HIGHLIGHT

Back to School, Back to Macet

18 Juli 2012 04:34:15 Dibaca :

Sudah tiga hari ini sejak anak sekolah kembali dari libur panjangnya jalan-jalan di poros Makassar kembali macet. Sudah tiga hari pula saya mesti berjuang sambil menghela nafas jengkel tiap kali melintasi jalan Perintis Kemerdekaan.

Ekor kemacetan mulai kelihatan pas didepan Carrefour Perintis dan berujung hingga depan Tugu Adipura, kendaraan hanya bisa merayap lambat, asap knalpot berkeliaran liar menteror kesehatan, beruntung karena masih ada jalan setapak di samping jalan beraspal. Jalan tersebut yang menjadi alternatif saya dan ratusan pengendara motor lainnya. Jalannya memang tidak bagus, mirip dengan jalanan di kampong saya padahal saya sedang berada di kota dunia bernama Makassar.

Sebelumnya selama sebulan saya bisa merasakan jalan perintis Kemerdekaan yang longgar dan bersahabat. Bahkan setiap pagi saya lewat, saya sering berpikir ada apa gerangan hingga jalan ini bebas macet, kemana semua kendaraan yang biasa memenuhi jalan perintis kemerdekaan !!! apa mereka semua menghilang di telan pesawat alien seperti dalam film-film Hollywood!!!

Bukan hanya factor Back to school yang menjadi penyebab macet tapi dimulainya kembali aktivitas kuliah mahasiswa dan munculnya anak-anak baru yang ingin melanjutkan kuliah di Makassar juga menjadi salah satu penyebab macet. Sekolah zaman sekarang memang beda dengan zaman saya dulu, sekarang hampir semua siswanya punya motor sendiri. Contohnya di dekat rumah saya di poros BTP yang jauh dari keramaian terdapat sekolah negeri SMU 21, ada ratusan motor yang parkir dihalaman parkir sekolah.

Belum termasuk dengan mahasiswa yang rata-rata juga punya motor. Bisa dibayangkan jika kombinasi pelajar plus mahasiswa punya hajat pagi-pagi ke sekolah dan kampus masing-masing maka yang terjadi kemacetan parah, dan tidak mau kalah karyawan yang mesti absen pagi-pagi berburu waktu hingga jalanan pun tidak sanggup menampung daya semuanya.

Lalu kemana peran pemerintah, persoalan macet sudah bisa diurai yang salah satu penyebabnya adalah anak sekolahan dan mahasiswa yang punya motor. Lalu kenapa pemerintah tidak segera menyiapkan perlengkapan berupa kendaraan massal seperti bus sekolah. Saya yakin orang tua lebih senang anak mereka naik bus dari pada harus membelikan motor cicilan, yang tiap gajian orang tua harus merelakan gaji mereka terpotong.

Parahnya karena belum ada jalan alternatif yang menopang jalan perintis kemerdekaan. Jalan lingkar belum ada tanda-tanda selesai, setidaknya saya dan pengendara yang lain masih bersiap untuk menderita di jalanan sampai akhir tahun 2012.

Selama 15 tahun tinggal di Makassar baru satu jalan baru yang di buat yaitu jalan Aroepala yang menghubungkan Jl. Hertasning dengan kabupaten Gowa. Sedangkan untuk penghubung dalam kota sama sekali belum ada kecuali jalan layang di Urip Sumohardjo dan pelebaran jalan di Poros pettarani dan perintis Kemerdekaan. Solusi mesti segera ditemukan, sehingga orang seperti kami tidak harusnya jengkel dan stress setiap harinya.

Salam

Indra Sastrawat

/islamrasional79.blogspot.com

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Wija to Luwu, Alumni Fak.Ekonomi & Bisnis-Unhas. Karyawan di Kalla transport, Owner d'Citizen Agency RO Takaful Indonesia. Sejak 30 Juli 2015 bermukim di Kota Minyak, Balikpapan.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?