Mohon tunggu...
Irwan Bajang
Irwan Bajang Mohon Tunggu... Penulis, Editor, Konsultan Perbukuan, -

Penulis, Blogger, Konsultan Perbukuan. Juga Tukang Masak. Pendiri @Indiebookcorner

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Kisah Ibu Sayur dan 10.000 Buku yang Harus Ia Lepaskan

2 Oktober 2015   07:43 Diperbarui: 2 Oktober 2015   12:32 2487
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Saya punya langganan seorang penjual sayur dekat rumah. Sudah sekitar tiga tahun saya belanja di warungnya. Sejak ia masih berjualan di emperan sebuah ruko, sejak ia hamil besar dan hingga kini ia berjualan di rumahnya. Anaknya juga sudah besar, sudah bisa berjalan dan bicara. Namanya Bu Yani, ia adalah sosok penjual sayur yang rajin dan ramah, tak jarang kalau sedang belanja, saya terjebak di antara ibu-ibu yang sedang belanja sayur di sana. Sebagai laki-laki kadang saya agak rikuh. Apa daya, dapur harus tetap ngebul biar saya bisa bermain dan memasak. Maklum, waktu awal berlangganan, saya hanya hidup dengan kucing-kucing di rumah.

Bu Yani sempat bertanya pekerjaan saya apa. Mungkin karena saya kelihatan selo sekali, belanja kadang agak siang, kadang juga sore atau malam. Ia heran, kok ada pengangguran yang rajin beli sayur di tempatnya. Ketika saya jawab pekerjaan saya penulis, dia tampak terkesima. Lalu ia bercerita tentang hobinya membaca, koleksi bukunya dan bagaimana ia mendidik anaknya untuk suka juga membaca. Rupanya dia punya cerita yang panjang tentang dunia yang saya geluti. Bu Yani punya lebih dari 10.000 koleksi buku di rumahnya. Ia sempat membuat sebuah persewaan buku di Jogja. Karena sering berpindah rumah, kini usaha persewaan bukunya tidak berjalan lagi. Kini buku-buku tersebut tersimpan rapi di ruang tengahnya. Ruang tengahnya sudah serupa perpustakaan di mana anak-anaknya bermain.

Beberapa bulan belakangan kami selalu belanja di tukang sayur keliling, dan jarang belanja di tukang sayur langganan kami ini. Hingga beberapa hari yang lalu, saya dan istri mampir belanja lagi untuk menjamu teman-teman yang datang ke rumah dan berencana bikin acara makan malam bareng.

Sambil beramah-tamah, ia bercerita tentang sebuah kejadian yang baru saja menimpanya beberapa bulan belakangan ini. Sebuah kejadian tidak mengenakkan membuat dia harus memutar otak untuk segera menuntaskannya. Kini suaminya terpaksa ke Jakarta dan harus tetap di sana untuk bekerja, sebuah kejadian memaksa suaminya tidak bisa pulang dan harus bekerja ekstra untuk seseorang. Anaknya yang baru tamat SMA terpaksa bekerja keras membantu sang ibu. Ia juga bercerita bagaimana mobil pikap yang kadang dia pakai untuk menjemput ikan di Semarang sudah dijual. Kini Bu Yani harus belanja ke pasar sendirian di pagi buta, menggendong hampir satu kwintal sayur, sambil menggendong juga dua anaknya yang masih kecil bersamaan. Di pagi yang dingin ia harus menyusuri jalan dari pasar ke rumanya dengan beban gendongan seberat itu.

Mendengar cerita sedih, saya selalu tak kuasa menahan haru. Apa lagi Bu Yani tampak menahan air mata sambil bercerita. Berhadapan dengan wanita yang menanggung beban dan kesedihan, saya tidak bisa kuat, saya memilih masuk saja ke ruang tengah dan melihat buku. Ceritanya memang sedih dan cenderung mengenaskan. Saya tidak akan menceritakan detailnya di tulisan ini. Mungkin lain kali kalau diperkukan. Saya dan istri membiarkan dia bercerita tanpa henti. Ia bermaksud menjual buku-bukunya itu, ia butuh dana cepat untuk menuntaskan permasalahannya. Saya masuk ke ruang tengah sambil melihat-lihat, Bu Yani tak henti juga bercerita. Ia bermaksud menjual buku yang pernah ia sewakan itu dengan harga yang sangat murah.

“2.000 per judul aja nggak apa-apa mas”, katanya. “Saya harus segera dapat dana untuk menyelesaikan permasalahan ini.”

Saya berkeliling dari satu rak ke rak yang lain. Lebih dari 10.000 koleksi ini memang didominasi oleh komik, sisanya saya taksir 10-15% adalah buku, novel sastra, novel remaja, terjemahan dan beberapa buku best seller yang tentunya dibaca banyak orang.

Tentu saja saya sangat tergiur dengan tawaran buku yang sangat murah itu, meskipun saya bukan pembaca komik yang intens, setidaknya tawaran beberapa buku yang ada sangat menggoda saya. Apa lagi kalau usaha mengadopsi buku ini diniatkan untuk membantu orang yang sedang ketiban masalah pelik. Hanya saja, pasti tidak gampang serta-merta mengambil buku sebegitu banyak. Saya harus menimbang dana yang harus dikeluarkan, saya harus menganggarkan ruangan penyimpanan, perawatan, rak buku, dan hal lain terkait buku yang akan saya adopsi. Kalau saya ambil semua, bisa jadi saya harus menyediakan satu kamar lagi untuk buku tersebut, sementara di rumah saya sudah punya satu kamar khusus buku yang sudah penuh juga.

Tadi pagi saya dan istri dikejutkan oleh tamu yang datang ke rumah. Bu Yani datang membawa dua anaknya yang masih kecil. Dua anaknya lagi masih di rumah membantu menuntaskan pekerjaan lain. Ia nampak tergesa, saya tahu pasti dia sungkan. Tapi bagaimana lagi, ia harus segera menuntaskan masalahnya, kalau tidak segera, sebuah hal buruk bisa saja menimpanya. Saya mendadak ingat ibu di rumah. Saya membayangkan bagaimana jadinya ibu saya datang ke rumah kenalan untuk terpaksa minta tolong. Saya biasanya tidak kuat menahan haru, apalagi di hadapan ibu yang sedang berduka seperti ini.

Saya menulis ini bermaksud mengabarkan pada teman-teman, siapa tahu ada yang tertarik mengadopsi buku dan komik yang banyak sekali jumlahnya itu. Bu Yani sebenarnya berencana menjadikan semua koleksinya ini sebagai taman bacaan masyarakat yang bisa diakses gratis oleh siapa saja suatu saat. Nanti kalau dia sudah mampu dan punya waktu, serta tempat dan tenaga yang cukup. “Saya niatnya mau bikin taman bacaan masyarakat aja, suatu saat nanti.” Berulang kali niatnya ini ia sampaikan. Namun kali ini tampaknya ia harus ikhlas melepas lebih dari 10.000 buku dan komiknya untuk jatuh ke tangan orang lain yang punya kecintaan yang sama pada buku dan dunia membaca.

Mohon bantuan teman-teman sekalian untuk membagikan kisah ini. Siapa tahu ada yang tertarik dan bisa meringankan beban si ibu sayur pemilik buku. Salam.*

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun