Mayoritas Artikel Situs Seword.com Isinya Provokatif, TNI dan Jokowi Harus Bertindak

22 April 2017 09:31:36 Diperbarui: 22 April 2017 09:47:41 Dibaca : Komentar : Nilai : Durasi Baca :

Sejak kemarin saya berusaha mencari-cari sumber berita hoax yang menyebarkan pemberitaan Investigasi Palsu wartawan Amerika Allan Nairn tentang Pilkada DKI 2017 selain Tirto.co.id. Akhirnya semalam saya menemukan sebuah situs yang bernama Seword.com.  terkejut saya ketika membaca isi dari artikel-artikelnya. Ternyata situs ini sebagai salah satu penyebar berita-berita bohong yang ada di seputaran Pilkada DKI 2017.

Seword ini kelihatannya sebuah situs diskusi politik khusus yang merupakan perkumpulan pendukung Ahok. Agak mirip Kompasiana yang isinya kebanyakan opini netizen tetapi sangat jelas terbaca artikel-artikel didalamnya  tidak ada yang memoderasi.

Adminnya kelihatannya hanya satu orang. Ada kolom opini khusus dengan judul KOLOM PIMPINAN. Ada 1 artikel terlihat disana dibuat oleh penulis bernama  Alifurahman. Kelihatannya memang penulis inilah yang menjadi  pemimpin redaksi di Seword.com.

Berbeda dengan Kompasiana maupun Tirto.co.id, Situs ini ternyata Situs Pribadi  karena isinya juga ada Kolom Khusus Penjualan Kaos. Ada tertulis besar-besar kolom PEMESANAN KAOS.

Saya menyoroti beberapa artikel-artikel yang ada di situs ini. Dan kesimpulannya Situs ini adalah Situs Provokatif.  Bahkan oleh Pemiliknya pembaca ditawari menuliskan opininya disana dengan imbalan Rp. 3 per hit pembaca. Mungkin ini yang menjadi penyebab artikel-artikel tidak dimoderasi.

Cukup aneh juga, situs berjualan kaos berani menawarkan imbalan besar bagi penulis opini disana.

Dari hal yang saya cari kemarin ternyata saya bertemu artikel terpopuler yang menyebarkan berita Investigasi Palsu wartawan Amerika itu.  Sebuah artikel dengan judul :

Allan Nairn Ungkap Peran Harry Tanoe, Tommy Soeharto, Fadly Zon, Dibalik Gerakan Makar Melalui Kasus Al-Maidah

Artikel ini dibaca 74 ribu pembaca dan dikomentari sebanyak 185 komentar. Kemungkinan besar artikel inilah yang  akhirnya disebarkan orang-orang yang tidak bertanggung-jawab  ke medsos-medsos yang ada.  

Mereka yang menyebarkan tidak perduli  apa isi artikelnya yang jelas-jelas mendiskreditkan TNI kita.  Saya tidak bisa menyimpulkan alasan mereka yang menyebarkan artikel provokatif ini. Mungkin mereka barisan pembenci TNI atau mungkin mereka hanya benci Harry Tanoe, Tommy Soeharto dan Fadly Zon.

Dari TNI dikabarkan sudah mengklarifikasi  isu Makar TNI yang disebut Allan Nairn. Tetapi TNI mungkin tidak sempat mencari sumber penyebar isu itu di Media social.  Kalau saja TNI tahu Seword ini sebagai salah satu penyebarnya, tentu situs ini akan diperingatkan.

Artikel  Fitnah kepada TNI berikutnya berisi provokasi fitnah kepada TNI dan Prabowo. Artikel itu  berjudul : Allan Nairn, Amerika dan Orang-orang Munafik di Sekitar Prabowo

artikel yang dibaca 13 ribu pembaca dan dikomentari 21 kali ini berisi artikel yang mendiskreditkan TNI kita. Saya kutip satu alineanya sebagai berikut :

“Militer kita itu ternyata masih kekanak-kanakan. Mereka takut wibawa mereka runtuh jika rakyat banyak mengetahui kebusukan mereka di masa lalu. Padahal rakyat tetap akan mencintai Negara ini meskipun kebenaran diungkap semuanya. Tindakan panas kuping yang ditunjukkan militer kepada media seberani Tirto adalah stagnasi gaya kekerasan mereka. Mestinya, jika mereka menganggap Tirto dan Allan Nairn memfitnah, buka di pengadilan, buktikan sebaliknya.”

Penulis-penulis di Seword ini entah karena membenci TNI atau karena ingin mencari sensasi lalu membuat opini sesuka hatinya. Sungguh terlalu menyebut TNI kita kekanak-kanakan. Apa tolok ukurnya? Bagaimana mungkin penulis-penulis Seword bisa percaya begitu saja semua perkataan Allan Nairn.

Artikel provokatif selanjutnya berisi fitnah kepada Prabowo dengan judul :

Terbongkar Video Prabowo Bagi Gratifikasi! Umroh bagi Muslim dan Wisata Rohani bagi Nasrani! Isu SARA Terbantahkan!

Artikel yang dibaca 140 ribu orang dan dikomentari 146 orang ini berisi fitnahan terhadap Prabowo berbekal  potongan Video berdurasi  0:55 detik. Bagaimana bisa sebuah video dengan durasi kurang dari 1 menit yang isinya obrolan berkelakar dari belasan pimpinan parpol  dikategorikan sebagai sebuah statement dari seorang Prabowo yang mengaku melakukan gratifikasi.

Pada gambar video tampak Prabowo, Harry Tanoe, Anies Baswedan dan belasan orang lainnya sedang bertemu dan membicarakan Pilkada DKI.  Mereka sedang berbincang dan berkelakar dan beberapa orang sedang berdebat kecil sambil tertawa-tawa.  Beberapanya saling bersahut-sahut sehingga isi pembicaraan tidak jelas apa yang dibicarakan.  Memang ada perkataan Prabowo tentang Umroh dan Yerusalem tetapi tidak jelas itu perjalanan siapa dan dibiayai oleh siapa.

Kalau saja video itu disiarkan secara utuh tentu semua pembaca akan bisa mengetahui  apa isinya. Tetapi penulisnya sengaja memotong videonya tinggal durasi 55 detik dan dia sendiri yang menterjemahkan sebagai pembagian jatah Umroh dan wisata religi ke Yerusalem terkait Pilkada.

Sangat provokatif. Karena bicara soal Umroh, Ahok sendiri dengan biaya Pemprov DKI mengumrohkan ratusan marbot.  Harry Tanoe juga sering mengumrohkan pegawainya maupun marbot.  Mengapa kalau benar Prabowo mengumrohkan orang dipersoalkan?

Kecuali kalau Prabowo bagi-bagi Sembako menjelang Pilgub DKI barulah itu patut diberitakan.

Dan artikel provokatif terakhir yang sempat saya tulisan disini adalah artikel yang dibuat pemilik situs Provokatif itu, Alifurrahman dengan judul :

70% Rakyat Jakarta Puas Atas Kinerja Ahok, Tapi tak Memilihnya Karena Agamanya Beda

Dari judulnya saja sudah provokatif. Dari nama penulisnya sepertinya dia beragama Islam tetapi tulisannya mengejek warga muslim DKI. Dari judulnya saja dia sudah mengasumsikan warga muslim Jakarta tidak memilih Ahok karena Ahok bukan Islam.  Ini darimana tolok ukurnya?

Saya kutip salah satu alinea artikelnya yang menjelek-jelekkan warga DKI. Diatas artikel itu dia membuat statistic sendiri antara lain tingkat kepuasan warga DKI terhadap Ahok tetapi akhirnya tidak memilih Ahok.  Berikut kutipan alinea yang merendahkan warga  DKI:

“Tidak peduli seberapa bagus kinerjanya, kejujuran, ketegasan, program serta pengalamannya, jika tidak seagama maka mereka tidak pantas untuk memimpin. Sebaliknya, sekalipun tidak bisa bekerja, tidak jujur, tidak tegas, tidak jelas programnya dan tidak berpengalaman, asal seagama masih bisa diterima.”

Penulis ini mengaku sebagai Analis Politik. Saya tidak pernah dengar sama sekali namanya disebut media manapun ada Analis Politik bernama Alifurrahman.  Sepertinya ini hanya klaim dirinya sendiri.

Bila melihat isi artikelnya , tidak ada satupun indikasi bahwa cara berpikirnya sebagai analis. Isi artikelnya hanya ungkapan kekecewaan yang amat sangat dari seorang pendukung Ahok yang kalah. Tetapi mengapa sampai dia berani menyimpulkan mayoritas warga DKI pemilih SARA?

Sungguh ini situs memang provokatif. Seharusnya Pemerintah memperingatkan dengan keras pemilik-pemilik situs seperti ini yang gemar sekali menyebarkan berita Hoax.

Salam Kompasiana  

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.
LABEL media

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana