Mercy
Mercy wiraswasta

Pengalaman manis tapi pahit, ikutan Fit and Proper Test di DPR.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora featured

Nyepi di Bali, Tak Terlupakan

20 Maret 2015   22:09 Diperbarui: 28 Maret 2017   06:00 888 8 8

Belakangan ini bagi saya waktu cepat berlalu, dan eh tiba-tiba sudah masuk Maret 2015 dan besok, Hari Nyepi. Jadi ingat pengalaman beberapa tahun lalu, saya dan dua anak menikmati NYEPI di Bali.

Awalnya karena tiket murah, tanpa mengecek apakah itu hari libur atau enggak. Akhirnya persis kami mendarat di Bandara Ngurah Rai Bali sebagai penumpang pesawat terakhir. Suasana di Bandara sudah terasa sepi, karena mungkin banyak karyawan yang merayakan Nyepi sehingga malam menjelangnya mereka harus mempersiapkan diri.

Saat hampir selesai mengambil bagasi, petugas Bandara segera mengatakan, silakan langsung ke luar karena lampu akan dimatikan (saat itu sudah sekitar pk 23an). Saya dan anak-anak mau tidak mau menunggu jemputan dari keluarga yang tinggal di Bali. Janjinya pk 23 sudah sampai Bandara, yang letaknya tidak jauh dari tempat tinggalnya. Namun sudah lewat 30 menit, jemputan belum datang. Sementara suasana Bandara di malam Nyepi benar-benar berbeda. Taksi yang biasanya bersliweran, jemputan yang tidak henti, para pegawai hotel yang mengangkat papan untuk mencari tahu nama tamu-tamunya, semuanya malam itu tidak ada.

Bisa dibilang,kami adalah penumpang terakhir di Bandara yang penuh patung kayu dan patung batu indah itu. Sempat dag dig dug juga karena bagaimana kalau tidak dijemput dan kami menginap di Bandara,yang sepi banget. Restoran saja tutup semua, tukang jual snacks dan donat juga tutup. Waduh, itu membuat saya agak kelabakan karena tidak punya pesiapan karena  tidak pernah tahu sebenar-benarnya bagaimana proses acara Nyepi di Bali.

Persis 10 menit menjelang pk 24.00 jemputan kami tiba. Supir meminta maaf karena terjebak kemacetan pawai ogoh-ogoh di berbagai jalan dari siang sampai saat itu juga. Dan ternyata malam itu masih ada saja pawai ogoh-ogoh (patung melambangkan kejahatan).

Yang bikin saya tersenyum, jika selama ini patung lambang kejahatan itu berbentuk leak atau sejenisnya yang wajahnya bikin bulu kuduk berdiri, maka ternyata yang saya lihat malam itu berbeda. Ada ogoh-ogoh berbentuk wanita cantik bertubuh bahenol lengkap dengan rokok di jarinya. Atau ogoh-ogoh yang terdiri dari dua manusia sedang bersepeda motor.  Yang tampil berupa sosok jagoan playboy yang ditampilkan dengan tubuh sickpacknya dan di belakangnya menempel ketat ogoh-ogoh perempuan berdada penuh.Hmm

Melewati patung-patuh ogoh-ogoh yang menurut saya dibuat dengan tingkat kreatifitas tinggi,  sayangnya besok semua patung kertas itu akan dilebur dalam api sebagai simbol semua kejahatan dan kenajisan dalam fisik dan jiwa sudah dibakar dan dilebur dalam api.

Ditegur Pecalang

Ketika sampai di rumah keluarga, saya terkejut karena berbeda dari biasanya. Semua lubang jendela ditutupi kertas koran bekas. Untuk apa?

Kenapa begitu?  Karena kita adalah pendatang dan tidak merayakan Nyepi, maka begini cara yang aman. Tetap menghormati warga setempat yang hampir semuanya ikut Nyepi, tetapi kita tidak kesepian. Ini memang harus kita lakukan supaya tidak ada cahaya yang keluar, karena Nyepi memang saatnya untuk menutup diri dari suara, cahaya, dan berbagai makanan dan godaan dunia selama ini.

Maklumlah, kita semua sudah jadi "budak komputer dan gadget" dan rasanya tidak mampu berpisah selama 24 jam. Hehehe. Memang sekalipun saat menyepi, tentu tidak mungkin ikut "musuhan"  dengan gadget dan komputer. Jadi walaupun henning sekali suasana di dalam rumah, tetapi ternyata penghuninya tidak bosan karena sudah menyiapkan strategi.

Namun namanya anak-anak, ada saja suara berisik. Dan tiba-tiba terdengar bunyi batu dilempar ke genteng rumah.  Oh ternyata itu teguran dari para pecalang yang bertugas, agar segera berhenti berbicara, apalagi membuat suara gaduh.

Demikian juga saat anak bermain gadget ternyata pantulan sinarnya menembus gorden depan, dan kembali lagi ada lemparan batu peringatan bagi kami yang "terdampar" saat  Nyepi. Pengalaman itu saya nilai positif karena memberi pencerahan bagi kedua anak saya, bahwa tradisi itu layak dilestarikan, layak dihargai.

Suasana yang super sepi itu membuat saya hanyut dalam kontemplasi, menggali semua potensi diri yang bisa dikembangkan. dan juga introspeksi atas berbagai hambatan yang belum berhasil saya lalui.

Selamat NYEPI buat sahabat Kompasianer yang merayakannya.

Selamat Ber KONTEMPLASI buat kita semua, melebur yang jahat dan najis untuk memiiliki jiwa suci dan kuat dalam menjalani kehidupan penuh dinamika.