Imam Kodri
Imam Kodri karyawan swasta

Formal Education Background in UPDM (B) Of Bachelor’s Degree of Politics and Social Science, majoring of Public Administration and Master Degree, Majoring of Human Resources. Worked in various private companies over 30 years, such as: PT. Pan Brothers Textile as HRD Assistant Manager, PT. Sumber Makmur as HRD Manager, General Personnel Manager at PT. Bangun Perkarsa Adhitamasentra, Senior Manager of HRD and General affair at PT. Indoraya Giriperkarsa, Headmaster of Kelapa Dua High School, and the last, Head of the General Bureau and Human Resources at ISTN Jakarta.

Selanjutnya

Tutup

pilihan

Jika Pemilu Presiden Hari Ini, Jokowi Pasti Kalah

12 Agustus 2017   17:48 Diperbarui: 13 Agustus 2017   07:07 2892 7 6
Jika Pemilu Presiden Hari Ini, Jokowi Pasti Kalah
ebf3bfe1-7ae3-428f-aa5b-000ab82bcf00-169-598f981c2d7acb2838242712.jpg

                                 foto by: Suara Rakyat

Tak disangka setelah banyak didera prahara kasus Ahok di Pilkada DKI Jakarta, tingkat kepuasan publik dan elektabilitas Presiden Jokowi masih tetap tinggi.  Menurut hasil Litbang Kompas dan SMRC elektabilitas Jokowi di bulan April 2019 mencapai angka 41.6 % dan tingkat kepuasan publik mencapai angka 63,1%. Hal ini berbeda jauh dengan Prabowo yang menjadi rivalnya ketika pemilu presiden dua tahun lalu. Demikian pula tes survey yang dilakukan oleh lembaga survey terkenal SMRC, lagi-lagi tingkat kepuasan publik dan keterpilihannya Jokowi mencapai angka yang lebih tinggi lagi. Tingkat elektabilitas mencapai angka 53,7 % sedangkan tingkat kepuasan publik mencapai angka 67 %.  

Namun lagi-lagi itu semua adalah angka-angka hasil survey, yang tidak bisa dijamin 100%  bahwa jika pemilu Presiden diselenggarakan hari ini bisa menjadi ukuran pasti, bahwa Jokowi pasti menang.  Sebab banyak faktor yang mempengaruhi terhadap pemilih, apakah akan memilih Jokowi atau tidak. Contohnya sederhana saja, misalnya kasus Ahok, karena tingginya angka-angka elektabilitas dan kepuasan publik di banyak lembaga mengatakan bahwa Ahok pasti menang, tidak mungkin ada yang dapat mengalahkannya, ternyata hasil Pilkada, Ahok malah kalah telak.  

Berkaca dari peristiwa pilkada Jakarta, bila pemilu Presiden dilaksanakan hari ini Agustus 2017, kemungkinan besar Jokowi juga akan kalah. Kenapa demikian? Ada 9 faktor yang menyebabkan Jokowi bisa dipastikan kalah dalam pemilu presiden apabila pemilu diadakan hari ini. Yaitu:

Pertama:Karena kedekatannya Jokowi dengan Ahok, Jokowi akan disamakan dengan Ahok. Sentimen anti Ahok menular kepada Jokowi. Sehingga pemilih dari manapun asalnya, apapun etnis dan agamanya  yang semula tidak memilih Ahok tidak suka kepada Ahok, merekapun tidak akan memilih Jokowi. Karena bagi bagi mereka Jokowi sama dan sebangun dengan Ahok. Oleh sebab itu kalahnya Ahok di Pilkada sama saja dengan kalahnya Jokowi di Pemilu Presiden.

Kedua: Masyarakat dan para pengusaha kaya yang semula dukung Ahok, sekarang rame-rame meninggalkan Ahok, dan demikian rame-rame juga meninggalkan Jokowi. Pengusaha-pengusaha kaya yang didominasi etnis cina, dukungan yang diberikan bukan sekedar dukungan moral tetapi kemungkinan lebih dari itu, oleh sebab itu Jokowi akan kehilangan salah satu kekuatan dalam pemilu apabila tidak ada seorangpun pengusaha cina yang mau peduli padanya.

Ketiga: Faktor lain yang tidak kalah pentingnya adalah dukungan partai politik kepada Jokowi akan mengalami penurunan signifikan terutama partai-partai politik yang sudah membaca kearah mana publik suaranya akan diberikan pasca kasus Ahok. Menurut pengamatan Parpol suara dukungan suara akan diberikan kepada figur yang tegas, dan tidak mencla mencle. Selama menjabat sebagai Presiden, Jokowi sering terlihat gamang dalam setiap pengambilan keputusan, terutama pada masa pemerintahannya tahun pertama, mulai gonta ganti pembentukan kabinet, kisruh komjen Budi Gunawan, hingga masalah reshuffle cabinet.

Keempat: Kasus penistaan Al Maidah 51 oleh AHok di Pulau Pramuka oleh para anti ahok dan mayoritas pendukungnya akan digoreng menjadi isu baru yang berkisar isu agama dan kali ini sasarannya adalah Jokowi, yang dinilai terlalu membela si penista agama. Dengan isu baru yang masih berkaitan dengan al Maidah 51 maka Jokowi akan semakin tidak populer dikalangan manyarakat muslim. Dan dampaknya saat itu langsung kepada keengganan masyarakat Indonesia untuk memilihnya kembali.

Kelima: Persoalan proyek-proyek besar masa kepemimpinan Ahok akan berlanjut menjadi isu baru yang berkaitan dengan kepemimpinan Jokowi, penyebaran isu negatif berkaitan dengan keberpihakan hanya kepada etnis tertentu dan sangat merugikan Indonesia.  Persoalan-persoalan Jakarta dan sekitarnya akan dijadikan ramuan isu yang panas, menggairahkan tetapi sekaligus menjatuhkan Jokowi.  Dan dampaknya adalah masyarakat Indonesia tidak akan memilihnya.

Keenam: Bila pemilu Presiden diselenggarakan hari ini, Jokowi pasti kalah, karena isu negatif akan membanjir menghantamnya. Seperti halnya sosok Jokowi yang begitu mudah disangkut pautkan dengan isu komunis, isu asing-aseng, pemimpin yang tidak tegas, sosok petugas partai, penghutang terbesar, kurang peduli kepada umat Islam, dan lainnya yang sangat tidak mungkin Jokowi dapat membelanya dengan cepat dan tepat, karena kini Jokowi telah banyak ditinggalkan para pendukungnya terutama umat Islam dari kalangan NU.

Ketujuh: Jokowi akhir-akhir ini sering berseberangan dengan partai pengusungnya terutama PDIP dan partai lainya yang tergabung dalam KIH, persoalannya terkait eKTP meluas mengarah kepada angket DPR. Dalam kondisi seperti ini Jokowi sebenarnya sedang mengalami kondisi darurat politik, kondisi yang sangat berat. Karena untuk mengembalikan menjadi stabil diperlukan mesin politik yang handal, waktu dan tenaga profesional namun yang paling penting adalah tersedianya dana  yang tidak sedikit. Dana? dari mana dana itu diperoleh, sedangkan para konglomerat pendamping Ahok sudah mulai menjauh,

Kedelapan: Berikut adalah fenomena atas kemenangan yang luar biasa dari Anies Baswedan-Sandiaga Uno atas Pilkada DKI 2017, menjadi senjata ampuh bagi lawan politik Jokowi untuk menyerang Jokowi, yaitu Jokowi sosok yang lemah, sesungguhnya Jokowi tidak mempunyai kekuatan apa-apa yang perlu dibanggakan oleh Indonesia. Isu ini akan sangat mudah termakan terutama kepada kelompok yang semula beseberangan dengan Jokowi dan Ahok. Isu ini pasti dengan mudah diramu terutama oleh Koalisi Merah Putih yang di gawangi oleh 5 kekuatan partai politik yaitu PKS, GERINDRA, PPP kubu Jan Faridz, PAN, dan Demokrat. Sedangkan dari KIH gara-gara masalah Ahok: PDIP, PKB, PPP nya Romi, NASDEM, HANURA, kian terpecah, tidak lagi menjadi solid,

Kesembilan: dan paling sensitif yang sedang menerpa Jokowi saat ini adalah Jokowi diindikasikan banyak berseberangan dengan banyak kelompok organisasi masa Islam. Organisasi masa Islam masih beranggapan Jokowi kurang peduli kepada mereka, mengabaikan dengan membiarkan seharian berjibaku dengan panas dan keringat yang sebenarnya hanya ingin sekedar bertemu dan menyampaikan uneg-unegnya. Belakangan yang dianggapnya paling menentukan bagi Jokowi apakah dapat terpilih kembali atau gagal dalam pemilu Presiden adalah, Jokowi mulai melecehkan kaum Nahdliyin, mengabaikan saran dan usul para Kiyai yang berkaitan dengan Permendikbud No 23 tahun 2017. Jokowi terindikasikan mengadu domba antara NU dan Muhamadiyah, dan menterpurukan pendidikan dasar di kalangan Nahdliyin, yang selama ini menjadi basis terbentuknya kader Ahlussunnah Waljama'ah Annadliyah.

Itulah sembilan faktor yang menjadi penyebab Jokowi bisa dipastikan kalah dalam pemilu presiden apabila pemilu diadakan hari ini. Sebenarnya, masih banyak yang belum bisa diungkap disini bagaimanapun uraian bentuk opini tersebut diharapkan dapat memberikan terapi kepada Presiden kita Bapak Jokowi dan jajarannya agar bekerja lebih baik. 

Kini Agustus 2017 bulan yang dibanggakan oleh bangsa Indonesia, bulan yang mempunyai nilai-nilai sejarah perjuangan bangsa. Bulan dimana Indonesia merdeka dicapai dengan cucuran keringat, air mata dan darah. Oleh sebab itu seluruh rakyat Indonesia sangat mengharapkan kepada Presiden kita Bapak Jokowi adanya isu yang demikian deras memukul beliau, sebagaimana yang disebutkan seperti diatas, tidak menjadikan kendor patah semangat, tetapi dapat memicu semangat untuk memperbaiki kepemimpinan beliau sebagai Presiden Repoublik Indonesia sampai tuntas masa baktinya  2019. Dan selanjutnya Hanya Tuhan Yang Maha Esa, Tuhan Yang Maha Tahu, Tuhan Yang Maha Menentukan, segala sesuatu bergantung kepada-Nya.  

Jakarta 12 Agustus 2017