Untuk Apa Menulis?

19 Maret 2012 14:34:17 Dibaca :

Jangan pernah anda menganggap bahwa menulis adalah pekerjaan sepele, remeh dan tidak bermanfaat. Sebab dari dahulu hingga kini menulis adalah pekerjaan yang paling spektakuler dan bermartabat. Mengapa demikian, sebab menulis memberikan manfaat yang luar biasa bagi kehidupan manusia, bagi peradaban. Menulis bisa merubah apapun saja. Merubah sejarah dan meluruskannya. Bahkan menulis mampu dijadikan tolok ukur besarnya suatu peradaban. Tidak ada membaca tanpa ada tulisan. Tidak ada tulisan tanpa adanya penulis yang menulis.


Oleh sebab besarnya manfaat menulis maka menulis harus dakui sebagai hal yang luar biasa hebat. Untuk itu sedikit saya sajikan beberapa manfaat yang ditimbulkan oleh kegiatan menulis baik untuk pribadi maupun orang lain, semoga semakin mencerahkan anda dan mampu melejitkan semangat anda untuk terus menulis.



1. Menulis untuk memperbaiki diri dan introspeksi


Saya merasa bersyukur dan beruntung, sebab pernah merasakan hidup di pesantren yang mempunyai habits menulis. Memiliki budaya menulis. Mempunyai Kiai yang berjiwa penulis. Kiai yang sangat produktif dan konsisten dalam menulis. Bahkan untuk menularkan habitsnya, beliau mewajibkan santri menulis buku sebagai tanda kelulusan.


Suatu saat saya pernah terlibat perbincangan dengan beliau perihal penulisan. Yang tentu saja redaksionalnya agak sedikit berbeda. “Terus terang untuk menulis buku-buku agamis seperti Anda, saya tidak mampu, sebab saya belum mampu untuk mengamalkannya secara utuh. mungkin saya akan menulis buku-buku yang sifatnya ringan seperti cerpen, novel atau tulisan apapun yang tidak terlalu menuntut pengamalan”.


Sejenak ia memandang saya, lantas Beliau berkata, “Begini, Jangan kamu kira dengan menulis perihal keikhlasan, ketakwaan, sabar dan tashawwuf serta hal yang semacam itu saya telah sepenuhnya menjalankan, telah mengamalkan seluruh penuh. Kamu keliru jika berpandangan demikian. Sebab bagi saya menulis adalah belajar mengamalkan, menjalankan apa-apa yang kita tulis. Jika saya menunggu mengamalkan dengan sempurna, maka tidak akan jadi buku sebanyak itu. Tidak akan tertransfer ilmu kepada pembaca dengan cepat. Memang idealnya sesuatu itu diamalkan baru diajarkan. Akan tetapi jika seorang dai menunggu mengamalkan dengan sempurna, maka dakwah akan berjalan pelan dan mandeg. Kita mengamalkan sesuatu itu berproses. Jadi yang saya lakukan adalah membaca, belajar, menyerap ilmu lalu menulis, sambil mengamalkan dan di tulis kembali.


Mendengar jawaban itu, saya baru sadar bahwa sejatinya menulis bisa dijadikan ajang untuk belajar memperbaiki diri dan introspeksi. Mengukur sejauh mana hal-hal yang telah dikerjakan dan belum. Dan Mengamalkan apa-apa yang telah kita tulis. Jadi menulis tidak harus menunggu amalan yang sempurna. Walaupun sebenarnya idealnya demikian. Tapi yang terpenting adalah menulis sambil mengamalkan.



2. Menulis Melatih Kepekaan


Menulis bisa melatih kepekaan. Suatu ketika penyair celurit emas D. Zawawi Imron pernah bercerita kepada saya. Beliau bercerita“Saya tadi dari Bojonegoro, terus mampir di Babat. Satu hal yang ingin saya lakukan, merasakan Wingko Babat di kota Babat”. Beliau juga pernah bercerita tentang seorang penjual sandal yang menawarkan daganganya di pelabuhan Tanjung Perak Surabaya dengan harga sepuluh ribu, lalu beliau menawarnya tujuh ribu dan jadilah kesepakatan haraga tujuh ribu rupiah. Sejenak beliau kasihan melihat penjual itu dan menyerahkan uang sepuluh ribu, seluruhnya tanpa kembalian. Tetapi pedagang asongan itu menolaknya. Dan tetap mengembalikan uang tiga ribu rupiah kepadanya. Satu lagi cerita dari beliau yang masih saya rekam dalam ingatan. Suatu ketika saat hendak sholat, beliau tidak menemukan tempat selain emperan toko di seberang jalan. Lalu Ia buka selembar koran untuk sajadah. Dia mulai tak biratul ihrom dan membaca Fatihah. Ketika saat rukuk dia melihat gambar perempuan cantik di sajadah korannya. Waktu itu ia bercerita sambil tertawa.


Ditangan D. Zawawi cerita di atas, yang seakan sepele dan remeh itu bisa menjadi tulisan yang bagus dan berbobot. Mampu memberikan inspirasi dan makna hidup. Maka, saya kira tepat apa yang dikatakan Tere Liye (Penulis Novel) bahwa ide itu tidak ada yang jelek, pada dasarnya ide sama, hanya saja yang membuat ia beda dan spesial ketika penulis melihat dari sudut pandang yang spesial. Kepekaan seperti ini tidak tidak datang dengan sendirinya. Ia hadir dari latihan menulis yang terus menerus. Dari pengalaman yang berjalan. Lahir dari merasakan, mengamati, mendengar dan dituliskan.



3. Menulis Sebagai Sarana Belajar


Ibarat sebuah pabrik, membaca adalah input dan outputnya adalah tulisan. Seorang penulis dituntut untuk cakap dalam segala hal, walaupun bukan suatu keharusan mutlak. Akan tetapi ini penting sebab dengan meningkatkan kualiatas pengetahuan, tulisan yang dihasilkan akan semakin berbobot dan bernilai. Belajar tidak harus dari buku. Bisa dari apapun saja termasuk internet, koran, halaqoh-halaqoh, forum diskusi, pengajian dan lain sebagainya.


Yang pasti belajar, terutama membaca adalah ujung tombak bagi penulis. Membaca berarti membedah cakrawala. Candela dunia. Maka sangat pantas dan tepat ayat pertama dalam Al-qur’an adalah Iqra. Ini pembelajaran dari Allah bahwa membaca adalah hal yang sangat penting dan utama.


Penulis-penulis besar adalah mereka yang menghabiskan waktunnya untuk membaca. Seperti halnya Gusdur, beliau adalah kutu buku bahkan pernah beliau berceloteh “Saya ini enggak punya pacar. Teman main saya cuma buku dan bola,” . Cak Nur, Jalaludin Rahmat, Goenawan Muhammad, Cak Nun dan hampir semua tokoh mempunyai daya baca yang luar biasa, sehingga mampu menelorkan tulisan dan pemikiran yang bermanfaat dan berbobot.


Perlu Anda ketahui sebagai pembelajaran, bahwa Sekolah sekolah di Jepang mewajibkan para siswa membaca selama 10 menit sebelum melakukan kegiatan belajar mengajar. Sampai sekarang ribuan buku asing, terutama dari Amerika dan Eropa telah diterjemahkan ke dalam bahasa Jepang. Mereka menimba ilmu pengetahuan dari membaca.


Kesuksesan anak sekolah dan mahasiswa di Jepang di bangun oleh karakter suka bekerja keras. Bagi orang Jepang kemauan untuk menderita dan berusaha keras menjadi nilai yang paling penting. Kerja keras mereka dimulai dengan membaca.



4. Menulis Akan memunculkan Ilmu Baru


Hal yang tidak anda sadari adalah menulis memunculkan ilmu baru. Sering kali kita tercengang jika membaca tulisan kita yang telah lalu. “kok bisa ya saya menulis seperti ini?”. Kekaguman ini sering di rasakan seorang penulis. Seakan ada ilham yang langsung dia dapat saat menulis, dan itu sering tidak disadari.


Yakinlah bahwa, sesuatu yang diulang-ulang, sesuatu yang dituliskan akan memunculkan ilmu yang baru yang tidak disangka-sangka.



5. Menulis Mencerahkan


Penulis buku “Ibunda” adalah teman saya. Buku itu sangat menyentuh dan bahkan mampu membuat salah seorang pembaca menangis dan menjadikannya lebih lagi mencintai ibunya. Seorang pembaca majalah Al-falah masuk Islam gara-gara membaca tulisan di dalam majalah itu. Apalagi tulisan-tulisan motivasi seperti tulisannya Andrie Wangso (Buku Bruce Lee 40 Spirit of Success), Darmadi Darmawangsa (Champion), Krisna Murti (Buku Share the Key) akan sangat mencerahkan dan mendorong semangat pembaca.


Tidak usah jauh-jauh, ratusan orang saya kira juga merasakan terpengaruh dan tercerahkan oleh tulisan-tulisan Prof. Ersis untuk membangkitkan semangat menulis. Dan mungkin anda adalah salah satu di antaranya.



6. Menulis Sebagai Ajang Pertemanan


Saya kira tak banyak penulis yang merasakan bahwa dengan menulis bisa dijadikan ajang pertemanan. Agus R. Sarjono adalah salah satu penyair kenamaan Indonesia. Lihatlah bagaimana ia menulis dan berbalas sajak dengan temannya yang juga seorang penyair asal Jerman, Martin Jankowski. Ketika Agus menciptakan puisi berjudul Berlin, misalnya, Martin membalasnya dengan puisi Jakarta. Saat Agus membuat puisi Percakapan di Depan Perapian, Martin merespons dengan membuat puisi serupa berjudul Percakapan di Tengah Macet Lalu Lintas Menteng. Begitu seterusnya.


Sangat indah dan mengagumkan. Budaya menulis sebagai ajang pertemanan ini terlihat juga di Group persahabatan menulis ini. Tak ketinggalan terlihat jelas di group tetangga BPSM (Bengkel Puisi Swadaya Mandiri). Bagaimana antar teman berbalas sajak, saling kritik, memberi masukan, dan saling memberikan kehangatan sebagai sahabat menulis.



Tentunya Anda juga ingin mendapatkan manfaat dari menulis, bukan? Semoga persembahan ini dapat membantu Anda untuk meraih manfaat itu, bukan bagi diri sendiri tetapi juga bagi orang lain.



Surabaya, 17 Maret 2012

Abdur Rahim

/izzuddinabdurrahim

Tumbuh diperbukitan, di pedalaman desa Kota Tuban, 28 tahun silam. Sebagai anak gembala, aku tak pernah mencicipi bangku kuliah dan sekolahku hanya Aliyah. Pendidikan terakhirku adalah mondok di Ma’had TeeBee Surabaya dengan program HBQC (Human Boarding Quantum and Competency), menekuni bidang jurnalistik dan tulis-menulis dengan berhidmad menjadi kru Majalah. Tahun 2008 menerbitkan buku filologi (Mbah Djabbar), Februari 2012 menulis Antologi Puisi “Senandung Alam” bersama Lembah Penyair, juga Antologi puisi “Aku dan Pelacur” bersama sanggar Gladakan. Selain itu saya juga menulis biografi (Kiai Abil Fadhol) dengan judul Buku “Syaikh Abil Fadhol: Sang Mutiara langit”. Satu-satunya prestasi yang paling kubanggakan sampai saat ini hanyalah, aku menjadi pemenang diantara jutaan sperma, maka lahirlah aku, Izzuddin Abdurrahim
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?