HEADLINE

Terminal Kepulangan TKI yang Menakutkan?

01 Februari 2012 22:13:25 Diperbarui: 25 Juni 2015 13:10:01 Dibaca : 2320 Komentar : 0 Nilai : 4 Durasi Baca :
Terminal Kepulangan TKI yang Menakutkan?
1328174407707267580

Ilustrasi. Calon tenaga kerja Indonesia (TKI) dari PT Duta Tangguh Selaras di Kelurahan Jatiasih, Bekasi, Jawa Barat, dikumpulkan setelah Direskrimsus Polda Metro Jaya menggrebek tempat penampungan tersebut, Rabu (22/6/2011)./Admin (KOMPAS/Wisnu Widiantoro)

Pada tanggal 31 Januari 2012 saya mendapat kesempatan mengunjungi Bandara Kepulangan TKI Selaparang atau dulu yang dikenal dengan istilah Terminal 3 bersama beberapa teman LSM dan Seikat Buruh Migran dalam sebuah liputan ekslusif untuk media edukasi untuk TKI. Terminal Khusus TKI ini sudahlama menjadi momok bagi TKI yang akan pulang ke Tanah Air, kasus pemerasan, penipuan dan pungutan liar oleh oknum petugas dan calo sudah sering disuarakan, mulai petugas pengangkut barang, travel, penukaran uang yang mahal hinggapemerasan yang dilakukan olehsupir travel sudah menjadi isu luas di kalangan TKI.

Bahkan saya beberapa kali menerima laporan dari anggota serikatpekerja Migran (unimig) bahwa dia mengalami pemerasan di tengah jalan, supir mengancam akan menurunkan ditengah jalan kalau tidak mau memberikan uang tips, atau supiryang memberhentikan kendaraan di restoran yang harganya selangit atau juga tukang ojek di kampung yang meminta TKI di turunkan di tengah jalan dengan alas an bagi-bagi rezeki.

Awalnya kami agak kesulitan memasuki area, walaupun surat izin liputan dariBadan Nasional Penempatan dan Perlindungan TKI (BNP2TKI) sudah di tangan,tidak mudah masuk ke area yang berada di pinggir bandara Soekarno Hatta tersebut. Karena tidakmendapatizin pass masuk melalui terminal 2 bandara, kami mencoba masuk melalui jalan belakang Bandara. Kalau dari pintu masuk belakang Bandara , setelah gerbang Bandara langsung belok kiri, disana sudah ada petugas yang menghentikan kendaraan kami, menurut informasi teman LSM yang sudah biasa mendatangi lokasi ini mereka adalah petugas keamanaan yang merupakan ormas setempat yang sengajamendapat jatah sebagai pengamanan, dengan menunjukan surat resmi kami akhirnya berhasil masuk. Jalannyacukup sempit pas dipinggir bandara, kami mengitari jalan diluar pagar Bandara, disisi kiriterdapat pemukiman penduduk dan di sebelah kanan banyak terdapat hamparan kebun sayur yang dikelola oleh warga dipinggir Bandara, 2-3 Km mobil berjalan, tibalah kami di gerbang gedung Balai Pelayanan kepulangan TKI Selaparang-Bandara Soekarno Hatta.

Ketika awal masuk belasan pasang mata memandangi kami, wajar saja, karena kawasan ini tergolong steril bagi masyarakat umum bahkan keluarga TKI sekalipun yang ingin menjemput dilarang. Kami langsung menemui Bapak Ruli selaku kepala Balai Pelayanan Kepulangan yang bertanggung jawab atas Balai Pelayanan Tersebut dengan hangat beliau menjelaskan fungsi balai kepulangan tersebut.Mata saya tertuju pada sekeliling gedung, situasinya hampir dengan terminal kedatangan, berbagai spanduk terpampang besar “ TKI dilarang memberikan uang Tips kepada Petugas” ada juga tulisan spanduk “ Korupsi adalah Kejahatan yang membuat rakyat sengsara” dan lain-lain. TKI yang “terjaring “ petugas BNP2TKI setelah cek imigrasi langsung diangkut dengan bis angkutan ke terminal kepulangan ini, padahal jaraknya lumayan jauh dari terminal 2 kedatangan. Diruangan ini sudah banyak dipenuhi para “pahlwan devisa” yang menunggu keberangkatan, berbagai pernak- pernik dan pakaian kita bisa tebak darimana mereka datang, kalau pakai abaya hitam biasanya dari Arab Saudi dan Negara Timur Tengah, kalau pakai sepatu boat dan jaket tebal ada bulu-bulunya biasanya dari Hongkong ataupun Taiwan, Kalau pake baju kurung Melayu biasanya dari Malaysia, kalau pake baju modis biasanya dari Singapura, namun ada juga TKI yang terlihat biasa saja sebagaimana dia pergi seperti itu juga dia pulang alias sederhana . Ada juga diantara mereka yang memegang laptop dan alat komunikasi yang canggih, luar biasa mereka ini benar-benar pahlwan bagi perekonomian bangsa, saya sangat salut dengan upaya dan kerja keras mereka.

Gedung ini tergolong luas, mata saya tertuju pada toko-toko yang terdapat di dalam gedung ini, mulai dari toko mainan anak-anak, wartel, penukaran uang, kantin, bank (BNI dan Mandiri) dan toko aneka makanan lainnya. Saya dan teman mencoba menusuri satu per satu, seorang penjaga toko mainan mengatakan untuk mendapatkan tempat di areal tersebut mereka membayar 16 juta/bulan, ia menceritakan dalam sehari ada saja seorang TKI yang membelanjakan uangnya untuk membeli mainan sampai 3 juta rupiah, wow ini angka yang fantastis.. bukan ? ada berapa ratus TKI setiap hari yang mampir…omsetnya luar biasa petugas enggan mengungkapkan berapa puluh juta bisa dia dapat setiap hari. kemudian kami menusuri penukaran uang, semua harga penukaran sudah di pampang di depan pintu, tapi ironisnya masih ada saja oknum penukaran uang yang menarik TKI (sedikit memaksa) agar menukar di tempatnya, mereka menggiring TKI dari pintu kedatangan setelah membeli tiket perjalanan di kaunter. Setiap TKI yang pulang di kenakan Rp.350.000/tki. Setelah turun dari bis terminal 2, mereka langsung mengantri membeli tiket travel yang sudah di tunjuk BNP2TKI. Namun mereka tidak langsung bisa berangkat, para TKI harus sabar menunggu sampai bis travel penuh dan mendapatkan teman yang setujuan, peristiwa ini pernah ditemui langsung Menteri Tenaga Kerja Muhaimin Iskandar, dimana TKI harus menunggu lama sampai harus menginap, padahal mereka adalah customer bukan ?.

Di tempat ini disediakan juga tempat TKI transit dan ada penginapan, saya dan beberapa teman melihat langsung ruang penginapan tersebut di lantai 2, ruang tersebut terlihat kumuh dan karena beberapa barang rongsokan (kursi dan tempat tidur yang rusak) dibiarkan tertumpuk di dekat pintu masuk, kasur yang disediakan juga seadanya, kami menemui beberapa orang TKI yang sedang istirahat, mereka baru pulang dari Arab Saudi, wajahnya terlihat lelah, mereka menunggu penebangan lanjutan ada yang ke Kendari dan Lampung, seorang TKI bercerita bahwa ia sudah lama kerja sebagai PRT di Arab Saudi, bahkan rumah majikannya di Mekkah dekat dengan Masjidil Haram, tapi ia belum Haji, karena majikannya tidak mengizinkannya dan harus membayar 4000 Real Saudi, tapi kalau umrah sudah sering katanya…?

Suasana terminal

Tempat ini juga terdapat pusat pengaduan TKI bermasalah, ada beberapa petugas yang siap menerima laporan TKI dan disebelahnya ada ruang perwakilan Asuransi Proteksi, Konsorsium Asuransi TKI yang mendapat mandat untuk menyelenggarakan asuransi perlindungan TKI, lalu saya masuk ke ruangan tersebut, Ada beberapa meja petugas yang sedang mengintograsi TKI, mereka mewawancarai TKI dengan alat khusus dan di rekam, katanya untuk mengetahui TKI ini bohong atau tidak dan mereka tidak didampingi petugas dari pemerintah, padahal TKI ini adalah pemegang premi dan kalau tidak didampingi sudah tentu mereka susah menjelaskan yang mereka alami karena keterbatasannya, akhirnya banyak kasus ditemui TKI tidak bisa menunjukan bukti dan hanya diberi uang kerohiman 1-3 juta rupiah saja, tentu saja ini sangat merugikan TKI, kalau TKI dibiarkan bernegosiasi sendiri tanpa di damping pasti kalah argument dari pihak asuransi.

Ruang transit

Digedung ini juga terdapat klinik bagi TKI yang sakit, ruang pemeriksaan psikologi, disudut ruang kecil mata saya tertuju pada sebuah banner bertuliskan RPA-TKI (Ruang Peduli Anak-Tenaga Kerja Indonesia), lalu saya masuk dan bertemu dengan seorang petugas perempuan yang masih muda, ternyata dia adalah staf dari Yayasan tersebut yang ditempatkan di Terminal ini. Ternyata ini adalah Yayasan yang selama ini sangat konsen memelihara dan merawat anak-anak TKI yang diterlantarkan ibunya, setiap bulan ada saja bayi yang diterlantar atau pun diserahkan oleh TKI yang pulang, biasanya mereka adalah korban perkosaan lalu tidak terima dengan keadaannya ataupun akibat melakukan hubungan dengan pacarnya, padahal di kampungnya dia juga punya suami dan anak. Yayasan ini sudahada sejak 2009. Dari foto yang di pajang, terlihat wajah-wajah cantik para bayi ada yang wajar timur tengah, cina, india , afrika, mereka bisa di adopsi oleh orang tua asuh yang resmi. Ada juga TKI yang hamil tua dan takut pulang ke kampung ditampung di Yayasan ini.

Lalu kami kembali ke areal pemberangkatan TKI, beberapa rombongan TKI siap diberangkatkan, namun sangat disayangkan petugas yang memanggil nama TKI dengan pengeras suara sering berteriak-teriak cenderung kasar memanggil nama TKI, padahal dalam bisnis TKI itu adalah pelanggan mereka, harus disediakan petugas wanita yang ramah , karena hamper 80% petugas disini adalah lelaki, padahal TKI yang datang 90% adalah perempuan. Ketika selesai shalat magrib kami meninggalkan gedung ini. Kesimpulan saya adalah sebenarnya niat baik pemerintah untuk melindungi TKI harus juga diimbangi dengan kualitas pelayanan dan perlindungan. Benar, TKI harus di lundungi dari tangan-tangan jahil, TKI tetap memerlukan Help Desk untuk kepulanganya, tetapi tidak perlu harus diskriminasi kepada TKI dengan memisahkan mereka dari jalur umumnya, mereka juga punyak hak untuk bisa menikmati pelayanan terbaik karena mereka adalah pengguna dan pemilik uang dan juga membayar pajak Bandara. Terminal ini tidak seharusnya berada jauh dari areal bandara, kalau terminal ini memang nyaman dan pelayanannya memuaskan, pasti tidak ada TKI takut pulang melewati jalur ini, sudah seharusnya terminal ini konsepnya diganti dengan Ruang khusus bagi Tamu terhormat Negara, mereka berhak mendapatkan karpet merah, ruang tunggu yang ekslusif dan tempatnya tidak harus jauh diluar bandara. Nuansa kepentingan bisnis sangat kental di terminal ini, tidak cukupkah agen dan majikan nakal yang mengeksploitasi TKI, semua harus segera dibenahi. Wallahua'lam

Oleh : Muhammad Iqbal

Presiden Union Migrant (UNIMIG) Indonesia

Alumni ILO Labour MigrationAcademy, Turin Italy 2011

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana