Josephine dan Jesus

11 Juni 2012 03:16:33 Dibaca :

Ruangan yang tidak begitu luas dipenuhi oleh banyak pengunjung, seorang pria berpenampilan kucel dengan rambut setengah botak berdiri dengan mimik tegang di sudut ruang, kacamata baca bergelantung di dadanya.


Sementara ada sesosok perempuan berwajah timur tengah dengan cantolan ala suster berbicara dengan mic didepannya. Ruangan ber-AC tidak mampu meredam suhu bicaranya. Dan banyak anak-anak muda dengan penampilan ala mahasiswa terkini dengan baju t-shir bertuliskan, “Yesus, Who dan Why” di dada mereka membuat kesan yang sangat merdeka. Yah, merdeka dalam artian sebenarnya, karena ruang privat mereka tidak boleh diganggu gugat oleh siapapun.


Perempuan itu bernama Josephine Kareema, wanita yang baru saja mentasbiskan pengunduran dirinya dari kecintaannya kepada Tuhannya. Wanita kelahiran Palestina itu duduk dengan anggun meskipun dia telah didaulat untuk segera dipancung di Palestina karena telah menorehkan luka dalam di sanubari rakyat Nasrani di negri tiga agama samawi itu.


“Suatu yang muskil aku temukan pada iman-ku, mempercaya yang tidak konsisten. Bayangkan sebuah rasa ta’at kepada yang tidak pasti. Aku bertanya kepada kalian, apakah Yesus itu Tuhan? Mereka bilang tentu saja Dia Tuhan, oke…..apakah Yesus itu AnakNya? Sementara aku bingung mencintai antara Bapak dan Anaknya?...Ayo lah kita bangkit dari kebuntuan logika ini!”


Perempuan yang disebelah wanita bertampang Arab itu membisikkan kalimat ke kupingnya, bibirnya mengatup dengan rapat dan menggelengkan kepala dengan pendek.


Tiba-tiba ruangan itu dibanjiri oleh tumpah ruah belasan manusia dengan baju serba putih dengan ikat kepala pun berwarna putih dengan kalung rosasio berukuran besar di leher mereka. Ada tulisan dengan ukuran besar “ We Love Jesus!!” dengan warna merah.


Pria yang tadi berdiri di sudut kamar meloncat dengan sigap dan memajukan tangannya menahan laju seorang pemuda. Tangannya bertumpu pada dada pemuda tersebut.


“Apa-apan ini? Ini sebuah dialektika keilmuan? Kalian mau apa?”


Wajahnya memerah semerah saga, matanya dipenuhi oleh urat-urat mata yang juga berwarna merah. Rambut kusut masainya member kesan dia sangat kurang istirahat. Sehingga batas emosinya sangat pendek.


“Ini rumah saya, ini balai cendikia kami!,….kalian mau berdialog?...ayo sini…sini…kita berdialog!”


Plak!!!!....


Tamparan keras menerpa pipinya yang dipenuhi cambang tak terurus.


Apa-apan ini?...ini kekerasan…ini kekerasan…saya akan laporkan ke polisi!...kalian anarkis!!!


Matanya merah padam, ke-cendikiawannya lenyap sudah. Mulutnya berbusa-busa mengucapkan sumpah serapah tanpa kendali. Kursi lipat yang berwarna biru sudah berapa banyak yang dia tendang sepenuh hati.


Yah…kami anarkis.,…kami melakukan kekerasan dan …….kami tidak peduli dan tidak akan pernah peduli. Jika ibu anda dibilang lonte, sundal dan pelacur sialan,….apakah kalian akan mengajak dialog? Bullshit dengan segala dialektika,…kehormatan jauh lebih penting dari sebuah dialektika. Hak privat kami juga menuntut hal yang sama. Kami tidak akan melakukan dialogis untuk penghinaan ini, kita akan berdialog ketika dia, perempuan sundal itu segera enyah dari negeri ini. Kami sudah capek dan mual atas segala basa-basi toleransi busuk dan rusak”




Persinggungan emosi begitu buncah di ruangan itu. Bahasa-bahasa ilmiah tidak lagi merajai lagi karena kehormatan tidak bisa saja diselesaikan dengan ekspresi akademis. Wajah-wajah mereka yang memakai baju putih yang bertuliskan "We Love Jesus" pun dengan ekspresi yang sama, urat leher mereka menebal dan wajah mereka kelam oleh emosi yang sangat.


Ruangan kecil itu semakin sempit dan sesak oleh kerumunan emosi, semua masing-masing menempelkan dada antara mereka. Pekikan "Haleluyah" bergema di seantero ruang itu. Bunyi kaca pecah bertaburan dan pekik wanita ketakutan menciptakan horror tersendiri. Sekejap ruangan yang sebelumnya datar intonasi emosinya telah berubah buncah tumpah.


--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------




Mohon ma’af kepada umat Nasrani jika mengambil setting agama ini, semua untuk memberikan sensasi emosi yang sama, juga berdasarkan hal sama yang menimpa penganut agama Budha yang melakukan protes untuk sebuah bar yang memberikan nama Budha Bar. Semoga tidak berarti saya melecehkan agama-agama ini.


Irshad Manji tidak sekedar membahas sebuah tela’ah akademis untuk kebebasan berfikir jika dia telah memberikan banyak ruang pada bukunya mengenai topic jilbab seperti kondom dan Muhammad mengutip ayat-ayat setan. Paragraf demi paragrafnya telah mengiris sembilu keimanan kaum Muslim. Ruang privat (katanya) telah mendobrak ruang privat individu yang lain.


Ketika kekerasan dikuasai oleh mereka artinya, ketika definisi saling bertarung untuk diperebutkan. Jika saja makna liberalisme di"curi" oleh penganut mazhad kekerasan, apakah juga salah? Toh liberalisme yang digembor-gemborkan kaum pencinta kebebasan.


Agama adalah hal yang berbeda dengan pemahaman yang berbasis kepada budaya atau olah rasa dan pikir manusia. Dia tidak bisa disejajarkan begitu saja tanpa piranti kesantunan.


Mana mungkin umat Nasrani akan mengajak dialog atau melakukan dialektika budaya jika ada oknum masyarakat membuat patungnya Yesus dengan alat kelamin yang sedang ereksi dengan ukuran besar kemudian diletakkan di halaman Katedral plus tangan kanannya membentuk salam tiga jari. Meskipun ada tulisan dibawahnya berbunyi " Atas nama kekayaan budaya dan ketinggian estetika. Mohon jangan dianggap sebagai penodaan agama". Saya berani bertaruh (ma'af bukan berjudi maksudnya), kaum Nasrani akan segera melakukan;


1. Menutup segera patung tersebut dengan kain


2. Mengajukan pengaduan ke Sentra Pelayanan Kepolisian dan akan menuntut pencemaran nama baik.


3. Sebagian dari umat akan melakukan demo yang mungkin saja akan berubah menjadi anarkis setelah diketemukan oknum pematung tersebut.


Semoga hal ini jangan sampai terjadi karena akan menghanguskan buku-buku akademis dan umbaran celotehan filosofis dari kaum pluralisme dan liberalisme dan congkak dengan embel-embel humanisme.

Imam Prasetyo

/imam.prasetyo

Suka Membaca, Bapak yang Bahagia dan Seorang Muslim
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?