PILIHAN

Sawahlunto Bukan Sekedar Batubaro

14 Februari 2010 10:42:00 Diperbarui: 26 Juni 2015 17:56:02 Dibaca : Komentar : Nilai :

Era Sawahlunto sebagai daerah penghasil batubara sudah lama berlalu, kini kota kuali ini (disebut begitu karena berada dalam lembah yang dikeliling perbukitan) giat menggenjot potensi wisata. Hebatnya, kolam lumpur pun bisa dijual oleh Pemkonya. Hebat memang Sawahlunto. Siapa tak kenal Sawahlunto. Bahkan Anda yang di Papua pun pasti tahu. Kalau tidak tahu ya kebangetan dan malu-maluin, karena Sawahlunto sangat terkenal sebagai negeri penghasil batu bara sejak zaman Belanda dulu. Gara-gara Sawahlunto, jalan kereta api dibuat di Sumatera Barat. Pelabuhan dipindah dari Muaro ke Taluak Bayua dan diberi nama Emma Haven. Pabrik semen Indaruang dimungkinkan berfungsi dengan harga ekonomis karena Sawahlunto, sebab pabrik itu tak perlu lagi membeli batubara yang sangat dibutuhkan sebagai bahan baku pembakaran di silo-silo PT Semen Padang dari tempat lain yang jauh. Bayangkan kalau PT Semen Padang membeli batubara dari PT Kaltim Prima Coal, di Samarinda, bisa-bisa harga Semen Padang satu zak Rp200 ribu. Sekarang, setelah batubara habis--sebenarnya nggak habis, tapi deposit yang tersisa letaknya jauh di bawah tanah jadi biaya produksinya nggak cocok lagi dengan keuntungan yang bakal diperoleh—maka lubang-lubang bekas tambang dan segala perlatan yang pernah digunakan untuk mengeksploitasi dan mengolahbatubara, serta gedung-gedung perkantorannya disulap menjadi obyek wisata. Begitulah pintarnya Walikota Sawahlunto, Amran Nur mengubah tantangan jadi peluang. Kota Sawahlunto memiliki masa lalu yang mirip-mirip Australia, yaitu dibangun oleh para narapidana. Mereka belum tentu pelaku tindak kriminal semua, tapi karena melawan Belanda, mereka dikerangkeng dan dirantai semua. Jadi mungkin saja mereka itu pahlawan-pahlawan kita yang dicap kriminal oleh Belanda. Mereka bukan hanya dipaksa menambang batubara di lubang-lubang tambang yang gelap, tetapi juga membangun segala sarana dan prasarana. Kita masih bisa melihat bagaimana orang-orang nestapa yang dirantai kakinya ini terbungkuk-bungkuk mendorong lori batubara di rel-rel di museum yang ada di kota ini. Kalau tidak salah namanya Gudang Ransum dan kini dikepalai Ir Rika Cheris. Mantan kepala Gudang Ransum Dra Sri Setyawati mengatakan koleksi Gudan Ransum dikumpulkan dari mana-mana, kebanyak tentang teknologi batubara dan sarana transportasi untukmengangkutnya ke Pelabuhan Taluak bayua dan pabrik PT Semen Padang. “Foto-fotonya juga banyak,” katanya. Pilihan untuk mengubah Kota Sawahlunto menjadi Kota Tambang yang Berbudaya ternyata sangat tepat. Selain bekas-bekas tambang dan jejak eksploitasinya, kini kota wisata ini dilengkapi berbagai sarana wisata lainnya sebutlah Water Boom di Muara Kalaban yang telah mengundang ribuan orang dari seantero Sumatera Barat, sampai Riau dan Jambi. Lalu ada resort wisata Kandi Tanah Hitam , yang berjarak lebih kurang 12 kilometer dari pusat kota. Kawasan ini memiliki luas 393,4 hektar. Resort Kandi dilewati Sungai Batang Ombilin, di sana terdapat 3 danau yakni Danau Kandi, Danau Tanah Hitam dan Danau Tandikek. Ketiga danau ini terbentuk dari lubang galian bekas tambang. Para pencinta olahraga motocross juga dimanjakan di sini, karena ada sirkuit yang rutin menyelenggarakan pertandingan tingkat nasional sekali setahun dan tingkat lokal sampai lima kali setahun. Arena road race ini luasnya 10 hektar. Selain ahli ketangkasan bersepeda motor juga ada lomba pacu kuda. Luas lokasinya 39,69 hektar dan memiliki track pacu kuda sepanjang 1.400 meter dengan lebar 20 mete, tribun VVIP berkapasitas 300 penonton, tribun VIP yang bisa menampung 500 orang dan tribun ekonomi yang berkapasitas 30.000 orang. Kandang kudanya jugaada, cukup untuk 200 ekor kuda, termasuk kudakesayangan walikota. Tapi saya lupa namanya. Saat ini juga tengah disiapkan pembuatan Taman Safari mini dengan total investasi Rp25 miliar di lahan seluas 40 hektar. Kalau taman ini jadi bisa dipastikan kebun binatang di Bukittinggi bakal kehilangan banyak pengunjung. Pengunjung yang menyukai cendera mata bisa ke Silungkang. Banyak kios cendera mata di sana yang menjual segalanya. Dari sapu ilungkang yang ternama sampai batu lado dari batu kali. Yang terakhir ini disukai sekali oleh pelnacong dari Jakarta dan kota-kota besar lainnya di Indonesia karena ubik dan sangat bernuansa alami. Penggila songket akan terpuaskan olehbanyaknya kios-kios yang menjual songket dan aneka tenunan lainnya, termasuk kain sarung. Bahkan bisa melihat penenunnya sedang beraksi. Misalnya Ibu Fatimah, yang suka menenun sendiri songket jualannya di kiosnya INJ Songket, Batu Manonggou, Silungkang. Harga songketnya Rp200 ribu – Rp3,5 juta. Ada motif burung merak yang katanya asli Silungkang dan sudah jarang dibuat. Sandal, dompet, selendang dan ikat pinggang bermotif songket juga banyak dengan harga Rp10.000 – Rp500 ribu. Kalau lapar bisa ke kedai-kedai sop dan soto Muaro Kalaban yang sudah tenar. Misalnya Soto dan Sup Urang Awak atau Sup dan Soto Baselo Ponsel. Tak sampai Rp25 ribu per orang, sudah bisa makan kenyang. Untuk kenyamanan pengunjung, Pemko Sawahlunto telah menyiapkan beberapa hotel yang letaknya strategis di tengah kota, yakni Wisma Ombilin dan Laura Hotel, kalau kurang belasan home stay bertarif murah siap menampung. Namun yang paling menarik dari Sawahlunto adalah kedamaian kotanya. Siang hari warganya tidur siang, sore sehabis mandi mereka memenuhi jalanan dan taman kota, jalan dan bercengkrama sesamanya. Berkonvoi dengan sepeda motor keliling kota, duduk-duduk di pertigaan M Yamin, atau di taman-taman di sekitar tugu perjuangan dan halaman kantor PT BA UPO. Sesekali naik bendi keliling kota. Bedanya dengan bendi di Kota padang, tak terlihat ceceran tahi kuda di jalan, karena kusir bendinya menyediakan kantong untuk menampung kotoran kuda, sehingga Kotasawahlunto bebas dari aroma tak sedap yang gampang sekali kita jumpai di Kota Padang. Malam hari, pendaran cahaya lampu memenuhi kota. “Dulu, ketika penambangan batubara masih jalan kota ini terlihat seperti Los Angeles, terang benderang bermandikan cahaya,” kata Mak Idris (73), mantan pegawai tambang yang sudah kenyang bolak-balik Sawahlunto – Amerika Serikat. Kini cahaya itu berkurang, tapi masih ada sisa-sisanya. Jadi? Sesekali sempatkanlah diri Anda jalan-jalan ke Sawahlunto, pasti tak kan menyesal!

Imran Rusli

/imranrusli

TERVERIFIKASI

Penulis dan jurnalis sejak 1986
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.