Temanku Mau Mundur

10 Juni 2012 08:36:07 Dibaca :

"Saya kepengen mundur, Bun," kata teman saya, seorang PNS di PEMKAB.

"Waduh, Mi, kalau mundur, siapa yang bakal berbenah di dalam?" tanya saya prihatin.

"Kalau cuma sendiri (baca: sedikit), tidak banyak yang bisa dilakukan..," katanya lagi.

Sore itu, kami berbincang-bincang tentang banyak hal. Tentang program-program cantik pemerintah yang tidak berjalan maksimal karena banyak tukang sunat dadakan. Atau program-program besar yang tidak substansial, hanya mercu suar saja. Tampak wah,  tapi tidak menyentuh akar persoalan, hanya indah sesaat.

"Dinas Pendidikan itu Dinas yang paling susah diatur. Dana membanjir, tapi kebocoran meluber kemana-mana," itu curhatan orang lain lagi.

"Bapak saya tidak kuat didalam," itu cerita seorang rekan yang bapaknya bekerja di sana dan  dikenal lurus.

"Pak X mengundurkan diri, waktu saya tanya, dia bilang tidak tahan dengan segala permainan didalam," itu cerita orang lain lagi.

Saya jadi ingat pengalaman sekian tahun lalu. Ketika itu diadakan lomba membuat cerita anak dan mendongeng oleh Dinas  Pendidikan . Saya mendapatkan juara satu tingkat kabupaten. Tidak ada trophy, tidak ada piagam, atau hadiah apa pun.  Beberapa bulan kemudian, saya menerima titipan sebuah bungkusan kecil.

"Ini Bun, kenang-kenangan untuk pemenang lomba," kata yang membawa. Saya membukanya, dan menemukan sebuah sapu tangan handuk, kecil. Saya ngakak habis-habisan, asli. Dinas Pendidikan Kabupaten, memberikan hadiah sejenis ini? Memprihatinkan! Saya berkali-kali mengadakan acara anak-anak bersama teman-teman, dan bisa menyediakan hadiah yang jauh lebih baik dari sekedar sapu tangan handuk kecil!

Kali lain, saat  lembaga PAUD saya menerima bantuan untuk Taman Pengasuhan Anak. 18 juta rupiah. Bantuan itu turun saat saya masih di luar kota selama sebulan untuk pelatihan. Kepala Sekolah saya menelepon.

"Bun, tadi datang orang Dinas Pendidikan, minta jatah 15%," lapornya.

"Lalu?"

"Aku tanya, Bun, buat siapa. Katanya buat orang-orang Dinas Pendidikan KAbupaten dan Propinsi," Bunda Kepala Sekolah menjelaskan.

"Lalu?" tanya saya lagi. Sungguh penasaran saya, bagaimana caranya ia menyelesaikan ini.

"Aku tanya, Bun, begini: 'Memangnya gaji Bapak tidak cukup ya, kalau tidak dapat dari ini?'. Gitu, Bun," jawabnya. Wah, keren nih. Blak-blakan sekali dia!

"Apa katanya," pancing saya lagi.

"Katanya gini, Bun: 'Ya, kalau gak dapat tambahan begini, nggak cukup, Bun.'," ceritanya.

Bapak itu tolol! Saya geli sendiri.

"Aku tanya juga, Bun. KAlau kita gak ngasih, apa akibatnya? Kata Bapak itu, tahun depan akan dipersulit kalau mengajukan bantuan lagi," lanjutnya.

Hm, gitu ya?

"Gimana, Bun? Kita kasih nggak?" tanyanya.

"Lha, menurut para Bunda bagaimana?" pancing saya lagi.

"Kita sepakat gak mau, Bun. Tapi terserah Bunda juga," jawabnya.

Alhamdulillah, saya lega mendengar tekad mereka.

"Kita coba tegak, kan, Bun? Walaupun sendiri?" tanyanya lagi.

Baik, deal. Kami sepakat tegak. Dan terjadilah desakan itu kembali. Saat pertemuan para Kepala Sekolah yang lembaganya menerima bantuan sejenis (dari TPA hingga TK), lembaga kami kembali disindir tentang setoran itu.

"Apa yang Bunda katakan?" tanya saya.

"Aku bilang, kami tidak berani karena itu HARAM!" jawabnya tegas.

Subhanallah, alhamdulillah. Dan memang terbukti ancaman mereka; setiap proposal kami masuk, selalu dihadang dengan berbagai alasan. Tak apa, bumi dan isinya ALlah yang punya, begitu para Bunda berkata.

Kembali kepada teman saya tadi. Setiap kami bertemu, banyak cerita tentang kegelisahannya tentang segala permainan kotor. Juga usahanya untuk memperbaiki sesuai batas kewenangannya.

"Aku sudah terkenal sebagai orang yang sulit," katanya.

Saya tercenung.  Di tengah segala keruwetan dan kebobrokan, satu dua usaha mungkin terkesan tidak memberikan efek apa-apa. Tapi tidakkah itu lebih baik, dari pada tidak melakukan apa pun?

Saya berharap ia tidak mundur. Walaupun usahanya tidak membuahkan hasil yang banyak, tapi saya yakin ALlah Maha Tepat perhitungannya. Di tengah segala kebaikan atau  keburukan, kita hanya dihitung berdasarkan perbuatan masing-masing, bukan?   Diatas segala jabatan dan kekuasaan, batasannya  hanya ada dua: perbuatannya baik atau buruk.

Itu saja yang akan kita bawa. Jadi, bertahanlah, temanku!

Umi Bunda

/ibuguruumi

Ibu, Guru, dan Pembelajar..
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?