FEATURED

Salah Kaprah Hari Ibu di Indonesia

22 Desember 2015 16:34:25 Diperbarui: 21 Desember 2016 21:59:52 Dibaca : Komentar : Nilai : Durasi Baca :
Salah Kaprah Hari Ibu di Indonesia
Ilustrasi: pindai.org

Hari ini tanggal 22 Desember, setiap tahun tanggal ini diperingati oleh seluruh bangsa Indonesia sebagai Hari Ibu. Lihatlah disekitar kita, di media sosial, di social messenger (apa ya istilahnya dalam bahasa Indonesia?) penuh isinya dengan meme, tags dan kata-kata indah terhadap Ibu tercinta dari anak-anaknya. Indah dan mengharukan. 

Tapi tunggu dulu....

Mengertikah kita sejarah Hari Ibu di Indonesia ini?

Benarkah Hari Ibu di Indonesia sama dengan Mother's Day di Barat sana yang kebanyakan diperingati setiap bulan Maret atau Mei setiap tahunnya dan di hari itu diistimewakan untuk merefleksikan kecintaan anak terhadap ibunda yang melahirkan dan membesarkannya. Tak terukur cinta kasih yang diberikan seorang ibu bagi anaknya. Kasih Ibu sepanjang jalan...dan seterusnya.

Untuk melihat apa sebenarnya 'what behind the scene' dari Hari Ibu di Indonesia dan mengapa jatuh di tanggal 22 Desember? Kita perlu membuka sejarah bangsa kita. Apa yang tersebut di Indonesia? 

Mari kita lihat, menurut sejarah sebenarnya tanggal 22 Desember yang diperingati sebagai Hari Ibu, pertama kali setelah Presiden Soekarno mendeklarasikan melalui melalui Dekrit Presiden No. 316 tahun 1959 yang menetapkan bahwa tanggal 22 Desember diperingati sebagai Hari Ibu dan dirayakan secara nasional hingga saat ini.

Pada tanggal 22-25 Desember 1928 bertempat di Yogyakarta, para pejuang wanita Indonesia dari Jawa dan Sumatera pada saat itu berkumpul untuk mengadakan Kongres Perempuan Indonesia I (yang pertama). Kongres ini di anggap sebagai tonggak berdirinya organisasi para pejuang wanita yang pertama Indonesia.

Kongres Perempuan Indonesia (I) dilihat sebagai bentuk kebangkitan politik perempuan Indonesia,  awal perjuangan para Srikandi besar Indonesia yang turut berkiprah dalam melepaskan diri dari kolonialisme.  Meskipun masih menghindari diskusi politik, Kongres ini dapat menjadi penanda keluarnya perempuan Indonesia dari peran domestik ke ranah sosial. Kongres ini pun menghasilkan tiga tuntutan kepada pemerintah kolonial pada masa itu yaitu:

- Penambahan sekolah untuk anak-anak perempuan

- Syarat menjelaskan arti taklik saat akad nikah kepada mempelai wanita

- Pemberian tunjangan kepada janda-janda dan anak yatim piatu

Selain itu, Kongres tersebut juga menghasilkan organisasi Perikatan Perempuan Indonesia (PPI), yang pada kongres di tahun berikutnya berubah nama menjadi Perikatan Perhimpunan Isteri Indonesia (PPII). Baik PPI maupun PPII merupakan federasi yang menghimpun organisasi-organisasi perempuan lokal maupun organisasi perempuan dari berbagai golongan, hebat kan?

Jadi, saudara-saudara sekalian...bedakan yah antara Hari Ibu di Indonesia dengan Mother's Day yang biasa dirayakan di negeri Barat sana. Awalnya, Hari Ibu di Indonesia sebagai peringatan hari ibu yg di tujukan untuk mengenang para pahlawan wanita atau para Srikandi besar yang ikut berjuang dan ikut andil besar serta terlibat dalam upaya bangsa kita melepaskan diri dari para penjajah. Menurut saya esensinya sangat berbeda dari Mother's Day yang diperingati di era modern saat ini. Jika boleh memilih, saya lebih memilih 22 Desember diperingati sebagai Hari Kebangkitan Politik Perempuan Indonesia.

Jayalah Perempuan Indonesia!

Hilda_Rumambi

/hilda_in_palu

TERVERIFIKASI

...never walk on the traveled path, make your own path and leave a trail... remember, make something new and think out of box :)
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana