Intan Nurcahya
Intan Nurcahya

Guru SMP N Sukaresmi Cianjur, berlatih menulis, menyerap dan menyebar virus literasi.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora headline

Saya Menyesal Menjadi Seorang Guru

19 Maret 2017   16:17 Diperbarui: 20 Maret 2017   15:35 2559 41 24
Saya Menyesal Menjadi Seorang Guru
GETTY IMAGES | Huffington Post

Seorang teman bercerita pada saya, dia pernah mendamprat seorang alumni yang tidak menyapanya di angkutan umum, alumni itu pura-pura tidak mengenalnya dan sama sekali mengacuhkannya apalagi menyalaminya seperti dulu, padahal mereka duduk hampir saling berhadapan. Teman saya merasa sangat puas ketika alumni itu merasa malu dan meminta maaf, dan sepertinya permintaan maaf itu tidak ada lagi artinya, teman saya menolak ketika alumni itu mau menyalaminya.

Saya merenung, bisa saja hal itu menimpa saya, atau bahkan mungkin pernah mengalaminya, diacuhkan dan “dilupakan alumni”. Sering saya ngobrol dengan teman yang mengalami hal seperti itu, jangankan alumni yang sudah lama keluar dan menjadi “orang”, bahkan siswa yang baru lulus beberapa tahun saja, ada saatnya ketika mereka bertemu sering memasang wajah acuh dan pura-pura tidak kenal. 

Kepala sekolah saya bercerita, ia dan istrinya yang juga seorang guru baru saja kembali dari rumah sakit, di sana istrinya begitu antusias saat melihat muridnya dulu yang kini telah menjadi dokter di rumah sakit tersebut, saat berada di ruang tunggu mereka berada dalam jarak yang hampir berdekatan, sangat tidak mungkin kalau mantan muridnya itu tidak melihatnya. 

Istri kepala sekolah itu hampir berteriak, “Pak, itu murid ibu, dulu saya wali kelasnya, dia memang pintar, kesayangan semua guru, pantas dia sekarang jadi dokter!”, katanya dengan nada bangga. Tapi apa boleh buat, sampai pegal leher beliau dijulur-julurkan berusaha agar terlihat oleh sang mantan murid, tak sedikitpun mantan murid itu mau menengoknya. Merasa kasihan kepala sekolahku melihatnya, sampai akhirnya beliau berkata, “Sudahlah Bu, orang mau melirik juga nggak, ngapain bikin pegel leher aja”. 

Terlepas dari bagaimana kepribadian mereka-mereka yang “lupa” terhadap gurunya, jika hal itu menimpa saya, saya berpikir apa yang salah dengan perlakuan saya sebagai guru selama ini, apa mungkin saya ikut andil dalam membentuk sikap mereka tersebut?

Menjadi guru memang bukan pekerjaan yang mudah. Butuh kesabaran yang luar biasa untuk dapat mengendalikan emosi dalam mengontrol para siswa. Dari pengalaman saya menjadi guru dan wali kelas, memang selalu ada-ada saja ulah murid yang menjengkelkan, dari yang sering terlambat, bikin ribut di kelas, menyontek, lupa mengerjakan PR, dsb. Atau bahkan ada kenakalan-kenakalan ekstrim yang membuat guru ibaratnya makan buah simalakama, diperlakukan kasar salah, bersikap lunak juga semakin melunjak.

Apa yang pernah saya lakukan selama ini?

Saya bukanlah guru yang punya ambang batas kesabaran yang luas, mungkin tak terhitung berapa kali saya menghukum murid, secara fisik atau dengan kata-kata. Suatu ketika seorang siswa memberikan tugasnya untuk saya koreksi, dan ternyata tugas itu milik temannya yang dia ambil dengan paksa, merasa dibohongi saya maki-maki siswa itu dengan kata-kata kasar, ketika pada akhirnya siswa itu mendapat masalah di pembagian rapot, ibunya mengeluh dan menyalahkan umpatan saya sebagai penyebabnya, saya jelaskan alasan dia mendapat cacian itu, ketika orang orang tuanya paham dan bahkan meminta maaf...di situlah saya merasa senang.

Pernah juga saya menghukum siswa dengan hukuman fisik, karena siswa itu sengaja tidak masuk di pelajaran saya, ketika orang tuanya datang dan mempermasalahkan perlakuan saya, saya jelaskan habis-habisan alasan saya berbuat seperti itu, saya jelaskan kelakuan buruk anaknya tersebut. Ketika orang tua itu “terpaksa” memahami dan menerima perlakuan saya... di situ saya merasa menang.

Bahkan tak jarang ketika sudah merasa di puncak kejengkelan pada seorang siswa yang sangat nakal, dan orang tuanya lantas memutuskan anaknya berhenti sekolah... di situlah saya merasa lega.

Introspeksi diri akan jauh lebih baik

Dalam hal ini, yang saya pahami adalah metode hukuman dapat saya gunakan untuk mengendalikan perilaku siswa, sekaligus memberikan efek jera dan bentuk peringatan bagi anak-anak yang lain. Hukuman adalah cara yang paling praktis untuk membuat siswa berhenti melakukan kenakalan. Namun andaikan saja saya mampu berpikir jernih, patutnya saya pikirkan lagi apakah hukuman yang diberikan betul-betul dapat menyelesaikan masalah?, mungkin saat itu iya,  bagaimana kalau itu hanya memupuk dendam laten yang suatu saat akan muncul?

Bukankah akan lebih baik kalau saya mampu menahan diri, mengontrol emosi, meredam ego untuk bersikap otoriter karena sangat mungkin hukuman dari saya malah membuat siswa merasa rendah diri, hilang kepercayaan, bersikap antipati, bahkan membenci mata pelajaran yang saya ajarkan, timbul perasaan untuk terus memberontak, atau bahkan bahkan memicu kebohongan-kebohongan untuk menutupi kesalahan lainnya. Hukuman juga dapat merenggangkan hubungan emosional saya, bukan hanya dengan siswa yang bersangkutan tetapi juga dengan orang tua siswa. Ketika terjadi permasalahan dengan orang tua dan saya memenangkan silang pendapat itu, di detik itu pulalah saya kehilangan respek dari mereka.

Andaikan saja saya bisa lebih memperluas rentang kesabaran, tidak berharap terlalu instan untuk mengubah perilaku siswa yang menurut saya tidak disiplin. Seharusnya saya melakukan pendekatan personal untuk menghadapi siswa saya yang bermasalah agar diketahui akar permasalahannya. 

Untuk siswa yang kesulitan mengerjakan tugas-tugasnya sendiri saya harus mencoba untuk membantu memberikan arahan lebih intensif, saran, atau mungkin perintah yang lebih jelas. Mengapa hanya siswa yang disalahkan ketika mereka enggan belajar, sudahkah saya introspeksi dengan cara mengajar saya, mungkin selama ini saya otoriter, merasa paling pintar, memaksa siswa memahami pelajaran dengan penjelasan seadanya, sering kesal karena susahnya membuat mereka mengerti sampai sering dengan tanpa alasan saya meninggalkan kelas, mungkinkah itu bisa membuat siswa senang belajar...?

Sudahkah saya bersikap simpatik sebagai seorang guru, menciptakan suasana senang, riang dan gembira? Bukankah selama ini senyumpun sangat jarang saya berikan, saya takut kehilangan wibawa jika saya berakrab-akrab dengan mereka, saya hanya dekat dengan siswa yang pintar, sangat tidak adil tentu saja bagi mereka yang tidak diberi kesempatan oleh saya, mereka akan  merasa dirinya bukanlah apa - apa dan percuma juga aktif di kelas karena toh saya gurunya lebih percaya kepada yang saya pilih saja. Jangan salahkan jika pada akhirnya siswa bersangkutan menjadi benci kepada temannya dan tentunya kepada saya. Sudah saatnya saya harus memandang bahwa siswa merupakan pribadi yang utuh yang harus dihargai bagaimanapun kondisinya, karena mereka adalah individu yang penuh dengan perbedaan.

Sudahkah saya empati kepada siswa, bukankah saya hanya bisa marah ketika siswa membuat masalah, pernahkah saya  menempatkankan pikiran dan perasaan saya menurut persepsi mereka?, bukan menurut persepsi saya. Dari banyak kejadian terlambat sekolah misalnya, selama ini saya hanya sangat kesal dan marah, karena mereka biasanya yang terlambat adalah siswa itu-itu saja dan jumlahnya berombongan. Saya tahu kebiasaan mereka adalah saling menunggu teman sebagai bentuk solidaritas, 

sehingga mereka berprinsif jika satu terlambat maka semuanya terlambat. Mungkin akan lebih baik seandainya saya memposisikan  persepsi dan perasaan saya sebagai mereka, mengajak bicara siswa yang  paling “dianggap” oleh teman-temannya, mengatakan sangat bagus untuk memufuk solidaritas, saya ajak mereka untuk menemukan sendiri solusi antara memufuk solidaritas dan memenuhi peraturan sekolah, tanpa harus ditekan atau diancam mereka akan menyadari juga  kesalahannya. 

Sudahkah saya memperlakukan siswa secara manusiawi?, menghormati hak-hak mereka, membebaskan mereka menggunakan waktu istirahat di sela-sela beban mereka mengikuti pelajaran, sepertinya sangat tidak etis ketika mereka menahan lapar di jam istirahat saya menyuruhnya membeli ini-itu ke kantin, mengantri berdesakan dengan ratusan siswa lainnya untuk melaksanakan suruhan saya, sedangkan saya hanya menunggu, duduk manis sambil bergosip, internetan yang tak penting, atau juga face-book’an, jangan salahkan ketika pada akhirnya mereka menjauhi kita hanya karena tak mau dijadikan korban suruhan.

---

Sebuah evaluasi diri yang mendalam dari kita sebagai guru, mengeliminir perlakuan-perlakuan buruk yang akan membekas dalam memory siswa dan menjadi luka mental. Dendam, sakit hati, beban psikologis, jatuhnya harga diri dan lainnya itulah, yang menurut para ahli psikologi jauh lebih berbahaya dan lama penyembuhannya.

Namun ketika pada akhirnya sang alumni menjadi “lupa” pada jasa gurunya, bersikap ikhlas adalah pilihan terakhir bagi kita. Cukup berbahagia dengan keberhasilan mereka menemukan jati dirinya. Tidak menambah luka dan membuat sakit hati yang baru, menjatuhkan harga diri mereka di depan umum justru membuat kita sebagai sosok yang gagal.

Jika kegagalanlah yang selama ini saya lakukan sehingga hanya melahirkan generasi “lupa”, pendendam, antipati, tidak tahu cara menghargai, maka sejatinya saya menyesal menjadi seorang guru...