Iwan Nugroho
Iwan Nugroho Belajar Mengajar

Memulai dari hal kecil atau ringan, mengajar di Universitas Widyagama Malang. http://widyagama.ac.id/iwan-nugroho/

Selanjutnya

Tutup

Gayahidup

Pengalaman dengan Kartu Lebaran

11 Juli 2017   15:32 Diperbarui: 11 Juli 2017   17:29 538 0 0
Pengalaman dengan Kartu Lebaran
kartu lebaran (koleksi pribadi)

Saat masuk ke kantor hari pertama usai liburan lebaran, saya melihat setumpuk kartu lebaran di meja kerja.  Saya amati satu per satu kartu lebaran itu.  Kartu itu berasal dari para kolega, dari instansi lain.  Kartu-kartu itu semuanya dari instansi, dan tidak ada yang personal. Hal ini saya hadapi setidaknya sejak delapan tahun yang lalu, sebagai bagian dari memegang amanah jabatan. 

Kartu lebaran itu sebagian merupakan balasan, dari kartu yang sudah kami kirimkan saat sebelum libur lebaran.  Sebagian lain, kartu lebaran yang baru datang atau kami kenali, selanjutnya kami akan berikan balasan.  Mengelola kartu lebaran ini sudah hal rutin.  Rasanya tidak ada berubah.  Kantor kami biasanya mencetak khusus sejumlah tertentu untuk menyongsong momen Idul Fitri.

Pikiran tiba-tiba melayang ke masa usia belasan di awal tahun delapan puluhan.  Sejak dulu saya memang suka korespondensi, surat menyurat dan berhubungan dengan kantor pos  Saat menjelang momen Lebaran, pasti sudah sibuk berburu kartu Lebaran di Kantor Pos Besar Kebon Rojo di Surabaya, dimana saat itu saya tinggal.

Jaman saat itu, menjelang lebaran, suasana kantor pos sangat ramai.  Aktivitas kirim paket barang dan surat, menabung Tabanas, dan pensiunan ambil gaji menyatu.  Juga ada penukaran uang baru oleh perorangan di sekitar kantor pos, yang lokasinya berhadapan dengan kantor Bank Indonesia.  Ini masih ditambah menjamurnya penjual kartu lebaran.  Saya pun ikut berburu kartu lebaran, sekaligus membeli perangko. 

Saat itu saya masih usia SMP - SMA, uang saku dari orang tua juga terbatas.  Budget itu harus cukup untuk hobi korespondensi, termasuk kartu lebaran.  Selain membeli kartu lebaran, saya pun berkreasi membuat kartu lebaran dan amplopnya.  Saya juga memotong ujung kertas amplop kartu lebaran, sebagaimana surat yang terbuka, sehingga dapat diberi perangko lebih murah..he..he.  Inovasi, kreasi dan inisiatif khas anak-anak jaman saat itu.

Saya juga terima kartu lebaran dari teman atau kenalan.  Kartu lebaran menjadi media silaturahmi.  Saya juga mengenal pak Pos yang bertugas di wilayah perumahan kami.  Pak Pos seolah menjadi orang yang penting, yang saya tunggu-tunggu kedatangannya. Tidak lebih seminggu setelah lebaran, kartu lebaran mulai datang ke alamat rumah.  Perasaan senang bercampur haru menerima balasan atau kiriman kartu lebaran dari teman.

Sekarang..atau sejak lima tahun terakhir, saya tidak lagi berburu kartu lebaran.  Saya tidak pernah lagi kirim kartu lebaran, dan juga menerima kartu lebaran secara personal.  Kabarnya pembeli kartu lebaran di kantor pos juga sepi (1, 2).  Kartu lebaran sudah diganti fungsinya oleh gadget, khususnya oleh WA.  Kira-kira sepuluh tahun yang lalu saya menggunakan email untuk mengirim ucapan lebaran.  Email diberi link atau attached file jpg kartu lebaran. Sekarang ini saya lebih banyak mengirim ucapan lebaran mengandalkan WA atau terkadang sms.

Terakhir ini, ucapan lebaran tidak langsung saya berikan dalam bentuk permohonan maaf.  Pesan itu saya sampaikan dalam bentuk tulisan di blog, melalui kompasiana atau blog kampus.  Disini saya membuat tulisan tertentu, baik itu tentang puasa, cerita ibadah, lebaran atau pengalaman lain, mengikuti tag kompasiana seperti lebaran 2017, thr kompasiana atau cerita ramlan. Di akhir tulisan, sesuai momennya ucapan Idul Fitri menjadi penutup tulisan (3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 11).  Link tulisan itu kemudian saya kirim melalui WA, menyertai ucapan selamat Idul Fitri, kepada teman-teman dan kenalan.

Inilah konsekwensi perkembangan teknologi.  Teknologi telah merubah budaya silaturahmi, dari kartu lebaran lewat pos menjadi komunikasi lewat WA atau sms.

Selamat Idul Fitri 1438H.  Mohon Maaf Lahir dan Batin

Malang, 11 Juli 2017