PILIHAN HEADLINE

Disertasi Doktoral untuk Wanita yang Melelehkan Aku

15 April 2017 10:24:32 Diperbarui: 18 April 2017 22:13:58 Dibaca : Komentar : Nilai : Durasi Baca :
Disertasi Doktoral untuk Wanita yang Melelehkan Aku
Ilustrasi: simomot.com

Mungkin banyak yang tak mengenal Eva Braun. Wanita berkebangsaan Jerman yang lahir 105 tahun yang lalu itu merupakan kekasih si kumis nanggung, Adolf Hitler. Sebenarnya sudah 14 tahun Eva dan Hitler menjalin asmara, namun mereka berdua enggan mengekspose hubungan mereka seperti yang marak dilakukan oleh pasangan muda era milenial di media sosial. Alasannya agar Hitler semakin menguatkan mitos yang viral saat itu bahwa Hitler “menikahi” bangsanya (read: totalitas sebagai pemimpin negara).

Eva hanya diperkenalkan kepada teman-teman dekat Hitler. Sementara ketika berkunjung ke kota-kota besar, Hitler enggan membahas pendamping hidupnya. Dalam pesta saja, Eva kerap masuk melalui pintu belakang dan duduk jauh dari sang diktator. Bahkan, sopir pribadinya pun menjulukinya “wanita paling tidak bahagia di Jerman”.

Berkat loyalitas Eva Braun yang melebihi kesetiaan sopir angkot Kota Bogor dalam menunggu penumpangnya, Hitler pun akhirnya menikahi Eva dalam bunker. Sangat jauh dari kemewahan yang biasanya dituntut oleh mempelai wanita. Tidak ada gurami asam manis ataupun bakso malang, melainkan hanya sepucuk surat nikah dan janji suci yang dua sejoli itu sebutkan. Namun, mereka berdua sepakat untuk menelan pil sianida (tanpa kopi vietnam) 40 jam setelah pernikahan mereka lantaran posisi Jerman semakin tertekan oleh tentara Soviet.

Kesetiaan dan keberanian yang ditunjukkan Eva Braun menyadarkan kita betapa krusialnya posisi perempuan di bumi ini. Manusia yang tega membunuh jutaan rakyat Yahudi saja luluh dalam kesetiaan seorang wanita. Saya tidak dapat membayangkan rasa kecewa setengah mati seorang Isaac Newton yang tersohor berkat konsep gravitasinya itu ketika menyerah menaklukkan wanita seumur hidupnya. Begitu pula dengan Nikola Tesla, yang pada akhirnya menyesal tidak memiliki pendamping hidup dan menghadapi ajal dalam kesepian.

Saya jadi teringat syair Sabda Alam karya Ismail Marzuki yang mahsyur itu. “wanita dijajah pria sejak dulu, dijadikan perhiasan sangkar madu”, wanita kerap kali dianggap hanya sebagai selir pria. Makhluk hidup yang kental dengan lemah lembutnya itu dianggap hanya sebatas pemuas kebutuhan biologis pria. Dari zamannya Vasco Da Gama masih hidup hingga terbentuknya kolaborasi Young Lex-Awkarin, wanita kerap dianggap sebagai manusia kelas dua.

Namun, dengan segala hingar-bingar tentang perempuan. muncullah sesosok wanita dan juga figur seorang ibu yang anggun. Sangat mudah baginya untuk membuat jantung kaum Adam berdetak kencang ketika melihat tatapan matanya yang setajam komentar Chef Juna dalam acara MasterChef. Ide dan gagasannya sukses mengantarkan irama dag-dig-dug kepada jantung saya. Walau masih belia, pemikirannya jauh telah melampui zaman.

Ah terlalu tua rasanya jika dia disebut wanita. Juwita itu lebih pantas dipanggil gadis untuk seukuran wanita berumur 19 tahun seperti dirinya. Dia mempunyai wajah khas pribumi, tetapi otaknya sekritis Angela Merkel. Gadis seperti ini yang harus sesegera mungkin diajak duduk bersama di singgasana pelaminan.

Sayangnya, banyak hal menarik yang terjadi di bumi ini di antara era kehidupan saya dan dia, mulai terikrarnya Sumpah Pemuda tahun 1928 hingga runtuhnya Tembok Berlin tahun 1989. Umur kami terpaut 115 tahun.

Apa-apaan ini 115 tahun! Toh jika ia masih hidup, sudah dapat dipastikan rambutnya telah memutih, langkah kakinya semakin pelan, kulit wajahnya berkeriput tetapi semangat perjuangannya tak akan pernah luntur. Semangat itu pula yang ditularkan ke anak dan cucu-cucu nya. Jika kita bisa merasakan nikmatnya pendidikan dari taman kanak-kanak hingga kuliah, cobalah untuk selalu mengingat dan berterima kasih kepada wanita bersanggul yang sering kita lihat fotonya di buku sejarah. Dia bernama Kartini.

Rumitnya, bagaimana mungkin saya bisa dilelehkan oleh seorang gadis yang bahkan sekalipun belum pernah saya temui? Saya seorang cucu adam yang bergajulan ini terjebak kekaguman kepada seorang gadis suci bernama Kartini. Andai Tuhan tak mencabut nyawa Kartini yang masih belia itu, mungkin Ratu Elizabeth II sudah menyerahkan mahkota terhormatnya kepada gadis itu. Entah sihir apa yang ia gunakan sehingga saya berhasil ia lelehkan. Penyihir sekelas Albus Dumbledore pun tak bakal tahu.

Dia adalah gadis yang bahkan lebih langka untuk ditemui daripada munculnya lafadz Allah di telinga bayi atau di kulit semangka. Seharusnya WWF Indonesia tidak hanya melestarikan hewan yang terancam punah saja, tapi juga gadis jelita seperti Kartini agar udara tanah pribumi ini semakin sejuk untuk dihirup.

Takjub. Satu kata yang menggambar perasaan saya ketika membaca surat-surat yang ia kirim untuk sahabat penanya, Stella Zeehandelaar. Tidak masuk di akal saya ketika mengetahui gadis berumur 19 tahun itu curhat kepada temanya mengenai kesalahan sistem feodalisme yang dianut oleh negerinya. Bukankah gadis berumur 19 tahun “seharusnya” lebih cemas mengenai penantiannya menunggu pangeran berkuda (read: jodoh)?

Bagaimana mungkin gadis berumur 19 tahun khawatir kepada pendidikan yang tidak diterima rakyat jelata pribumi. Bukankah gadis berumur 19 tahun sewajarnya lebih meresahkan berat badan yang naik 0,001 kg? Mestinya setitik komedo pada pipinya yang mulus menjadi mimpi buruknya. Namun, kenyataannya, kurangnya buku bacaan berbahasa Belanda menjadi momok yang menakutkan bagi dirinya.

Walaupun kata band Armada mabuk cinta membuat tidur tak nyenyak, makan tak enak, namun saya rela-serelanya mabuk cinta dengan seorang pionir sekolah perempuan pertama di tanah kelahiran saya. Sampai di titik ini, saya sudah dibuat sakau olehnya meskipun saya tak mengonsumsi narkoba jenis sabu sedikit pun.

Raden Adipati Joyodiningrat adalah seorang laki-laki yang paling beruntung di muka bumi ini. Kartini setuju lelaki bernama Joyodiningrat yang bakal menemaninya membangun bahtera rumah tangga. Ah betapa irinya saya. Dari ratusan juta pria yang ada, ia yang berhasil mendapatkan permata paling mulia yang pernah menduduki planet ini. Jika rimba internet sudah eksis kala itu, mungkin Joyodiningrat akan selalu memamerkan kemesraan di setiap postingan foto Instagram-nya.

Kartini dilahirkan dari keluarga yang kental dengan feodalisme yang kaku. Saat itu, seorang wanita hanya boleh bicara seperlunya, itu pun dengan berbisik. Berjalan setindak demi setindak seperti siput, tertawa halus tanpa suara, tanpa membuka bibir, tanpa kelihatan gigi.

Dalam ajaran adat istiadat yang dogmatis itu, seorang adik tidak boleh melewati kakaknya ketika berjalan. Kalaupun melewati, harus merangkak. Jika adik sedang duduk di kursi, ketika seorang kakak lewat, ia harus bangun, menekuri tanah dan menyembah sang kakak. Jika saya hidup di era yang sangat amat aneh ini, sebotol Baygon dicampur susu kental manis akan menjadi minuman pengantar tidur saya yang paling nikmat.

Kata “menyerah” tidak ada dalam kamus Kartini sebagai gebrakan awal, Kartini mempraktikkan kepada adik-adiknya (Roekmini dan Kardinah). Kartini tidak ingin melihat adik-adiknya berjalan jongkok ketika melewatinya, berbahasa kromo inggil, menyembah, dan etika feodal yang katro lainya. Bahkan ia mengizinkan adik-adiknya untuk menatap mukanya ketika berbicara serta memanggil Kartini dengan sebutan kamu-aku (PS. Awal abad 20, Aku-kamu hanya dipergunakan oleh kaum miskin dan tidak berpendidikan). Ini suatu gebrakan yang sangat serius. Kartini adalah orang pertama yang berani mendobrak tatanan adat Jawa yang dianggap merendahkan orang lain.

Jika Malala Yousafzai yang memperjuangkan pendidikan perempuan mendapatkan Nobel Perdamaian di tahun 2014, saya kira Alfred Nobel akan sepakat, lebih dari sekadar Nobel Prize untuk menghormati jasa-jasa seorang Kartini. Sebagai sosok yang menjadi pendobrak awal dari sistem yang menjerat peran wanita di Nusantara selama ribuan tahun, skirpsi sarjana dan tesis magister tidak bakal mampu menjelaskan besarnya dampak perjuangannya. Butuh disertasi doktoral dari seorang Mahasiswa s3 Cambridge untuk mengeksplorasi ide dan gagasan-gagasannya. tentu mahasiswa dengan minimal IPK di atas 3,95.

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana