitu waktu yang ditempuh bulan dari posisi sejajar (iqtiran) antara matahari, dan bumi ke posisi sejajar berikutnya.waktu iqtiran ditempuh rata-rata 29 hari 12 jam 44 menit 2,8 detik sama dengan 29,53058796 hari atau di bulatkan menjadi 29,531 hari[4]


Bidang yang dipakai bulan dalam mengelilingi bumi disebut falaqul qamar yang memotong bidang ekliptika sebesar 05o08’52”. Dengan demikian bidang edar bulan tidak berimpit dengan bidang edar bumi.jika kedua bidang edar tersebut berimpit maka setiap bulan akan terjadi dua kali gerhana, yaitu gerhana matahari pada awal bulan dan gerhana bulan pada pertengahan bulan.walaupun demikian, gerhana matahari atau gerhana bulan setiap tahun masih terjadi sekitar tiga atau empat kali. Hal ini disebabkan oleh kecilnya sudut potong antara bidang edar tersebut dengan bidang ekliptika.[5]


B. Fase-Fase bulan



Bulan adalah benda langit yang tidak mempunyai sinar sendiri. Cahayanya yang tampak dari bumi sebenarnya merupakan sinar matahari yang dipantulkan olehnya. Dari hari ke hari bentuk dan ukuran cahaya bulan itu berubah-ubah sesuai dengan posisi bulan terhadap matahari dan bumi.


Pada saat bulan persis antara bumi dan matahari-yaitu saat ijtima’/iqtiran(yang berarti berkumpul atau bertemu)-maka seluruh bagian bumi tidak menerima sinar matahari sedang persis menghadap kebumi. Akibatnya pada saat itu bulan tidak tampak dari bumi yang diistilahkan dengan muhak atau bulan mati


Ketika bulan bergerak, maka ada bagian bulan yang menerima sinar matahari terlihat dari bumi. Bagian bulan ini yang terlihat dari bumi sangat kecil dan membentuk bulan sabit.itulah yang dikenal dengan hilal awal bulan.


Semakin jauh bulan bergerak meninggalkan ijtima’ semakin besar pula cahay bulan yang tampak dari bumi. Sekitar tujuh hari kemudian sesudah bulan mati, bulan akan tampak dari bumi dengan bentuk setengah lingkaran. Itulah yang disebut dengan kwartir I atau tarbi’ awal.


Pada akhirnya sampailah bulan pada titik tejauh dari matahari dan secara penuh menghadap ke matahari yang disebut dengan saat istiqbal. Pada saat istiqbal, bumi persis sedang berada antara bulan dan matahari. Bagian bulan yang sedang menerima sinar matahari hampir seluruhnya terlihat dari bumi, akibatnya bulan tampak seperti bulatan penuh yang dinamakan badr atau bulan purnama.


Setelah itu bulan bergerak terus dan bentuk bulan semakin mengecil. Sekitar tujuh hari kemudian setelah purnama bulan akan tampak dalam bentuk setengah lingkaran lagi itulah yang disebut dengan kwartir II atau tarbi sani.


Akhirnya sampailah pada saat ijtima’ kembali menjelang bulan berikutnya dimana sama sekali tidak tampak dari bumi(bulan Mati)[6].



Dengan demikian pase-pase bulan dalam konteks satu bulan penuh meliputi:


1. Bulan mati(muhaq), yaitu ketika terjadi peristiwa ijtima’ antara bulan dan matahari.


2. Hilal awal bulan, yaitu ketika bulan meninggalkan ijtima’pada hari tanggal 1,2, dan 3 Qamariyah.


3. Tarbi’ awal, yaitu setelah bulan meninggalkan ijtima’ pada perempatan pertama dalam ukuran sudut(busur), pase ini terjadi pada tanggal 6,7, dan 8 qamariah


4. Badr(bulan purnama) atau full moon, yaitu ketika terjadi peristiwa istiqbal.permukaan bulan yang terkena sinar matahari terlihat dari bumi, pase ini terjadi pada tanggal 13, 14, dan 15 qamariyah.


5. Tarbi sani atau kwartir II, yaitu bulan meninggalkan matahari setelah peristiwa istiqbal,pase ini terjadi pada tanggal 21, 22, dan 23


6. Hilal akhir bulan, yaitu pase dimana bulan berbentuk sabit pada akhir bulan. Fase ini terjadi pada tanggal 27, 28, dan 29.


Gambar fase-fase bulan dalam siklus bulanan[7]




C. Sudut elongasi


Elongasi adalah sudut yang dibentuk oleh bumi-benda langit dengan bumi-matahari.


Sudut elongasi bulan adalah sudut antara bulan dan matahari.dalam bahasa arab disebut al-bu’du az zawiy sedangkan dalam kitab sullamun Nayyirain diistilahkan dengan bu’du baina An Nayyirain.[8]


Jadi sudut elongasi bulan adalah sudut yang dibentuk oleh bumi-bulan dan bumi-matahari.


Ø Konjungsi adalah bila kedudukan bulan searah dengan matahari, pada saat itu bagian bulan yang menghadap bumi adalah bagian yang gelap sehingga kita tidak dapat melihat bulan bercahaya terlebih bulan dan matahari berkedudukan sejajar. Pada kondisi tertentu posisi konjungsi ini dapat menimbulkan terjadinya gerhana matahari.sudut elongasinya adalah 0o


Ø Kuadratur atau kuarter adalah kedudukan bulan tegak lurus terhadap garis penghubung bumi matahari pada pase ini bulan terlihat setengah(hanya setengah bagian bulan yang terang bila dilihat dari bumi). Pase bulan ini terjadi dua kali.sudut elongasinya 90o


Ø Oposisi yaitu kedudukan bulan yang berlawanan arah dengan matahari dilihat dari bumi. Pada posisi inilah bulan cahayanya penuh atau bulan tampak sebagi bulan purnama. Pada kondisi tertentu posisi oposisi ini dapat menimbulkan terjadinya gerhana bulan.sudut elongasinya adalah 180o .







Bab III Kesimpulan



Dari uraian diatas kami dapat menyimpulkan sebagai berikut:


ü Bulan(moon/luna) adalah benda langit yang tidak mempunyai sinar sendiri. Cahayanya yang tampak dari bumi sebenarnya merupakan sinar matahari yang dipantulkan olehnya. Dari hari ke hari bentuk dan ukuran cahaya bulan itu berubah-ubah sesuai dengan posisi bulan terhadap matahari dan bumi.


ü Fase-fase bulan dalam siklus meliputi muhaq, hilal awal bulan, tarbi’ awal, badr, tarbi’ sani, hilal akhir bulan.


ü Sudut elongasi bulan adalah sudut yang dibentuk oleh bumi-matahari dan bumi-bulan relative terhadap pengamat dibumi.


DAFTAR PUSTAKA



Azhari, Susiknan, Ensiklopedi Hisab Rukyah, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2008


Dyayadi, Alam Semesta Bertawaf, Yogyakarta: LIngkaran, 2008


Firdaus, Feris, Alam Semesta Yogyakarta: Insane Cita Press,2004


Harris Nicholas, atlas ruang angkasa (penerjemah: soni astranto), Jakarta: Erlangga, 2007


Jamil, A, Ilmu Falak ( Teori & Aplikasi), Jakarta: Amzah, 2009


Khazin, Muhyiddin, Ilmu Falak dalam Teori dan praktik, Yogyakarta: Buana Pustaka, 2004


Murtadho, Moh, Ilmu Falak Praktis, Malang:UIN Malang Press,2008


Maskufa, Ilmu, Falaq, Jakarta: Gaung Persada,2009


http://www.alexanderandthings.com


http://www.duniaastronomi.com







[1] www.duniaastronomi.com





[2] Nicholas Harris, Atlas Ruang Angkasa, Jakarta: Erlangga, 2007, hal 13





[3] Muhyiddin Khazin, Ilmu Falak dalam Teori dan Praktik, Yogyakarta: Buana Pustaka, 2004, hal 132.





[4] Moh Murtadho, Ilmu Falak Praktis, Malang:UIN Malang Press, 2008, hal 57





[5] Op.cit, hal 133





[6] Ibid, hal 134





[7] http://www.alexanderandthings.com





[8]Susiknan Azhari , Ensiklopedi Hisab Rukyah, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2008,hal 61




Janatun Firdaus

/janatunfirdaus

barang siapa yang tidak pernah mencicipi pahitnya mencari ilmu, maka akan merasakan pahitnya hidup.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?