Lokalitas Islam-Jawa, Sahabat yang Saling Merindu

01 Maret 2012 00:03:22 Dibaca :

Lima orang mahasiswi asal Amerika Serikat sedang berada di Indonesia untuk mengenal lebih dekat kehidupan muslim di pedesaan Jawa. Demikian kepala berita yang saya baca di situs voanews.com, Selasa 28 Februari 2012.





Lima orang mahasiswi asal Amerika Serikat itu mencoba mengikuti irama hadrah yang dinyanyikan sejumlah perempuan enggota jemaah masjid di Plosokuning, Yogyakarta. Hadrah adalah tradisi masyarakat Jawa yang dipengaruhi  budaya Islam.

Lima mahasiswi asal Amerika Serikat itu adalah Emma Janeczko, Alexandra Manges, Katelyn Borholdt,Taylor Adamski, dan Ilia Fiene, yang datang dari kota-kota berbeda di Amerika. Katelyn Borholdt, mewakili kawan-kawannya, sebagaiana dikutip dalam situs voanews.com menyatakan sangat berterima kasih bisa bermain musik dan mengenal lebih dekat tradisi Islam di masyarakat Jawa.


Kawasan Plosokuning, Yogyakarta tersebut adalah salah satu pusat perkembangan Islam di masa Kerajaan Mataram di Jawa. Masjid tempat mereka belajar hadrah telah berumur lebih dari 200 tahun.  Menurut Muhsin Kalida, fasilitator program ini, para mahasiswi itu memang datang untuk melihat langsung kehidupan umat muslim pedesaan di Indonesia, yang sangat berbeda dengan apa yang mereka bayangkan sebelumnya.

Selama ini Islam dianggap ekstrem, teroris dan lain-lain. Sementara realitas Islam di Jawa sebenarnya sangat jauh, bahkan bertolak belakang dengan citra seperti itu. Islam-Jawa, yaitu Islam yang kemudian bersinggungan dan hidup harmonis dengan nilai-nilai moral dan etika Jawa, sangat menjunjung sikap toleran, memanusiakan manusia atau nguwongke wong, antikekerasan.

Jawa sendiri--dalam konteks ini berarti kebudayaan Jawa--sepengetahuan saya sebagai orang yang lahir dan besar di ranah kebudayaan Jawa sangat Islami, yaitu cinta damai, menghormati manusia lain, empati terhadap kondisi orang lain, toleran, mengutamakan dialog dan antikekerasan.

Ketika nilai-nilai kejawaan itu bersinggungan dengan nilai-nilai Islam yang bersemangat rahmatan lil alamin, rahat bagi seluruh alam, bukan hanya rahmat bagi muslim atau pemeluk muslim, maka yang terjadi bukanlah "dialog" antara Jawa dan Islam. Yang terjadi justru "bertemunya sahabat lama" yang saling merindu.

Nilai-nilai kemanusiaan yang berakar dari budaya Jawa sama sekali tak bertentangan dengan
Isla yang rahmatan lil alamin itu. Dan kesan itulah,  menurut berita voanews.com itu yang ditangkap oleh lima mahasiswi asal Amerika Serikat itu ketika bertemu dan berinteraksi dengan wong Jawa yang beragama Islam.

Belajar hadrah hanya salah satu dari berbagai kegiatan yang dilaksanakan lima mahasiswi ini di Yogyakarta. Mereka juga sudah berkunjung ke pesantren-pesantren, melakukan serangkaian diskusi, dan juga mempelajari sejarah hubungan agama-agama di Indonesia. Agar lebih mudah memahami berbagai hal itu, para mahasiswi ini tinggal di keluarga-keluarga muslim dan mengamati kehidupan mereka.

Para mahasiswa ini dikirim oleh School of International Training di Amerika Serikat. Bekerja sama dengan sejumlah lembaga di Yogyakarta, lembaga ini memfasilitasi mahasiswa yang ingin mengenal lebih dekat kehidupan warga muslim di pedesaan Jawa. Diharapkan dengan melihat langsung kehidupan muslim Jawa, persepsi warga Amerika Serikat mengenai muslim bisa menjadi lebih baik.

Saya berpendapat akhir-akhir ini lokalitas Islam-Jawa sebenarnya masih mayoritas di tanah Jawa. Sayangnya, dari sisi suara mereka kalah dengan minoritas Islam yang berkiblat pada pemahaman Islam transnasional yang berakar pada tradisi Islam Timur Tengah atau Arab. Islam minoritas yang bersuara dominan ini sebenarnya tak mengakar dengan realitas historis Islam di Jawa.

Islam transnasional ini mengutamakan simbol-simbol yang lekat dengan budaya Arab. Pakaian gamis panjang, berjenggot lebat bagi laki-laki, memakai burqa bagi perempuan, adalah bagian kecil dari "identitas Islam baru" yang kini suaranya dominan walaupun minoritas dari sisi kuantitas. Dan secara kualitas, sebenarnya mereka ini juga ahistoris dalam konteks realitas Islam yang datang, tumbuh dan berkembang di Jawa.

Mempelajari Islam yang historis Jawa dan Indonesia semestinya memang seperti yang dilakukan para mahasiswi asal Amerika Serikat itu. Islam yang historis di Indonesia adalah Islam yang mengakar dengan budaya lokal keindonesiaan---tentu saja bukan dalam penafsiaran aspek teologinya, tapi penafsiran dari aspek sosiologis kulturalnya--salah satunya adalah Islam-Jawa yang memanifes dalam keyakinan teologis ala Nabi Muhammad SAW yang berbasis La illaha ilallah, tiada Tuhan selain Allah, dan secara sosiologis memanifes dalam nilai-nilai moral budaya lokal.

Mempelajari Islam ala Jawa (dan ala Indonesia) meniscayakan nirkekerasan. Islam di Jawa adalah model historis Islam yang selalui nguwongke wong, memanusiakan manusia, antikekerasan, sangat menghormati manusia lain, toleran dan menjunjung tinggi hakikat perbedaan dalam bingkai nilai-nilai kemanusiaan yang universal. Dan itulah hakikat Islam yang rahmatan lil alamin, yang sejak beratus tahun lalu sudah memanifes di Indonesia dan lebih khusus di bumi Jawa.

ichwan prasetyo

/ichwan.prasetyo

Saya jurnalis, suka membaca buku, suka mengoleksi buku, suka berkawan, tak suka pada kemunafikan. Saya memilih lebih baik hidup terasing daripada menyerah pada kemunafikan.
Selengkapnya...