Yuhesti Mora
Yuhesti Mora Guru, enterpreneur

Menulis karena ingin menulis. Hanya sesederhana itu kok.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora highlight

Ketidaksengajaan dan Kegembiraan Membuat Taman Baca

14 September 2017   13:03 Diperbarui: 14 September 2017   13:10 506 3 0

Ada dua hal yang selalu ingin mereka---para mentor dan anak-anak TBM---ketahui dari saya. Pertama, siapa bilang bahwa saya memimpikan mendirikan TBM dari bertahun-tahun yang lalu?

Percayalah bahwa ini hanyalah sebuah ketidaksengajaan saja. Ruang TBM yang digunakan itu tadinya saya pakai sendiri untuk menyepi, mengurung diri bersama-sama rak-rak yang penuh dengan buku-buku yang jumlahnya hanya sekitar dua ratusan yang saya kumpulkan semasa hidup saya dari sekedar hobi maupun karena kewajiban studi. Pada waktu itu saya sedang bermimpi siapa tahu kelak saya berhasil menjadi seorang penulis. Sampai suatu hari, tiga dari mereka mengetuk pintu keras-keras. Mereka mengatakan hendak mengerjakan tugas sekolah dan meminta bantuan. Lalu esoknya mereka pun datang lagi dan mengerjakan tugas-tugas baru dengan mengajak teman-teman mereka yang lain.

Entah bagaimana menghabiskan waktu di tempat itu bersama saya yang sibuk sendiri di sudut ruangan toh tidak membuat mereka takut untuk datang lagi. Dan itulah awalnya, yang  saya syukuri pula. Ada sesuatu yang berubah dalam keseharian saya dan saya pun menerimanya dengan senang hati. Jadi kami belajar bersama, saya tetap dengan deadline yang saya tetapkan sendiri dan mereka dengan pekerjaan rumahnya masing-masing. Setelah pekerjaan rumah selesai dikerjakan, agenda selanjutnya biasanya membaca puisi. Agenda membaca puisi ini yang pada mulanya adalah saya yang iseng menggagaskan, sebab pada waktu itu buku-buku yang dapat mereka hanyalah buku-buku puisi saja dan lalu menjadi agenda rutin yang direquest khusus oleh mereka.

Kemudian setelah membaca puisi usai agenda selanjutnya adalah menari yang pada masa itu saya hanyalah sebagai penikmat penampilan mereka dari sudut ruangan, masih di hadapan layar laptop, membayangkan diri bukan hanya sekedar menjadi teknisi tetapi menerima kehormatan menjadi penonton VVIP bagi setiap bakat yang mereka tunjukkan. 

Dalam hati saya berbisik, semoga mereka juga bisa sebebas ini menampilkan siapa diri mereka (apa adanya) tanpa perlu dinilai tanpa perlu penghakiman. Tidak pula muluk-muluk untuk mengubah dunia atau apa, saya hanya berpikir setidaknya di tempat ini mereka bermain seperti layaknya anak-anak bermain (dalam definisi saya) tanpa televisi, tanpa video game, tanpa gadget. Hanya ada buku, bola, kertas-kertas origami dan semacamnya.

Selanjutnya dalam perbincangan kepada seorang sahabat karib saya, ia memberi tahu perihal TBM dan akhirnya itu yang membuat kami akhirnya menetapkan bahwa di ruang itu akan kami dirikan TBM. Oleh sebab itulah meskipun sudah dimulai pada november 2016, namun secara administrasi semuanya baru dimulai pada awal tahun 2017.

Jadi, pada masa sekarang, jika ada yang bertanya perihal kurikulum atau perencanaan program dan sebagainya. Saya hanya bisa bilang mohon maaf bahwa kami tidak mempunyai kurikulum ataupun perencanaan program yang terstruktur. Semuanya hanya dilakukan atas dasar suka-suka dan tidak terencana. 

Semua yang kami lakukan menyesuaikan dengan kondisi saat itu, baik itu saya, para mentor maupun mereka. Semuanya mengalir begitu saja. Mengingat kami ini sedang mengelola sebuah Taman Baca saya rasa hal yang demikian sah-sah saja sebab tujuan kami yang sebenarnya adalah agar anak-anak betah datang dan membaca.

Meskipun terlihat seperti tidak serius dan terkesan main-main, dari dua ratusan buku pada mulanya, saat ini kami telah mempunyai kurang lebih seribu seratus buku hasil dari membangun kemitraan dari komunitas-komunitas yang relevan dan sumbangan para donatur dan selain aktifitas baca dan peminjaman buku, sejauh ini kami sudah menyelesaikan hal-hal sebagai berikut pada semester 1 pada tahun 2017, yakni program bimbingan belajar; project sains yakni kipas angin portable, kincir air DVD bekas, elektroskop sederhana), demonstrasi lava, demonstrasi keajaiban air; Dari kelas menari kami mempunyai satu kelompok tari dan telah mementaskannya di acara perpisahan RA; Mementaskan satu grup storytelling di acara perpisahan RA; Membuat prakarya antara lain: bunga dari tali plastik, diary berbahan dasar koran, pot/wadah pensil dari botol bekas, membuat berbagai dekorasi ruangan TBM; Dari kelas menulis kami telah membuat banyak karya antara lain, puisi, cerita pendek, gambar, dan komik yang disusun dalam sebuah buku yang dicetak sendiri; Dan untuk bersenang-senang kami sudah membuat film pendek dan video-video pembacaan puisi, storytelling dan sebagainya.

Pada semester 2 pada tahun 2017 ini, karena saya pikir semester lalu kami telah belajar mengenal, memahami, membuat, mengevaluasi, membuat lagi, mengevaluasi lagi melalui kelas-kelas yang kami selenggarakan, kenapa tidak jika sekarang anak-anak ini membuat lagi sekaligus belajar mempublikasikannya melalui video-video ala youtubers.

Pemikiran demikian muncul tatkala saya memikirkan game yang sering dimainkan anak-anak. Game tersebut selalu berupa sekumpulan tantangan yang diselesaikan dengan tingkatan-tingkatan tertentu. Jadi melihat betapa betahnya anak-anak memainkan game tersebut, saya lantas berpikir kenapa tidak konsep belajar di TBM meniru aspek psikologis yang sama dengan game tersebut. 

Karena tahapan pembelajaran semester lalu, cara berpikirnya adalah mentor mengajarkan atau mendemonstrasikan sesuatu kemudian mereka melakukan tanya jawab dan akhirnya mencontohkan apa yang telah dipelajari. Mengapa tidak semester ini paradigmanya ditingkatkan menjadi level dua, yaitu mentor bersama-sama mereka mencari-cari ide cerita, tari kreasi atau demonstrasi sainsnya terlebih dahulu dari berbagai referensi, bisa dari membaca buku, menonton video-video edukatif kemudian mereka mencoba membuat cerita, gerakan tari atau demonstrasi sainsnya sendiri dan yang terakhir membuat video bersama-sama.

Saya terinspirasi dari seorang Sugata Mitra yang dalam sebuah film dokumenter yang berjudul Future Learning mengatakan bahwa kita sedang menyiapkan anak-anak hari ini untuk masa depan, sebuah dunia yang tidak kita ketahui. Untuk itu, setidaknya ada tiga hal yang perlu dilakukan, yaitu mengajarkan siswa caranya membaca, caranya mencari informasi dan cara untuk percaya.

Saya ingin paling tidak menyiapkan dua dari tiga hal yang ia gagaskan itu pada anak-anak yang datang ke TBM. Saya hendak memberikan mereka paradigma baru, bahwa belajar tidak selalu datang ke sekolah, mendapatkan ilmu pengetahuan dari guru-guru, menghafalnya dan menjawab deretan soal ketika ujian melainkan dapat dilakukan di mana saja, kapan saja dan diperoleh dari siapa saja. Dan bahwa kehidupan itu bukan hanya soal menamatkan sekolah, bersegera bekerja dan menikah melainkan ada pula passion yang layak untuk diburu.

Kedua, siapa bilang bahwa saya selalu bergembira ketika mengelola TBM?

Suatu hari anak-anak bertanya perihal mengapa saya mendirikan TBM. Saya mengatakan bahwa saya hanya ingin kalian membaca. Namun di belakang mereka, di dalam pikiran saya sendiri saya mengatakan bahwa yang demikian itu karena saya ingin bahagia. Berbahagia dalam definisi saya adalah bergembira dalam melakukan sesuatu, apapun itu. Apakah saya akhirnya dapat selalu gembira? Tidak. Emosi seorang manusia selalu naik dan turun. Ada kalanya saya menjadi sangat bersemangat dan ada kalanya pula saya hampir ingin menyerah.

Saya merasa sangat bergembira ketika anak-anak bersemangat membaca buku sebab ada donatur yang menyumbangkan buku-buku baru atau ketika anak-anak yang selama ini belajar, berlatih menari dan storytelling akhirnya mendapatkan prestasi yang bagus di sekolah dan dapat tampil di sebuah acara.

Pada masa sekarang, saya melakukan evaluasi pada setiap anak-anak yang mengikuti setiap kegiatan beberapa bulan belakangan dan mengamati perubahan apa yang tampak dari mereka. Beberapa memang tidak begitu terlihat apakah pengaruhnya memang hanya dari kegiatan TBM sebab datangnya tidak terlalu rutin. Namun ada pula beberapa yang rutin mengikuti setiap kegiatan, perbedaannya sangat terlihat. Misalnya saja, Nisa dan Nami yang pada mulanya berada di kelas 6 dan 1 SD. 

Saat itu, pada waktu pertama kali agenda membaca puisi digelar, mereka tidak memiliki keterampilan baca yang baik dan masih terkesan malu-malu. Saat ini jika mereka di suruh membaca puisi, mereka dapat melakukannya dengan baik. Ada pula Zacky, Viroza dan Jeny yang menemukan tempatnya untuk berlatih tari, membaca dan membuat puisi. Viroza dan Jeny memiliki bakat menulis puisi sedangkan Zacky, ia ternyata memiliki bakat sebagai pembaca puisi dan menari lebih dari yang lain. Lebih dari itu ia pun bisa memikirkan gerakan tarinya sendiri. Ia hanya butuh persetujuan kami sebagai mentor untuk memastikan bahwa ia melakukan hal yang tepat. Adapula Aditya yang saat ini duduk di kelas 3 SD, ia ternyata bisa menulis puisi dan cerita lebih baik dari yang lain. Dan Ulan pada semester lalu menduduki peringkat empat dari yang sebelumnya tidak ada peringkat di sekolah.

Dalam suasana yang santai, saya menanyakan perihal apa yang mereka dapatkan dari belajar di TBM. Secara umum yang berubah adalah bahwa mereka menjadi lebih berani dan percaya diri dari sebelumnya. Saya mengatakan pada mereka bahwa keberanian dan rasa percaya diri yang mereka tunjukkan kepada saya juga semestinya ditunjukkan kepada khalayak di manapun. Mengingat-ingat hal yang demikian dan membaginya umpan balik ini dengan para mentor membuat kami merasa bahwa apa yang kami lakukan selama ini berarti.

Namun, ada pula saatnya saya merasa gamang misalnya saja ketika saya melakukan demonstrasi lava di hadapan anak-anak sekolah dasar. Demonstrasi itu membutuhkan air, minyak dan adem sari serta gelas sebagai perlengkapannya. Dan seperti demonstrasi-demonstrasi lainnya, ini tentu memakan dana. Setidaknya saya menghabiskan lima ribu rupiah untuk hari itu. 

Secara teori, saya bermaksud secara umumnya ingin menunjukkan betapa menariknya sains itu yang secara biaya, bagi saya itu sudah diminimalkan. Secara khususnya ingin memperlihatkan bagaimana cara kerjanya lampu lava yang sedang hits dan sekaligus memberi cara alternatif yang jauh lebih murah untuk menciptakan sensasi yang sama. Dan pada akhirnya mereka akan belajar tentang konsep dan pengaplikasiannya dalam kehidupan sehari-hari.

Namun, salah satu anak menanggapi kegiatan yang saya selenggarakan tersebut dengan bertanya, "Tidak sayangkah dengan bahannya, Mbak?" Saya, siswa tersebut dan siswa-siswa lainnya sadar betul bahwa setelah kegiatan semua bahan tersebut akan menjadi sampah. Sementara ada banyak orang mati-matian memperoleh bahan-bahan tersebut untuk bertahan hidup.

Merasa terganggu yakni ketika pada suatu kali ada anak-anak yang sedang mengerjakan prakarya, memenuhi tugas dari guru sekolah mereka di TBM yang tersedia setidaknya alat dan bahan yang mereka butuhkan serta tempatnya relatif mereka sukai, sebab saya tidak memarahi mereka jika barang-barang berserakan. Selama mengerjakan prakarya tersebut, saya perhatikan mereka 'ngedumeh' ini itu. Bahwa tugasnya tidak jelaslah, bahwa tugasnya tidak pentinglah, bahwa guru terlalu membuat repot siswanyalah dan sebagainya.

Lalu, saya bertanya tentang apa yang mereka kerjakan itu.

Mereka menjawab itu adalah tugas prakarya sekolah.

Terus saya tanya lagi, "Pentingnya tugas itu untuk apa sih?"

Seolah sudah menunggu-tunggu untuk ditanya demikian salah satu dari mereka menjawab, "Entahlah." Ditambah dengan embel-embel lain yang dijelaskan ngebut seperti jalannya kereta.

Terus saya tanggapi, "Ya, kalau tidak penting, tidak usah dikerjakanlah. Buat apa menghabiskan waktu."

Supaya lebih dramatis, saya menambahkan, "Lebih enakan main kok."

Mendengar saya berkata demikian, mereka lantas berkata, "Trus nanti kami gak akan dapat nilai donk."

Saya jawab lagi, "Lagian apa pentingnya nilai sih?"

Mereka jawab, "Ya, biar kami pinter trus biar kami lulus sekolah trus biar kami.... Ok, ini penting. Kami paham maksudnya apa, Mbak."

Setelah itu, saya memilih tidak menanggapi apapun lagi. Yang terpenting pekerjaan mereka dilanjutkan dengan damai hingga selesai.

Merasa lelah ketika mengurus perizinan yang perurusannya ribet bin rumit. Ketika mereka datang ke TBM hanya untuk bermalas-malasan saja. 

Jadi, saya pikir selama duduk di bangku perkuliahan kita hanya belajar apa yang harus dilakukan dan bagaimana caranya untuk menuntaskan kebodohan sementara musuh terbesar yang hendak kita perangi bukanlah kebodohan, namun ketidakmauan seseorang mengubah dirinya menjadi seseorang yang lebih baik.

Dan menjadi guru, saya selalu menghadapi dua macam pertarungan. Saya mendorong anak-anak hingga ke tepi batas-batas dalam dirinya dan jika mungkin menghancurkan batas-batas tersebut sambil saya---sendirian---menghadapi keterbatasan yang saya miliki.

Dan menjadi pengelola TBM, saya terus menyemangati orang lain untuk belajar sambil terus menyemangati diri saya untuk terus menyediakan sarana dan prasarana untuk belajar.

Mengutip kata-kata Rita Pierson bahwa setiap anak berhak menjadi pemenang dan seorang dewasa yang tidak pernah menyerah pada mereka. Oleh karena itu, akhirnya saya, para mentor dan semua yang turut mendukung keberlangsungan TBM terus melakukan segala cara untuk bertahan dan terus menciptakan lingkungan menyenangkan untuk belajar. Karena walaupun tidak semua menginginkannya namun ini adalah hal yang benar untuk dilakukan.

Berbicara mimpi, kami selalu membayangkan ini akan menjadi pusat pembelajaran dan pengembangan keterampilan yang lebih besar dan dapat menjangkau anak-anak yang lebih banyak. Di setiap sudut ada satu mentor dan sumber daya untuk minat dan bakat tertentu. Membayangkan setiap anak yang datang dapat merapat ke sudut minatnya masing-masing. 

Entah itu yang suka tari, menggambar, menulis, belajar, membuat project, berlatih berbicara dan sebagainya. Saya selalu berharap dapat menyediakan lebih banyak sumber daya baik itu sarana dan prasarana maupun mentor-mentornya yang barangkali baru dapat terpenuhi dua atau lima tahun lagi atau barangkali dapat lebih dari itu.

Memang masih jauh untuk itu dengan masih yang sedikit ini. Meskipun orang bilang sukses itu tidak selalu sejalan dengan kuantitas membaca tetapi untuk anak-anak ini tentu terlalu dini untuk memutuskan; Meskipun nyatanya tidak selalu, namun ini semua saya awali dari sebuah kegembiraan, berusaha dijalankan dengan kegembiraan dan akan diteruskan dengan kegembiraan pula, biarlah mengalir saja (sekali lagi). Ini hanyalah awal. Saya ingin sekali setiap orang punya kesempatan yang sama untuk bermimpi dan berani mewujudkannya. Dan apakah keinginan saya yang sedikit itu sudah terlalu banyak?(*)