Kotak Suara

Para Swing Voters Adalah Realita Pragmatis, Pilkada DKI Jakarta Mereka Merapat ke Kelompok Hijau

22 April 2017   08:51 Diperbarui: 22 April 2017   09:19 188 3 4

Hasil perhitungan dari KPUD telah final dan telah dapat dilihat persentase jumlah suara masing-masing yakni Ahok - Djarot mendapatkan 42.05% dan Anies - Sandiaga mendapatkan jumlah suara 57.95%. Hasil raihan ini sebenarnya merupakan fakta yang luar biasa diluar dugaan semua pihak. Baik dari kubu Ahok sebagai petahana maupun Anies sebagai penantang. 

Selisih hingga 15.00 % adalah sebuah tamparan keras bagi semua pengamat dan timses Ahok yang membaca profil para voters. Apalagi pengamat yang tendensius seperti Charta Politika yang menurut penulis sudah bias etnis. Founder dari lembaga bodong ini adalah Yunarto Wijaya yang dahulu sebelum menjadi begitu pragmatis adalah seorang yang bisa dengan narasi yang deskriptif menjelaskan fenomena yang dia rangkum dari hasil survey. Entah karena etnisitas menyebabkan pria muda ini menjadi begitu naif dan telanjang menunjukkan keberpihakannya yang menghasil blunder fatal di kubu Ahok.

Melihat kembali hasil Pilkada DKI Jakarta pada putaran kedua tahun 2012 lalu yang dimenangkan oleh Jokowi - Ahok 53,82% dan Foke - Nachrowi yang 46,18 yang banyak pihak menyebutkan kemenangan kaum Merah (abangan yang terafiliasi dengan PDI Perjuangan) dan Nasionalis (multi etnis dan multi agama) atas kelompok Hijau (pemilih yang terafiliasi kepada sejumlah partai yang mencorakkan platform agama). Euforia kaum abangan sangat kental dengan simbol baju kotak-kotak (orisinalitas) yang kemudian berusaha di copas oleh Ahok saat Pilkada 2017 ini. Dengan tingkat partisipasi sebesar 77.10% sehingga di duga para voters masih berayun hingga KPUD menetapkan pemenang kontestasi.

Dan sebuah potret nyata yang terjadi di Pilkada tahun ini adalah tingkat partisipasi yang meningkat yakni sebesar 78.00% yang kemudian dimungkinkan melabuhkan pilihannya pada Anies - Sandiaga. Pertanyaannya, apa latar belakang para pemilih tersebut hingga kesannya menggebuk dengan keras Ahok - Djarot hingga tersungkur dengan persentase yang benar-benar diluar dugaan semua pihak. Bahkan kekuatan parpol untuk menggiring konstituen mereka kepada paslon yang didukung secara resmi oleh parpol tidak serta merta dipatuhi. Dan ada lagi sebuah fenomena yang menarik saat secara struktural terkesankan Nahdlatul Ulama menyatakan bahwa "halalnya" seorang non muslim seperti Ahok untuk dipilih oleh para nahdliyin di Ibukota Jakarta. Namun fakta yang susah untuk ditolak adalah, adanya pembangkangan para nahdliyin tersebut secara struktural dan lebih manut kepada ajakan dari para ulama atau habaib. Mereka mematuhi perintah kultural. Dan Ahok meluputkan hal yang teramat penting ini dan memilih untuk melanjutkan serangannya seperti verbal abusing kepada ulama kharismatik seperti KH. Ma'ruf Amien. 

Mereka akhirnya seperti mendapatkan "obyek" musuh bersama. Bandul telah jatuh, para pengayun telah menjatuhkan bandul pilihannya kepada Anies sehingga selisih suara yang ekstrim tersebut menjadi sebuah anomali secara angka namun normal secara sejarah perpolitikan di Indonesia.

Secara umum pola kecenderungan orientasi politik di Indonesia hanya terdiri dari tiga kelompok atau kaum saja, yakni; 

  1. Nasionalis, yang kemudian menjadi representasi para voters yang mengabaikan sudut sensitif seperti agama
  2. Abangan, sebuah fenomena kelompok radikal dengan orientasi feodalisme absurd yang diwakili oleh satu-satunya yakni PDI Perjuangan
  3. Agamis, yang juga kemudian hanya diwakili oleh voters pada pilkada tahun ini mbalelo dari parpol dan memilih untuk takzim dan manut kepada komanda para ulama dan habaib

Selebihnya adalah para petualang politik yang pragmatis seperti beberapa kelompok yang bermasalah dengan kaum agamis, mungkin sedikit mendapat perhatian dari kaum nasionalis dan menjadi bandul pemberat timbangan di kaum abangan.

Pada Pilkada kemaren, jika merunut kepada sejarah kemenangan Jokowi - Ahok tahun 2012 lalu adalah sebuah antitesa karena saat itu Jokowi berhasil mematutkan dirinya sedemikian rupa dan tidak memprovokasi kaum agamis dan masih membuat sejumlah kantong suara masih bersikukuh untuk abstain dan memilih untuk melihat sebagai penonton saja. Dan Ahok memilih untuk memicu persengketaan dengan kelompok yang kemudian disakiti dengan melabeli sebagai kelompok radikal dan ekstrimis.

Alih-alih meredamkan Jokowi malah memicu alergi dan kontroversi dengan juga memilih sikap politik yang menjauhi Ahok menduduki puncak kemenangan. Upaya kriminalisasi sejumlah ulama di garis depan yang melakukan perlawanan kepada aksi konyol Ahok di Kepulauan Seribu mampu menarik simpati yang selama ini susah diberikan oleh swing veoters. Ahok menyiram bensin dan Jokowi melemparkan apinya.

Bahkan, bisa jadi hasil Pilkada DKI Jakarta 2017 ini adalah kemenangan sela dari kelompok pemenang untuk tahun 2019 nanti. Selang waktu kurang dari dua tahun bisa semuanya akan mengerucut kepada antipati kepada sikap-sikap politis Jokowi yang menendang kaum agamis dan para swing voters yang muak melihat perlakuan tidak patut dari pasangan yang pernah memenangkan pilkada tahun 2012 lalu ini.

Studi untuk melihat potret perlawanan kepada kubu abangan yang galau dan sejumlah parpol pragmatis seperti Nasdem dan Hanura ini adalah Pilkada Jawa Barat yang akan memberikan kita setidaknya sebuah gambaran profil pre-konstelasi politik tahun 2019 nanti. Apakah Ridwan Kamil yang akhir-akhir ini nyinyir kepada umat (baca : kaum agamis) akan mendapatkan hukuman yang sama seperti yang diterima Ahok? Wallahu 'alam

Salam Anti Galau!