Isharyanto Ciptowiyono
Isharyanto Ciptowiyono pegawai negeri

Pencari Pengetahuan

Selanjutnya

Tutup

Politik featured

Bachelet, Perempuan Presiden yang Peka Gender

11 Mei 2013   14:17 Diperbarui: 13 September 2017   11:03 241 0 0
Bachelet, Perempuan Presiden yang Peka Gender
Presiden Joko Widodo dan Presiden Chili Michelle Bachelet di Istana Merdeka, Jakarta, Jumat (12/5/2017). | Reuters/Darren Whiteside

“Saya seorang perempuan, pengikut sosialis, sudah bercerai, dan menganut agnostik.” Demikian dikatakan oleh Michelle Bachelet kepada penduduk Chile saat dia terpilih menjadi Presiden di negara yang dikenal taat kepada konservativisme, dominasi laki-laki, dan tradisi agama yang kuat. Dia mengeluarkan pernyataan itu sejak awal guna memperjelas posisinya. Selama menjadi Presiden Chile 4 tahun (2006-2010), dia melakukan kebijakan reformasi sosial yang tidak biasa, seperti meningkatkan derajat perempuan, dan orang miskin.

Terpilihnya Bachellet juga mencengangkan jika dilihat dari teori-teori partisipasi politik perempuan, lebih-lebih yang menduduki jabatan eksekutif tertinggi. Farida Jalalzai, yang mendalami kajian lintas negara mengenai akses perempuan dalam jabatan eksekutif, menyatakan bahwa perempuan nampaknya mencapai posisi jabatan tertinggi saat jabatan itu dalam posisi powerless dan terjadi saat negara mengalami situasi krisis. Dia juga menemukan bahwa di Amerika Latin, tak pernah ada perempuan yang menjadi Presiden tanpa terikat kepada politisi laki-laki. Fakta mengenai Bachellete menggagalkan kedua anggapan tersebut. 

Presiden Chile adalah jabatan paling berkuasa di kawasan tersebut dan negara ini dikenal mempunyai kestabilan politik dan ekonomi yang tinggi dibandingkan negara tetangganya. Bachellet juga bukan isteri, janda, atau anak perempuan dari politisi laki-laki di masa lalu. Partisipasi formal Bachellet dalam pemerintahan selama 6 tahun (sebelum Presiden ia adalah Menteri Kesehatan dan kemudian Menteri Pertahanan, satu-satunya perempuan yang menduduki jabatan itu di Amerika Latin, dalam kabinet Presiden Richardo Lugos, 2000-2006), dicapai sekalipun ada cap “pendatang baru” baginya, dan lebih-lebih sekalipun terlibat dalam pemerintahan yang terlibat koalisi, Bachellet bukanlah elit yang menentukan dalam koalisi tersebut.

Sejak awal pencalonan di tahun 2005, kandidasi Bachellet sudah memancing perhatian yang tinggi, yang menjadikannya memperoleh keuntungan khusus sehubungan dengan posisi gendernya sekaligus kerugian akan penampilan seorang calon Presiden perempuan. Sejak mengalami transisi ke demokrasi pada 1990-an, proses pelibatan perempuan dalam pemerintahan berjalan lambat. Partai beraliran kiri tengah, Coalition of Parties for Democracy memenangkan setiap tahapan pemilu, dari tingkat lokal hingga kepresidenan, yang membantu memulihkan demokrasi. Sejak saat itu, sistem ekonomi dan politik Chile menjadi paling stabil di kawasan Amerika Latin.

Kestabilan tersebut, hingga tahun 2005 telah memunculkan kritik. Pertama,ketidaksepakatan internal mengenai koalisi dan tawar menawar dengan kalangan oposisi diliputi kecemasan menghadapi tekanan yang luas, mengenai isu controversial, termasuk ketimpangan sosial dan ekonomi, penyelidikan pelanggaran HAM di masa kediktatoran Pinochet, dan diskriminasi gender. Kedua,elit politik semakin jauh dari rakyat dan kunci pengambilan keputusan diambil menurut negosiasi elit dibandingkan perdebatan publik. Ketiga,tetap bertahannya komposisi Konggres dan kabinet oleh wajah-wajah lama, membuat wajah baru absen dari koalisi pemerintahan.

Model politik Chile itu mengakibatkan berbagai kelompok sosial tidak dapat memenuhi perkembangan sosial dan ekonomi dan cenderung frustasi dengan lambannya perubahan sosial. Keterwakilan perempuan meurpakan salah satu kelompok sosial itu, dan Bachelet jelas menjadi target tidak realistis dari kalangan pemilih perempuan. Ketimpangan gender di Chile tidak hanya berakar dari institusi formal seperti hukum keluarga saja, tetapi juga perilaku sosial untuk menentukan peranan yang tepat bagi kalangan perempuan. 

Suatu jajak pendapat tahun 1995 menghasilkan suara bahwa sebanyak 89% responden menilai tepat jika seorang perempuan bekerja, tetapi di saat yang sama lebih dari 54% mendukung peran perempuan dalam rumah tangga untuk mengasuh anak. Hanya 33% yang meyakini bahwa laki-laki dan perempuan mempunyai kesempatan yang sama untuk menjadi calon Presiden. Perubahan besar terjadi di era berikutnya, tergambar antara lain dari survey yang dilakukan oleh Latinbarometer, saat hanya 26% yang menyetujui bahwa hanya laki-laki yang pantas menjadi pemimpin politik.

Dalam konfigurasi politik dan relasi gender seperti itu maka pencalonan Bachelet menjadi pantas untuk dihargai. Ia berhadapan dengan Joaquin Lavin (Independen Democratic Union, yang bercorak konservatif) dan Sebastian Pinera (the National Renovation Party,yang bercorak moderat-kanan). Segera saja Bachelet menghadapi tuntutan masyarakat yang terbelah. Ada satu kelompok masyarakat yang menghendaki pemerintahan tetap dilakukan oleh koalisi pemerintahan, yang lainnya menolak karena sistem lama memperlebar jarak antara elit dan masyarakat. Bachelet pun menghadapi sanggahan publik soal kemampuannya sebagai pemimpin politik, sementara pendukung lainnya mengutamakan kompetensi.

Akhirnya, Bachellet memenangkan pemilu dalam putaran kedua dengan 53,5% suara. Dukungan suara perempuan meningkat menjadi 53,3% dan berhasil juga mempertahanka basis pemilih koalisi dengan 53,7% suara pemilih laki-laki. Suara pemilih perempuan umumnya berasal dari remaja dan kelas pekerja.

Bachelet lahir di Santiago tahun 1951. Ibunya. Angela Jeria Gomez, seorang sarjana arkeologisdan ayahnya Alberto Bachelet Martinez adalah seorang perwira angkatan udara. Sejak mahasiswa menjadi pemimpin politik di masa pemerintahan Salvador Allende (1970-1973) dan aktif di Perkumpulan Pemuda Sosialis. Dia menamatkan SMA tahun 1970 dan kemudian mengikuti kuliah kedokteran di Universitas Chile.

Bachelet sedang di kampus, saat militer membombardir Istana Kepresidenan untuk menggulingkan Presiden Salvador Allende yang terpilih secara demokratis (mengenai kisah penggulingan ini, lihat tulisan saya di blog ini, Presiden yang Tewas di Istananya). Kudeta itu menghantarkan Jenderal Augosta Pinochet menjadi Presiden. Sang ayah, yang merupakan perwira berpikiran liberal, ditangkap dan dijebloskan ke penjara dengan tuduhan penyuapan. Ayahnya disiksa dalam tahanan dan meninggal dunia 6 bulan kemudian. 

Bachelet dan ibunya juga ditahan di tahun 1975, tetapi dibebaskan beberapa minggu kemudian. Ibu dan anak ini kemudian ke Australia untuk  bergabung dengan saudara Bachelet, Alberto. Setelah itu mereka tinggal di Jerman, di mana Bachelet mengambil kuliah bahasa Jerman di Leipzig, dan sesudah itu ke sekolah kedokteran di Humboldt University, di Berlin.

Di Jerman, ia bertemu dengan seorang arsitek bernama Jorge Davalos, yang juga pria yang mengasingkan diri dari Chile, lalu mereka menikah. Tak lama kemudian mereka bercerai dan kedua anak mereka (Sebastian dan Fransisca) dibawa Bachelet ke Chile. Di tanah airnya ini Bachelet berhasil merampungkan studi kedokteran dan spesialisasi sebagai dokter bedah. Dia mencoba bekerja di sektor kesehatan publik tetapi ditolak pemerintah dengan alasan politik.

Sesudah Chile mengalami transisi ke demokrasi (1990), negara ini membutuhkan banyak tenaga kesehatan karena selama kediktatoran Pinochet sektor ini diabaikan. Kesempatan ini menjadikan Bachelet dapat bekerja di Pusat Pelayanan Kesehatan di Santiago. Pada tahun 1994, Presiden Eduardo Frei menunjuknya sebagai staf ahli Kementerian Kesehatan. Tahun 1998, ia merampungkan studi pertahanan di Washington D.C dan kemudian kembali ke Chile. Dia ditempatkan sebagai staf ahli Kementerian Pertahanan.

Presiden Richardo Lugos yang terpilih tahun 2000 menunjuk Bachelet sebagai Menteri Kesehatan mengingat kapasitas dan pengetahuan yang dimilikinya. Ia diminta fokus ke perbaikan sistem kesehatan dasar.  Tahun 2002, Lugos melakukan reshuffle dan menggeser Bachelet menjadi Menteri Pertahanan. Selama bertugas di kementerian ini, doa membuat perubahan penting sehubungan dengan dinas kemiliteran. Dia menjalankan modernisasi militer dan membuka kesetaraan laki-laki dan perempuan dalam karir militer. Tahun 2004, dia menjadi figur politik yang sangat populer di Chile, dan kemudian mengundurkan diri untuk mempersiapkan pencalonan sebagai presiden di tahun 2006.

Selama menjadi Presiden, kesetaraan gender menjadi isu utama dalam pemerintahannya. Dia memfokuskan kebijakan pada kesejahteraan sosial dan mempermudah kesempatan kerja bagi perempuan.  Dia mengesahkan Undang-Undang larangan kekerasan seksual dalam dunia pekerjaan. Sosoknya dikenal sebagai perempuan dengan pencapaian besar. Setelah masa jabatan berakhir di 2010-konstitusi Chile melarang Presiden menjabat dua periode berturut-turut—dia meninggalkan jabatan itu dengan tingkat popularitas mencapai 84%. Tak lama kemudian, dia ditunjuk menjadi Asisten Sekretaris Jenderal PBB untuk Gender Equality and the Empowerment of Women.