PILIHAN HEADLINE

Budayakan untuk Tidak Bertanya "Kapan Nikah?"

09 Mei 2017 08:01:44 Diperbarui: 09 Mei 2017 17:29:56 Dibaca : Komentar : Nilai : Durasi Baca :
Budayakan untuk Tidak Bertanya "Kapan Nikah?"
ilustrasi: www.pexels.com

Jika kamu pernah merasakan serunya bermain Tamagotchi bersama teman-temanmu sepulang sekolah atau kamu pernah berandai-andai menjadi Pedro dalam telenovela Amigos X Siempre atau setidaknya kamu merasa familiar dengan grup Trio Kwek-Kwek, permen karet Yosan, hingga kompetisi Akademi Fantasy Indosiar, saya ucapkan selamat! Berarti sekarang kamu berada di masa-masa di mana rumahmu dibanjiri undangan nikahan dari teman-temanmu, mulai teman main petasan selesai shalat Tarawih hingga teman main kelereng di halaman sekolah.

Saya berani menebak sekarang kamu berumur 20-an. Wajar aja sih umur 20-an ya berarti kamu harus siap secara fisik dan psikis untuk menerima undangan pernikahan konco-koncomu itu. Gak cuma rumahmu doang sih yang diserbu undangan, tapi juga media sosialmu, handphone-mu, hingga menyerang pusat syaraf pada otakmu yang membuatmu kehilangan kewarasan saking banyaknya menanggung beban.

Akhir-akhir ini, ketika saya sedang asiknya berselancar di internet, saya menemukan hal yang rada nyentrik. Keunikan itu berasal dari sebuah petisi di Change.org. Normalnya petisi itu berisi protes atau pernyataan yang disampaikan kepada pemerintah mengenai suatu hal yang dianggap keliru. Namun, petisi ini berisi ajakan untuk “stop bertanya kapan nikah?” Nyentrik banget, kan? Tapi petisi ini juga memiliki pesan kuat yang dapat mengerutkan dahi dan dakimu. Di sana tertulis:

“karena budaya bertanya “kapan nikah?” menyimpulkan seolah-olah pencapaian paling tinggi dalam hidup manusia adalah menikah”

Ugh dalem juga ya alasan si penulis petisi. Sadar ga sih alasan-alasan yang bikin kita males banget pulang kampung saat lebaran itu bukan karena kampung kita jelek atau karena gak ada sinyal di kampung kita, tapi karena malesnya kita menjawab pertanyaan paling mainstream saat kumpul keluarga besar yaitu, “kapan nikah?”

Budaya di Indonesia yang menjurus konservatif membuat pernikahan pun sangat diagung-agungkan. Sehingga munculnya sebuah pertanyaan yang tampak sopan dan ramah didengar, namun cukup menusuk bagi remaja-remaja yang belum memikirkan untuk menikah. Seakan keinginan untuk melanjutkan pendidikan di luar negeri, atau berbisnis kuliner di ibu kota hanya buang-buang waktu dan stratanya masih di bawah mereka yang ingin menikah.

Pertanyaan “kapan nikah?” seolah-olah membuat pernikahan itu ibarat lomba balap karung. Gak peduli seberapa sering kamu terjatuh, yang penting kamu bisa mencapai finish lebih dulu dibanding pesaing-pesaingmu. Pernikahan itu persoalan jangka panjang kamu dengan pasanganmu, bukan masalah cepat-cepatan dan saling sikut untuk naik ke pelaminan.

Karena tekanan dari berbagai sudut (keluarga, teman, medsos), ada yang tak kuat dan memilih lewat jalur perjodohan yang notabene tidak dilandaskan atas cinta namun gengsi. Pernikahan dini pun menjadi pilihan pemuda-pemudi untuk menghilangkan tekanan budaya bertanya kapan nikah. Biasanya (sekali lagi baca: biasanya) pernikahan dini berakhir dengan berhenti bersekolah/kuliah, kekerasan, dan penceraian yang tak lain korbannya adalah perempuan.

Jangan harap Indonesia menjadi negara yang maju (loh kok ini bawa-bawa negara?) sebab sebuah negara yang maju dari segi politik, ekonomi, dan pendidikan adalah berkat andil besar dari perempuan. Buktinya bisa dilihat dari serentetan nama yang ada dalam buku sejarahmu sewaktu SD, mulai Cut Nyak Dhien hingga Dewi Sartika. Kalo zaman sekarang ada nama Bu Sri Mulyani yang terdepan.

Jika kondisi perempuan kita dicekoki pertanyaan “kapan nikah?” terus-terusan setiap kumpul keluarga, ya dijamin pikirannya gak jauh-jauh dari khayalan pangeran berkuda berbadan tegap berambut klimis yang membawa cincin berlian 33,39 karat.

Gak jarang kita biasa mendengar wanita tanggung berumur 20 tahun berucap, “Aduh ribet banget nih bikin skripsi, mending nikah aja lah” Emangnya dengan menikah, otomatis skripsimu yang masih bab 1 itu bisa selesai dengan sendirinya?

Selama ini campur tangan tradisi dan budaya begitu kuat mengakar. Salah satunya perihal perkawinan. apa lagi jika kamu berasal daerah ketimuran. Biasanya selepas pertanyaan “kapan nikah?” akan menyusul pertanyaan-pertanyaan membabi-buta lainnya. Setelah menikah akan menyusul pertanyaan “kapan punya anak?”. Setelah punya anak menyusul pertanyaan “kapan punya cucu?” gitu aja terus sampe Young Lex punya album ke-28.

Menurut analisisku secara ilmiah (gak ilmiah juga sih), pertanyaan-pertanyaan kapan nikah dan kapan-kapan yang lainNya itu sudah melewati batas privasi. Gak semua orang senang menceritakan privasi-privasinya ke khalayak. Bagi mereka, privasi yang boleh tahu hanya mereka. Urusan asmara, pasangan, ranjang, dan ena-ena yang lain itu termasuk lahan privasi dan kamu jangan sekali-kali mencoba menginjaknya.

Nah, sekarang sudah saatnya kita meruntuhkan budaya yang ortodoks itu. Tidak hanya mental yang direvolusi seperti yang digadang-gadang Jokowi, tapi juga revolusi budaya. Langkah konkretnya dimulai dari dirimu sendiri untuk mencoba berhenti menanyakan kapan nikah, kapan nyusul, kapan kawin, dan lain-lainnya.

Coba beri pertanyaan yang membangkitkan motivasi si penjawab, seperti kapan lanjut kuliah, kapan nih naik jabatan, kapan kamu berkarya di luar negeri. Pertanyaan-pertanyaan seperti ini sebenarnya sama bikin paniknya sih, seenggaknya pertanyaan itu masih batas wajar walaupun selevel pertanyaan basa-basi. Justru kita memberi dorongan motivasi kepada si penjawab untuk lebih berprestasi lagi.

Sebagai generasi muda, kita harus mengubah budaya-budaya kuno dan mengubahnya menjadi budaya yang profitable. Jadi, mari kita melatih gimik bibir seksi kita untuk berhenti bertanya “kapan nikah?”.

Notes: Tulisan ini yang sebagian besarnya adalah nyinyiran saya kepada orang-orang yang seenak jidatnya bertanya tentang hal-hal berbau privasi ini tidak bermaksud melarang pernikahan dini, soalnya biasanya tulisan-tulisan dengan embel-embel pernikahan akan sering dilawan dengan nilai-nilai keagamaan. Maka dari itu, saya sebagai umat beragama (tapi jarang beribadah) mengklarifikasi tulisan ini pure guyonan saja dan jangan dimasukkan ke hati. HIDUP MAHASISWA!

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana