PILIHAN

Politik Identitas

22 April 2017 06:13:18 Diperbarui: 22 April 2017 07:39:08 Dibaca : Komentar : Nilai : Durasi Baca :

Politik identitas adalah kebangkitan baru dari gerakan perlawanan terhadap globalisasi. Ketika globalisasi membuat batas batas antara negara, suku, ras semakin kabur karena terkoneksi sedemikian dekat, bagi sekelompok orang yg marginal atau merasa termarginalisasi maka batasan identitas itu penting utk kembali ditegakkan, utk melindungi kepentingan, utk menegaskan "who we are". Penegasa dan pembedaan antara "kita" dan "mereka".

Meskipun demikian batas ini tidak pernah rigid atau kaku, terutama saat digunakan untuk kepentingan politik. Seseorang yg secara definitif adalah "orang luar" bisa dimasukkan dalam golongan "kami" dengan mencari alasan alasan pendukung atau dengan tidak mempertanyakannya sama sekali. Elitis akan mendiamkan dan mengaburkan dengan isu lain dan pendukung akan mengiyakan saja tanpa kritik.

Sejatinya perkembangan politik dan perebutan kekuasaan tetap hanyalah perebutan antar elit yg berada dan memiliki akses dalam sistem. Tidak pernah tentang kekuasaan yg dimiliki oleh rakyat. Merekalah yang menyetir sejarah. Mereka jg menentukan strategi apa yg hendak mereka pakai, dan seringkali yg paling efektif adalah politik identitas atau politik ethnicity menurut samuel p. huntington.

Politik identitas juga masih merupakan senjata andalan  di negara maju seperti Amerika. Ketika Barrack Obama mencalonkan diri sbg presiden, serangan pertama adalah ras nya yg hitam. Lalu agamanya yg dipertanyakan, apakah dia muslim. Donald trump penggantinya sekarang turut mempertanyakan dimana Obama dilahirkan.  Serangan thd identitas ini hanya dapat dikalahkan dengan tingkat popularitas dari suatu calon dan kemampuan dia melepaskan jerat pertanyaan mendasar tersebut.

Dalam kasus Obama. Obama saat itu merepresentasikan apa yang diinginkan oleh Amerika, persatuan dan harapan. Persatuan karena Obama adalah representasi dari amerika yg merupakan melting pot. Dia lahir dari ibu yg berkulit putih, bapak yang berkulit hitam, dan memiliki adik  satu ibu ras asia. Obama merepresentasikan harapan. Harapan bahwa setiap anak amerika dari ras apapun dapat dan berhak menjadi presiden amerika.  Selebihnya serangan terhadap Obama ttg agama dan identitas dpt dipatahkan, walaupun tetap dijadikan senjata oleh lawan.

Pada kasus Ahok, dimana kepuasan warga berada diatas 70% akan tetapi mengalami kekalahan telak dari Anies adalah merupakan kekalahan terhadap serangan politik identitas.

Kasus penistaan agama yang menjeratnya menjadi entry point  bagi lawan politiknya utk melancarkan serangan karena sblm kasus ini, popularitasnya tidak terbendung meskipun tutur katanya sering keras.  

Ahok yang notabene keturunan tionghoa, beragama kristen dan dipersepsikan tidak santun ditambah dengan kasus penistaan agama dihadapkan dengan lawan yang mempersepsikan dirinya santun, bagian dari "kami" walaupun keturunan asing jg yakni arab tp kesamaan agama membuatny lbh mudah diterima  sebagai "pribumi" dan yang penting adalah seagama. 

Isu SARA dan politik identitas mulai dimainkan. Dunia maya dipenuhi dengan cyber army yang terus mencoba membentuk opini ditambah dengan masuknya mesin partai  PKS ke mesjid dan musholla dengan khutbah bahwa haram hukumnya memilih pemimpin non-muslim.  Tercatat dari awal sampai terutama 2 bulan terakhir khutbah jumat di mesjid dekat domisili saya bertema sama, dilarang memilih pemimpin non muslim. 

Masyarakat digiring dan dibelenggu pikirannya sampai tidak sadar bahwa itu merupakan retorika dan  agitasi politik karena ditempat lain  partai yang sama mencalonkan pemimpin non muslim.   Program yang ditawarkan oleh calon gubernur yg diajukan tidak lagi signifikan karena walaupun  mereka puas dengan kinerja ahok,  pikiran mereka telah tergiring utk memberikan tempat bagi calon gubernur yang seagama.

Tidak dapat dipungkiri bahwa serangan menggunakan identitas politik berhasil mengalahkan ahok. Isu isu agama tidak berhenti menggempurnya hingga minggu terakhir yang juga diakibatkan oleh celah yang diberikan timsesnya, contoh video beragam itu kita, mengakibatkan elektabilitas ahok terhunjam. 

Politik identitas telah memenangkan anies. Dan partai pelakunya tentu melihat cara ini efektif untuk kembali digunakan dalam target serangan berikutnya, yakni pilpres 2019.

Bagi elit politik yang akan bertarung dimanapun, serangan menggunakan politik identitas adalah keniscayaan yang harus siap dihadapi. Sedikit saja lengah maka multiflied effect akan muncul. Inilah yang sudah terjadi pada ahok dan bisa menjadi pelajaran bagi siapapun yg hendak mengambil hikmahnya. Isu yang dimainkan tidak akan jauh dari agama dan ketaatan sebagai muslim, isu PKI, syiah dan keberpihakan pada modal asing. Selalu itu entry point-nya. 

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.
LABEL politik

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana