HEADLINE

Seks Bebas bukan Penyebab Penyakit Kelamin pada Remaja

17 Februari 2011 01:08:59 Dibaca :
Seks Bebas bukan Penyebab Penyakit Kelamin pada Remaja
Ilustrasi/Admin (shutterstock)

"Seks Bebas, Ribuan Remaja Tertular Penyakit Kelamin." Ini berita di RCTI (17/2-2011). Jika dilihat dari data yang disampaikan yaitu dari 9.060 penderita penyakit kelamin di Jakarta ternyata hanya 3.007 remaja (33,19 persen). Tapi, mengapa RCTI hanya menyasar remaja? Data itu menunjukkan 66,81 persen penderita penyakit kelamin di Jakarta adalah kalangan dewasa. Jika dikaitkan dengan epidemi IMS/infeksi menular seksual (istilah ini yang dipakai karena tidak semua infeksi IMS terjadi di alat kelamin) maka kalangan dewasa, terutama laki-laki, jauh lebih potensial sebagai mata rantai penyebaran. Paling tidak bagi yang beristri akan menularkannya kepada istrinya, pasangan seks lain dan pekerja seks komersial (PSK). Ada kemungkinan orang-orang yang tertular IMS (penyakit-penyakit yang ditularkan melalui hubungan seksual tanpa kondom, di dalam dan di luar nikah, dari seseorang yang mengidap IMS kepada orang lain, seperti sifilis, GO, klamidia, hepatitis B, dll.) juga tertular HIV karena cara-cara penularan IMS dan HIV sama. Bahkan, jika seseorang mengidap IMS akan lebih mudah terular HIV karena infeksi pada alat kelamin akan menjadi pintu masuk bagi HIV ketika melakukan hubungan seksual tanpa kondom. Dalam berita disebutkan IMS yang terdeteksi pada remaja adalah: herpes, sifilis, vaginitis, bisul pada alat reproduksi, HIV/AIDS. Potensi laki-laki dewasa sebagai 'penyebar' IMS dan HIV dapat dilihat dari data tentang jumlah istri yang mengidap IMS dan HIV atau dua-duanya sekaligus. Secara nasional sudah dilaporkan 1.970 ibu rumah tangga (baca: istri) yang terdeteksi HIV/AIDS. Tapi, RCTI menutup mata terkait dengan perilaku kalangan dewasa ini dan memilih remaja sebagai sasaran tembak yang empuk. Yang disayangkan dari berita RCTI itu adalah penyebutan 'seks bebas' sebaga penyebab IMS dan HIV. Ini ngawur bin ngaco karena penularan IMS dan HIV melalui hubungan seksual bisa terjadi di dalam dan di luar nikah jika salah satu mengidap IMS atau HIV atau dua-duanya sekaligus dan laki-laki tidak memakai kondom. Penularan IMS dan HIV melalui hubungan seksual terjadi karena kondisi hubungan seksual (salah satu mengidap IMS atau HIV atau dua-duanya sekaligus, laki-laki tidak memakai kondom) bukan karena 'seks bebas' (zina, melacur, seks pranikah, selingkuh, 'jajan', dan homoseksual). 'Seks bebas' sudah menjadi 'jargon moral' yang berkemang sebagai stigma terhadap remaja. Padahal, istilah ini ngawur (Lihat). Celakanya, 'seks bebas' sudah menjadi jargon moral yang merujuk kepada perilaku remaja sehingga perilaku 'seks bebas' di kalangan dewasa diabaikan. Ini mengesankan 'seks bebas' tidak menjadi persoalan bagi kalangan dewasa. Bahkan, di banyak brosur tentang IMS dan HIV/AIDS selalu disebutkan bahwa mencegah IMS dan HIV adalah 'jangan melakukan hubungan seksual sebelum menikah'. Cara yang dianjurkan itu menunjukkan seks tidak menjadi masalah jika dilakukan setelah menikah. Ini lagi-lagi menyesatkan karena informasi dibumbui dengan moral. Dalam berita tsb. juga sama sekali tidak ada penjelasan tentang cara-cara penularan dan pencegahan IMS dan HIV melalui hubungan seksual. Jika tetap menjadikan remaja sebagai sasaran tembak, maka alangkah arifnya kalau kalangan dewasa mau berbagi dengan remaja tentang cara yang mereka lakukan ketika remaja untuk menyalurkan dorongan seksual sehingga mereka tidak terjerumus kepada 'seks bebas'. ***

Syaiful W. HARAHAP

/infokespro

TERVERIFIKASI (BIRU)

Aktivis LSM (media watch), peminat masalah sosial kemasyarakatan, dan pemerhati (berita) HIV/AIDS
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?