HIGHLIGHT

Aku yang Tersakiti

18 Maret 2013 08:32:55 Dibaca :

Aku, aku hanyalah seorang pemuda yang entah sampai kapan akan terus menderita. Semua tetanggaku membenciku, entah kenapa akupun tidak tau, dan dimana orangtuaku aku pun tidak tau. Aku hanya mempunyai  kakek yang sangat menyayangiku. Tapi kakekpun tidak pernah menjawab dimana orangtuaku dan mengapa semua tetangga membenciku. Aku sempat mendengar pembicaraan kakek dengan seseorang, entah siapa orang itu, mungkin dy orangtuaku karena waktu itu kakek bilang “kapan kamu kesini, anakmu sering bertanya tentangmu,” tetapi ketika aku Tanya sama kakek, kakek hanya tersenyum dan bilang “sudah makan belum kamu yan.” Kakek memang selalu begitu.

***

Hari-hari ku jalani dengan riang gembira walaupun sebenarnya hatiku sakit sekali karena semalam kakek habis cerita panjang lebartentang orangtuaku dan mengapa tetanggaku membenciku, ternyata orangtuaku diusir dari kampung kurangasem ini karena ibuku hamil sebelum mereka menikah dan hal itu diketahui oleh para tetangga dan perbuatan orangtuaku itu sangat melanggar peraturan kampung kurangasem ini. Aku sangat terpukul sekali mendengar cerita kakek itu, kenapa semua orang dikampung ini sangat kejam sekali. “memang sih orangtuaku salah tapi tidak usah di usir dong” gerutuku dalam hati. Dan ternyata tetanggaku dikampung ini tau kalau aku anaknya siti dan husein , ya itu nama orangtuaku dan akhirnya tetangga disini pun membenciku sampai saat ini. Aku sedih sekali , tetapi aku tetap bersyukur sekali karena masih ada sahabatku yang selalu menemaniku yang bernama meisya yang selalu menyemangatiku. Aku merasa bahagia sekali karena selalu ada meisya disampingku.

***

“apa yan? Jadi orangtua kamu diusir? Lalu dimana orangtua mu sekarang?” Tanya meisya yang kaget setelah ku ceritakan tentang apa yang diceritakan kakek semalam. “iya sya, akupun sangat terpukul setelah tau kalau begitu cerita orang tuaku, harusnya dulu aku gak usah lahir aja, kalo harus orangtuaku yang menjadi korbannya,” jawabku menyesal . “jangan ngomong gitu dong ryan, aku sangat senang punya teman kayak kamu, lagian itu kan bukan kesalahanmu, yaudah jangan sedih lagi yah ryan, gimana kalau kita karokean aja, ajak meisya sambil meyemangatkanku. “iya deh”, jawabku singkat. “kok singkat banget ? kamu gak suka ya” Tanya meisya , “iih meisya , apa sih yang aku gak suka kalau sama kamu, aku suka kok” jawabku sedikit merayu. “let’s go, “ kata meisya sambil menarik tanganku.

***

Sesampainya dirumah setelah berkarokean ria bersama meisya, aku mendapati kakek yang sedang pingsan dengan mulut berdarah, akupun langsung menelepon rumah sakit terdekat, beberapa menit kemudian ambulance pun dating kerumahku dan ternyata dokter bilang kakekku sudah tiada dari sejam yang lau. Aku pun lemas dan tidak ingat apa-apa lagi.

***

“Kamu gak apa-apa kan yan?”  Tanya meisya cemas, “gak apa-apa kok sya” jawabku bingung karena tiba-tiba ada meisya disampingku. “Kamu bingung yah, aku tadi ngerasa gak enak hati gitu pas aku telpon kamu, kamu gak angkat-angkat  jadi aku langsung kerumah kamu aja, dan ternyata benar  firasatku itu”, kata meisya panjang lebar. “memangnya apa yang terjadi sya?” kataku tidak ingat apa yang terjadi tadi. “Jadi kamu gak ingat apa-apa yan?” Tanya meisya kaget, “iya…” jawabku lemas. “kakekmu… tiba-tiba akupun memotong omongan meisya, “ohh iyaa, kakekku mana sya?” . “iyaa itu dy yan, kakekmu meninggal, kata dokter beliau terkena tbc stadium akhir” kata meisya sambil menitikan air mata. “apa sya?  Sekarang dimana kakekku sya?” kataku panik. “kakekmu lagi mau dimakamin sama warga disini tetapi kata warga sini kamu gak boleh kepemakaman karena kamu anak pembawa sial,” jelas meisya tidak tega. Akupun langsung lari ketempat pemakaman dan ternyata sudah dijaga ketat oleh satpam. “hey anak pembawa sial ngapain kamu kesini?kamu hanya bisa menyusahkan orang saja” bentak satpam yang bernama bejo. “tolong banget pak satpam,ini yang meninggal adalah kakek saya, saya sangat kehilangan sekali dengan kepergian kakek saya ini, mohonku kepada satpam itu. Belum sempat satpam itu menjawab langsung dipotong oleh meisya, yan ada surat yang ditulis kakek untukmu.

Maaf yah ryan, kakek harus pergi, kakek gak bisa jagain kamu lagi. Karena kakek harus menemui orangtuamu disurga. Sebenarnya kakek berbohong tentang para tetangga yang mengusir orangtuamu karena mereka hamil kamu.sebenarnya orang-orang disini benci sama kamu karena mereka takut kena sial deket kamu. Sebenarnya ibumu duluan meninggal karena waktu itu ibumu sedang menggendongmu dan tiba-tiba ibumu meninggal, kata dokter beliau kena serangan jantung. Lalu I minggu kemudian ayahmu menyusul karena waktu itu beliau menyelamatkanmu dari kebakaran yang waktu itu menimpa rumah kalian, lalu malah beliau yang terbakar. Setelah itu tidak ada lagi yang mau mendekatimu. Kamu jangan terlalu memikirkan hal ini. Kamu tunjukan kepada mereka kalau kamu tidak membawa sial seperti apa yang mereka katakana. Tingkatkan perstasimu ya cucuku sayang.

Salam sayang



Kakek



Akupun terdiam lalu aku menangis tak berdaya, apa sebegitu burukkah aku  ini tuhan. Tuhan, mengapa engkau izinkan aku lahir,sementara semua orang membenciku. Aku benci hal ini.lebih baik aku menyusul kakek. Aku pun lari menuju kuburan kakek tanpa menghiraukan panggilan meisya yang sudah tau sebenarnya dan satpam pun membiarkanku lari kekuburan kakek. “Kenapa semua orang membenciku . aku hanya manusia biasa, akupun tidak mengerti apa salahku kepada kalian semua”, kataku marah sambil mengeluarkan air mata. “maafkan kami, kami takut nasib kamu seperti ibu dan ayahmu” kata salah seorang warga. “pak, aku hanya manusia biasa pak, memangnya bapak pikir saya mau mereka semua mendahului saya, saya gak mau pak, saya sangat mencintai mereka pak, tapi saya hanya manusia biasa pak” kataku sambil terisak-isak. “ yasudah maafkan kami, mungkin kami memang keterlaluan……….. sebelum kalimat bapak itu selesai aku pun tidak ingat apa-apa lagi

***

Kamu gak apa-apa kan? Tanya salah seorang warga . “gak apa-apa kok pak, pak lebih baik saya pergi aja dari kampong ini, saya tidak ingi merepotkan warga disini” kata ku mencoba sabar. “gak nak, kami sadar selama ini kami salah , kami minta maaf sekali, mulai sekarang kami akan menyayangi kamu seperti anak kami sendiri”, kata warga sisitu. “ sungguh pak”? kataku bahagia .”iya nak, oh iya siapa namamu?” “ryan pak” jawabku. Ohh nama yang bagus kata salah seorang warga disitu

Sejak hari itu akupun bersyukur  sama tuhan karena sudah membuka hati para tetanggaku agar dapat menerima kehadiranku.

Walaupun kenyataan itu lebih pahit tapi lebih baik kenyataan yang pahit itu daripada sebuah kebohongan. Dan syukurilah segala sesuatu yang telah kamu punya serta jangan pernah mengeluh karena dibalik sebuah musibah/masalah pasti akan ada hikmahnya dan semuanya akan indah pada waktunya :)

Siti Maimun

/imunmasivers

student at united state of padang
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?