Regional

Transformasi Komunikasi Kebencanaan Menuju Masyarakat Sadar Bencana

14 September 2017   20:35 Diperbarui: 14 September 2017   20:53 71 0 0

OLEH MOCH. ROCHIM, DEDE LILIS CH, DAN NOVA YULIATI. Berikut merupakan paparan tentang apa saja yang disampaikan. Pada penelitian ini penulis ingin membahas mengenai bencana. Penulis ingin mengetahui apakah masyarakat sadar dan juga mengantisipasi bencana, khususnya banjir yang terjadi di aliran sungai Citarum. Sungai citarum merupakan sungai terpanjang di Jawa Barat Ada komunitas yang ikut andil dalam transformasi kebencanaan ini yaitu komunitas Garda Caah dan Jaga Balai di Kecamatan Majalaya Kabupaten Bandung. 

Komunitas ini memberdayakan diri untuk mengantisipasi dan berusaha untuk menanggulangi bencana banjir dengan menggunakan sumer daya manusia yang ada yaitu warga setempat. Menurut penelitian ini bencana di Indonesia masih belum bisa ditanggulangi dan proses penanggulangan bencana sangat penting. Penanggulangan yang diinginkan adalah proses yang tepat, benar, dan juga terarah agar bencana yang ada di Indonesia dapat terminimalisir terjadi. 

Pemerintah dianggap masih gagap untuk menghadapi bencana karena dinilai dari komunikasi bencana yang kurang terorganisir atau dijalankan. Ada hal yang lain yang mempengaruhi komunikasi dari bencana yaitu simpang siurnya informasi yang ada. Untuk meminimalisir itu perlu adanya komunikasi yang efektif agar dapat berinteraksi dan menyeimbangkan ego saat terjadinya interaksi dengan kelompok individu lainnya.

Dari pengertiannya, bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau faktor nonalam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis (menurut Undang-undang no 24 tahun 2007 pasal 1 ayat 1). Berangkat dari pengertian bencana akan lebih baiknya kita sebagai masyarakat akan lebih peka terhadap dampak yang diberikan oleh bencana yang terjadi agar dapat diminimalisir lagi. 

Berkaitan dengan bencana banjir di sungai Citarum, bencana banjir ini sudah menjadi langganan di daerah tersebut. Bencana banjir di sungai Citarum ini berdampak besar karena membuat penghubung antara Kabupaten Bandung dan Kota Bandung terputus, sehingga terjadi kemacetan parah pada daerah Dayeuhkolot hingga Banjaran. Beberapa faktor penyebab banjir di wilayah Kabupaten Bandung yaitu hilangnya bantaran sungai, penyempitan alur sungai akibat pembangunan pabrik dan rumah serta perubahan fungsi hutan di kawasan hulu sungai.  Bagi warga setempat kehadiran dari Komunitas Garda Caah menjadi wadah yang tepat untuk berbagi informasi mengenai bencana banjir yang terjadi. 

Menurut koordinator komunitas Garda Caah mengharapkan penanggulangan banjir dari pemerintah hanyalah sebuah mimpi di siang hari, yang artinya sangat minim untuk bisa terealisasikan. Untuk mendapatkan informasi tentang banjir saja warga masih sangat lambat mengetahui pemberitaannya sehingga mereka terkena dampak dari bencana banjir ini dan sangat merugikan mereka. Karena terjadi keterlambatan-keterlambatan tentang segala informasi maka muncullah komunitas Garda Caah untuk dapat menampung informasi mengenai bencana banjir serta mengevakuasi saat terjadi banjir.

Menurut penelitian ini, Garda caah adalah sebuah komunitas yang berawal dari anak muda yang berlatar pecinta alam yang bersepakat untuk bergabung dalam sebuah wadah yang bernama Sasak Kondang. Garda Caah didirikan sejak tahun 2002. Dilihat dari katanya satu persatu Garda berarti penjaga atau pengawal dan Caah berarti banjir. 

Jadi jika disatukan menjadi penjaga atau pengawal banjir. Garda Caah berawal dari penamaan operasi tanggap darurat yang kemudian berubah menjadi komunitas kesiapsiagaan banjir. Untuk sedikit menanggulangi banjir ada Sistem Peringatan Dini Banjir yang merupakan pemberswadayaan untuk memenuhi kebutuhan informasi terkait hujan dan tinggi muka air sungai hulu Citarum sebagai informasi peringatan dini banjir. Sistem Peringatan Dini Banjir dilembagakan oleh komunitas Garda Caah dan Jaga Balai untuk meminimalisir dampak banjir sehingga mereka menyusun prosedur tetap untuk Majalaya. 

Sistem Peringatan Dini Banjir menjadi bagian yang penting dari mekanisme kesiapsiagaan masyarakat karena peringatan dini menjadi faktor kunci penting yang menghubungkan tahap kesiapsiagaan dengan tahap tanggap darurat. Peringatan seperti ini diharapkan dapat mampu mengurangi dampak suatu peristiwa.

Pentingnya sistem jaringan informasi bisa menjadi fungsi penting untuk membantu mengurangi rasa cemas seseorang. Dengan adanya informasi yang jelas ini akan lebih bisa membuat setiap orang dapat memercayai ketika adanya suatu berita tentang bencana. Informasi juga dapat mengubah perilaku dari seseorang karena informasi tersebut akan menambah pengetahuan seseorang sehingga seseorang akan sadar dan melakukan suatu hal sesuai apa yang diketahuinya dari informasi tersebut. Informasi tentang kebencanaan jika disampaikan secara cepat dan tepat akan mengurangi kerugian jika terjadinya bencana. 

Penyebaran informasi akan lebih efektif jika menggunakan media. Media saat ini sangat berkembang untuk menyampaikan segala macam informasi. Dalam upaya ini pn Garda Caah memanfaatkan media sebagai penyebaran informasi untuk peringatan dini bencana. Jika informasi yang disampaikan di media itu tersebar maka akan menimbulkan kesiapsiagaan masyarakat untuk menghadapi bencana sesuai dengan informasi yang diterima. Penyebaran informasi ini menggunakan media seperti Grup SMS, Grup WA, Facebook, Telepon, dan HT.

Meskipun sudah menggunakan berbagai macam media untuk penyebaran informasi, namun kenyataannya masyarakat masih minim pemahaman akan bencana. Dalam hal ini perlu adanya gerakan untuk menyikapi oleh komunitas Garda Caah yaitu pelatihan mitigasi bencana. Garda Caah mengadakan sosialisasi tentang pentingnya menjaga kebersihan dan kelestarian Citarum kepada anak-anak sekolah, dan juga agar masyarakat tahu mengenai Citarum ada pula dalam pembagian brosur dimuat mengenai langkah kecil untuk menanggulangi banjir yaitu hanya dengan tidak membuang sampah di sungai. Komunitas sangat berupaya untuk mencegah banyaknya korban bencana dengan mengantisipasi kemungkinan terjadinya bencana. Karena sedikit saja perubahan yang terjadi dari masyarakatmya akan berdampak besar juga bagi alamnya.