Muhammad Isa Dwijatmoko
Muhammad Isa Dwijatmoko

follow @muhammadisad | Food Science and Technology (@itpuns2011) | Himpunan Mahasiswa Teknologi Pertanian (HIMAGHITA) (@ITP11MARET ) | Indonesian Student Movement for National Food Security (@HMPPI) | Traveller | Writer

Selanjutnya

Tutup

Kuliner

Padi Hitam, bedanya apa dengan padi biasa?

31 Januari 2014   08:17 Diperbarui: 24 Juni 2015   02:18 1184 0 0

Padi hitam (Oryza sativa L.) menjadi salah satu kekayaan plasma nutfah Indonesia perlu dibudayakan. Padi hitam kaya akan antosianin. Antosianin adalah zat warna alami dengan kemampuan sebagai antioksidan yang dapat menurunkan kadar kolesterol. Tingginya kadar kolesterol dalam menimbulkan berbagai penyakit. Padi hitam juga mampu hidup di tanah yang kering, menurut penelitian padi hitam dengan sedikit kandungan air dalam tanah dapat meningkatkan antosianin, namun produktivitasnya cenderung menurun. Walaupun demikian tetap dapat meningkatkan nilai ekonomis di lahan kering, serta sebagai alternatif sumber pangan lain selain beras putih.

Beras hitam memiliki nama yang berbeda – beda tergantung dimana beras hitam itu berada. Di solo, dikenal dengan nama Beras Wulung, di Sleman dengan nama Cempo Ireng atau Beras Jitheng, di Bantul disebut Beras Melik dan di Cibeusi Subang, disebut Beras Gadog. Konon, hanya petani istimewa saja yang ditunjuk untuk menanam beras ini. Orang China kunu juga mengenal beras hitam ini sebagai beras terlarang, artinya tidak boleh sembarang orang dapat memakannya, hanya kalangan istana dan prang tertentu saja yang boleh memakannya, karena kaya nutrisi yang terdapat di berashitam. Beras hitam di China berfungsi sebagai obat dan bahan pangan, tetapi hampir punah dan sangat langka keberadaanya.

Menurut Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO), beras hitam memiliki kandungan protein lebih tinggi daripada beras putih, merah, ungu, dan coklat, yakni 8,5 gram per 100 gram beras. Kandungan seratnya tertinggi dibandingkan jenis lainnya. Adapun kandungan besinya lebih tinggi daripada beras putih, tetapi sedikit di bawah beras merah dan ungu.

Menurut Edi yang juga ketua Tim Penelitian Keragaman Plasma Nutfah Padi Hitam UNS Solo, penelitian padi hitam masih sangat jarang sekali. Karena itu, keragaman jenis, sifat, kandungan nutrisi, budidaya padi hitam, dan aspek lainnya masih belum diketahui. Ia juga mencontohkan selama ini, padi hitam dikenal mempunyai masa tanam panjang, yakni selama enam bulan. Ternyata, ada jenis padi yang bisa panen di usia empat bulan. Budidaya diperlukan untuk mencari peluang memperpendek usia tanam sehingga lebih menarik bagi petani. Permintaan pasar akan beras hitam ini juga meningkat, tentu akan memotivasi para petani untuk menanamnya. Peneliti Kristamtini dari Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Yogyakarta siap bekerjasama apabila diperlukan.

Sumber:

kompas cetak Rabu, 29 Januari 2014

http://www.litbang.deptan.go.id/berita/one/871/