Sam Jack, Calon Pendamping Desa

20 Maret 2017 23:19:09 Diperbarui: 20 Maret 2017 23:25:26 Dibaca : Komentar : Nilai : Durasi Baca :
Sam Jack, Calon Pendamping Desa
Musyawarah Desa (Dok. Pribadi)

“Desa sekarang luar biasa.” Kata Jack pagi itu. Waktu ia berkunjung ke Djoglo (sebenarnya hanya teras rumah), tempat setiap pagi saya menjalankan upacara baca koran.

Saya menurunkan halaman koran yang saya baca menggunakan suryokonto. Jack, oleh anak-anak muda di kampung ini dipanggil Sam Jack, nama aslinya sebenarnya Joko. Putra bungsu tetangga depan rumah.

Jack belum sebulan pulang kembali ke orang tuanya. Sebelumnya, bertahun-tahun ia mengembara, entah kemana. Katika pulang, ia masih tetap joko, joko thir alias belum ada gadis yang berhasil ia kait. Mungkin, karena kesukaannya mengembara itu tak ada anak perempuan yang berani dikawininya. Mungkin.

“Apanya yang luar biasa? Dari dulu juga begini-begini saja.” Saya memancingnya. Saya suka pikiranya, khas anak muda yang kritis.

“Wah, Bapak ini. Tiap hari baca koran tapi tak tahu perkembangan. Hiiii..” Katanya sambil menyeringai.

Ya kan? Keluar ciri mudanya? Saya hanya tersenyum sambil memandang matanya yang masih kusut.

Lantas ia berapi-api dengan gaya deklamasinya. Negara sekarang telah memberi pengakuan kepada desa sepenuh-penuhnya. Senyata-nyatanya. Sudah tidak lagi ditempelkan pada Kabupaten. Negara telah mengaturnya dengan Undang-undang tersendiri, bernama Undang-undang Desa. Negara mengakuinya dengan memberi kewenangan untuk mengatur dan mengelola bidang-bidang yang bersekala desa. Negara tidak hanya memberikan pengaturan atas kewenangan tetapi juga diberi duit.

“Apa tidak luar biasa.” Katanya menutup orasi.

Saya hanya manggut-manggut, antara mengagumi dan bertanya-tanya, seluarbiasa itukah Jack menterjemahkan desa sekarang?

“Satu milyar Pak, setahun. Coba kita belikan kerupuk, dan kita rentengi. Keliling desa ini tak akan muat. Haha....” Jack ngakak.

Saya juga ikut tertawa pelan. Apalagi dibelikan dawet, dapat dipakai renang orang sekampung. Haha.

“Kamu yakin orang desa bisa mengatur duit segitu? Kalau menghabiskan sih gampang.” Saya mencoba meragukan pendapatnya.

“Kalau sekarang, undang-undang ini masih baru, Pak. Butuh penyesuaian. Adaptasi.” Katanya masih dengan semangat muda.

Katanya, lima tahun lagi tidak akan ada warga desa ini yang susah-susah cari kerja di Arab, Malaysia, atau Hongkong. Mereka akan betah di kampung, memproduksi ini itu untuk dijual ke negara-negara pengimpor TKI. Kita akan menjadi warga desa yang tidak diremehkan oleh mereka yang merasa bisa membeli kita.

“Wah, kamu memang anak muda yang tergolong idealis Jack. Kamu sedang terkesima. Kalau duit itu dikorupsi kepala desa atau cariknya atau bendahara desanya atau digerogoti ramai-ramai?” Saya memberi kemungkinan lain.

“Ya, bapak memang tergolong orang tua. Orang tua suka pesimis sih.” Sekali lagi Jack menyeringai.

“Melaksanakan undang-undang desa ini, ibaratnya orang lagi belajar naik sepeda.” Jack meneruskan. “Ia perlu dituntun, diajari, didampingi. Salah itu biasa. Kecuali kalau ia sudah bisa naik sepeda, kemudian kebut-kebutan dan kejlungup, kita tinggal bilang: kapokmu kapan.”

Saya katakan kepada Jack, kalau sekedar omongan gampang, tapi melaksanakan itu berat. Semua orang lagi belajar, lantas siapa yang mendampingi, mengajari orang desa mengelola duit besar itu.

“Kan, ada pendamping desa?” Potongnya.

“Apa ada pendamping desa yang sudah fasih undang-undang desa dan pelaksanaanya?” Saya bicara sungguh-sungguh.

“Kan ada saya? Haha..” Wajahnya tampak menyala, seperti menyimpan api harapan. “Ingat Pak, ada saya.” Katanya lagi sambil ngeloyor pulang. Air mukanya berseri.

“Jack! Kamu mau jadi pendamping desa?” Teriak saya.

Sam Jack hanya mengangguk.

“Kalau kamu gak diterima sebagai pendamping desa? Bagaimana?” Sambungku.

“Saya akan dikontrak ini..” Ucapnya sambil menunjuk dadanya. “Dikontrak hati nurani.”

Sam Jack lenyap ditelan pintu rumah orang tuanya. Semoga kamu bisa menjadi pendamping desa Sam Jack. Desa ini membutuhkan pemuda cerdas dan idealis sepertimu.


Iman Suwongso

/imansuwongso

TERVERIFIKASI

Ketika angin berhembus kutangkap jadi kata.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana