Menuju Kesuksesan Part II

01 Agustus 2012 15:18:21 Dibaca :

Menuju Kesuksesan Part II

Terdiam ditengah malam

Terhempas ditelan kabut awan

Tak ada secercah cahaya

Menyelimuti kehidupan

Inilah masa keemasan Permasalahanku dengan teman-temanku”

Hari Sabtu tepat pengumuman penjurusan kelas XI . Aku dan kawan-kawanku pun melangkah ke sekolah . Menunggu dan menunggu yang saat itu kami rasakan. Pukul 11.00 wib berputar tetap saja pengumuman belum ada. Ku lihat jam tanganku , detik demi detik pun arah jarum jam berputar.Pukul 12.00 wib ternyata kami pun masih dan tetap saja menunggu perasaan yang cemas dan diselingi dengan canda tawa kami tak menjadi tegang. Tiba-tiba ada yang menghampiriku.

“Melissa kamu jurusan  IPS?” ujar nana salah seorang temanku.

“Haaah..IPS?”” ujar ku kembali dengan tersontak kaget.

Pikiran ku makin lama tak karuan hatiku masih berdebar kencang antara bingung dan senang karena aku mempunyai keinginan untuk masuk jurusan itu. Pukul 13.00 wib pun pengumuman di tempel di dekat ruang BK. Aku serta kawan-kawanku lari menuju sumber Pengumuman .

“Yee.. aku IPA...” terdengar suara itu di telinga sebelah kiriku.. Ahh IPS... terdengar pula suara itu di telinga  kananku. Aku masih terasa pilu dan bingung tak karuan.Tiba-tiba ada yang menghampiriku lagi dan teriak “Melisaaaaaaaaaa kamu IPS 2” Ujar febri salah seorang temanku yang ternyata sama-sama satu kelas denganku di Ips. “Haaaaaaaaaah.. IPS 2?”,jawabku. Ternyata benar yang di bilang nana aku IPS lalu aku melihat pengumuman itu sambil berdesak-desakan.

“Ya allah yang masuk IPS 2.. mereka.. merekaaaaa”, gumamku dengan bimbang

Ku tatap nama – nama itu , aku merasakan ada yang berbeda setelah aku melihatnya.

Ku lihat kawan-kawanku teriaaak “Yes.. IPA yiikhuuuuuuuuuuuu” terlintas di benakku rasanya mereka nampak bahagia sekali masuk jurusan itu, tapi mengapa aku yang sebelumnya ingin ke IPS mengapa hatiku tak karuan rasanya ingin menangis dan seakan rapuh.

“Ya Allah haruskah ku teruskan berjuang di jalur ini?”,gumamku.

Hari pertamaku tiba dimana hari itu adalah hari pertama aku masuk di kelas Istimewa yaitu XI IPS 2 yang disingkat Cisarua.

Awal perkenalan dengan kawan-kawanku baru belum terasa berkesan namun entah mengapa pikiranku berubah namun di sisi lain ada yang istimewa yaitu Wali kelas ku yaitu Bu Rima. Beliau adalah guru yang terkenal pandai bergaul dengan siswa-siswanya. Aku menyukai sosok beliau.

Hari kedua pun berjalan. Pagiku ku langkahkan kaki ku menuju XI IPS 2 yang dulunya bekas X-1 .

“Assalamu’alaikum”,kataku dengan membuka pintu kelas.

Ketika ku buka pintu kelas dan ternyata kosong,sepi, belum ada siswa pun yang datang. Ku duduk di deretan bangku depan. Ku menghela nafas ingin rasanya ku menangis. Entah roh apa yang masuk pada jiwa dan pikianku. Kutatap kursi-kursi tua itu . “X-1 ? Ingat kawan-kawanku.. Ingat sahabat-sahabatku..”, gumamku dalam hati. Kelas ini mengingatkanku dengan mereka banyak sekali kenangan di kelas ini.

“Ya Allah aku merasa sendiri, apa aku pantas di kelas IPS? Aku ingin kembali seperti dulu bersama sahabat-sahabatku”, bisik hatiku

Kuteteskan air mataku dan sesekali ku usap.

Bel masuk pun berbunyi anak-anak semua telah berkumpul. Pelajaran pertama .. keduaa.. dan seterusnya. Ku lihat tatapan guru-guru berbeda setelah masuk di IPS..”Ada apa ini? Mengapa seperti ini? Belum apa-apa saja guru-guru yang mengajar di IPS 2 terasa mendidik dengan keras”, gumam batinku

Pelajaran Geografi pun tiba. Kami semua diam karena guru geografi memang terlihat galak namun sangat disiplin.

“Ya semuanya .. Kalian sudah masuk di IPS tapi saya belum melihat nilai-nilai anda semuanya ! Saya akan meneliti apakah anda pantas masuk kelas saya atau akan ada diantara kalian yang saya keluarkan”, Tegas Pak Rudi dengan suara sedikit keras.

Kami semua terkejut.

Bel pulang pun berbunyi dan kami pun pulang. Setelah sampai dirumah aku bergegas menuju kamarku dan berganti baju. Ku baringkan tubuhku dan mulai menarik nafas. Pikiran ku selalu saja galau dan gundah . Mama ku tiba-tiba masuk ke kamar “ Kenapa sayang kok gundah, apa ada masalah?”, tanya beliau.

“Sebenarnya aku tak merasa nyaman ma di IPS”, jawabku (sambil menangis)

Airmata yang sedari ku tahan tak dapat ku bendung lagi. Ibuku menghapus air mataku “ Sabar sayang dari awalkan mama sudah bilang ke IPA saja, maaama enggak ingin kamu terjerumus dengan anak-anak IPS yang terkenal nakal walaupun kamu nakal tapi mama juga enggak tega melihat anaknya terjerumus dengan pergaulan sekarang,” ujar mama dengan mengelus kepalaku sedari menenangkanku

Penyeselan memang selalu datang terakhir begitu pula dengan aku . Aku menyesal karena aku tak menuruti perintah mama yang ingin aku masuk ke IPA.

Tiba-tiba Handphone ku berbuyi ku lihat layar itu 1 pesan diterima, ku buka sms itu dan ku baca “ Lisaa kamu mau pindah ke Ipa gak, soalnya teman kita Dwi ingin pindah ke Ips..”,seperti itukah sms dari Ulya.

“Mau Ulya..tapi apa bisa Ul pindah jurusan? Aku kan dari IPS, tapi seandainya bisa tolong bilangin ke Dwi aku bersedia tuker dengannya”, balasku di sms.

“Oke deh ntar aku sampein ke Dwi, kalau kamu mau pindah suruh aja orang tua mu dateng ke sekolahan  terus bilang ke guru BK , gitu Lis”, ujar Ulya lagi

“Oke . maskasih Ulya infonya”, balasku kembali .

Keesokan harinya aku dan Dwi ke ruang BK, sesampainya disana ku beranikan diriku untuk masuk dan “ Assalamu’alaikum Pak”, sapaku

“Ooh Melissa, Iya Silahkan?”, jawab guru BK

Kemudian ku ceritakan semua permasalahanku ke guru BK  untuk mencari solusinya lalu aku pun keluar dari kantor tersebut dankembali ke dalam kelas. Hatiku semakin tak karuan  karena belum puas atas jawaban dari guru Bk. Ku putuskan mendatangkan papa ke sekolah. Setelah selesai semuanya akhirnya aku pun di pindahkan ke XI IPA 2.

“Deek belajar yaa.. papa mendukungmu”, ujar papa.

“Insya Allah pa..Trimakasih”, jawabku.

Seiring berjalannya waktusahabatku Tika menganggapku sombong setelah masuk ke IPA. Dia mencibirku lewat account facebooknya,

“ Halah nggaya masuk IPA. Belagu dari IPS ke IPA, Kalau aku jadi kamu aku Malu !!” ku temui tulisan itu di account jejaring sosialnya. Ingin sekali ku lontarkan komentar tapi aku tak ingin mencari masalah dengannya. Ku diamkan saja dia. Ku anggap hanya angin berlalu “ Mungkin dia iri padaku atau enggak paling dia di marahin mamanya gara-gara dia masuk IPS dan mungkin dia juga iri karena aku dekat dengan kawan-kawanku yang dari X-1”, gumamku.

Hari demi hari berlalu dan ternyata dia kembali mencibirku di account facebooknya. “Salah aku apa sampai-sampai sahabatku sendiri mencibir aku di account facebooknya? Astaghfirulah”, gumamku dengan mengelus dada..

Airmataku menetes ketika sholat, Ku panjatkan doa untuknya agar dia kembali seperti sahabat yang ku kenal dulu.

Hari kamis pun tiba. Aku dan kawan-kawanku masuk kelas. Ketika masuk kelas kawanku Ulya kehilangan Handphonenya.

“Lisaaa.. Hp ku.. Hp ku enggak ada di kantong saku ? Aduuuh Hp ku jatuh di kantin”, ujarnya.

Kemudian aku dan Ulya pun lari ke kantin dan setelah dari kantin. Ku lihat gerombolan anak dari Ips 2 menatapku dengan penuh sengit, Aku di cegah masuk kelas.

“ Heeh Melisaa aku mau ngomong sama kamu ?!” kata temanku dengan nada keras.

“Iya kami juga ingin bicara sama kamu”, ujar mereka

“Iya.. mau bicara apa? “ , jawabku dengan santai

“Heh. Enggak usaah blagu ya kamu fitnah aku.. kamu jelekin aku di depan Tika, maksud kamu apa?”, ujar Sofia

“Ngatain apa.. Coba jelaskan !”, jawabku

“Maksud kamu itu apa ngatain aku tentang kelakuanku yang dulu-dulu ke Tika, maksud kamu apa bicara sama Tika kalau teman yang deket sama aku pasti enggak bener..! Maksud kamu apa ngomong ke Tika enggak usah nyimpen rahasianya ke aku? Apa aku ini gak bisa jaga rahasia?”,Kata dia dengan lantang

“ooh.. Oke Sofia aku akan jelaskan ! Begini aku enggak pernah menjelek-jelekan mu di depan Tika, Kalau masalah aku bilang ke Tika tentang masalalu mu aku hanya curhat ke Tika  karena dia sahabatku .. Jadi sudah sewajarnyalah aku curhat ke sahabatku dan kalau tentang aku ngomong ke Tika enggak usah curhat sama kamu lagi karna waktu itu Tika curhat sama aku tentang kamu dan sudah sewajarnya aku ngasih saran ke dia”, jawabku dengan keras juga.

“Alaaaah.. Tipuu.... Jangan ngarang kamu?????!!!”, ujar sahara (teman Sofia yang ikut-ikutan)

“Sumpah.. Aku enggak bohong apalagi ngarang cerita sama kalian”, jawabku dengan santai

Ku lihat Tika hanya berdiri di sebelah Sofia dan dia hanya terdiam.

“Tika kalau kamu ada masalah sama aku tentang aku pindah jurusan ke IPA, jujur saja ! Ayo kita selesaikan ke guru BK dan ayo kamu ngomong ke papa ku kalau kamu enggak suka nglihat aku pindah ke Ipa”. Ujarku dengan memberi penjelasan ke Tika.

“Waaaaaaaaagu.. Apaaaa... biasa aja kali ?”, jawabnya

“Astaghfirullah Tika sekarang berubah dia membongkar rahasiaku ke depan publik padahal aku tak pernah membongkar rahasianya sedikitpun”, gumamku dalam hati.

“Oke ,.. begini saja aku mengakui aku salah sudah curhat ke Tika tentang kamu tapi curhat ku itu sudah dulu sekali dan kenapa baru di bicarakan? Oke. Aku minta maaf Sofia sama kamu, Aku janji aku tak akan mengulangi apalagi menjelek-jelekanmu tak akan pernah terjadi itu lagi”, jawabku dengan melontarkan permintaan maafku.

“Alaaaaaaaaaaaaaaaaaaah.. cabut aja deh sofia ! Ngapain maafin orang ini !”, celoteh Dwi dan Sahara.

“Astaghfirullah”, ujarku

Lalu mereka semua meninggalkanku dan menyebarkan gosip-gosip tentangku agar anak-anak Ips membenciku.

Aku pun setelah itu masuk kelas dan Meymey temanku bertanya

“ Kenapa kamu Melisa, muka mu memerah .. Ada apa?” , tanyanya.

“Iya muka mu beda Lis..”, imbuh Lidya

“Enggak ada apa-apa kok .. biasa masalah anak muda”, jawabku dengan senyum.

Ku lihat ternyata di kelasku ada mata-mata dari geng nya Sofia

“Astaghfirullah”, batinku

Bel pulang pun berbunyi. Aku pun bergegas untuk pulang dan menceritakan tentang Tika ke mama. Ku perlihatkan cibiran dia dia account facebooknya. Mama tersontak kaget “ Sabar sayang inilah cobaan anak sekolah, anggap saja ini sebuah tantangan dan ujian dari Allah”, ujar mama dengan sedikit menyemangatiku

Hari demi hari ku langkahkan kaki ku ke sekolah “ Bismillahirrohmanirrohim”, bisiku dalam hati. Dan terus saja banyak juga diantara kawan-kawanku  mencibirku yang tak suka aku di IPA.

“ Ya Allah aku harus bagaimana?”, gumam batinku.

Namun di sisi lain sahabat-sahabatku jugaq memberiku semangat.

Sekarang aku mulai berpikir positive

“ Cibiran dia adalah kritik  yang membangun  sehingga aku menjadi orang yang kuat”

Gumam batinku.

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?