Lukisan Sang Petualang

20 Juli 2012 05:47:20 Dibaca :
Lukisan Sang Petualang
dedaunan ini berbisik, tentang cinta dua hati. tenangnya air membawa keheningan dalam sukma, biarkan kalbu yang bicara (photo by Tri Lokon)

Waaahh....kemana-mana bawa kamera sekarang, kayak fotografer aja!

Celoteh seorang teman. Aku cuma tertawa, fotografer abal-abal!

Bukan tanpa alasan aku bergabung di Kampret, meskipun aku awam fotografi. Selama ini, setiap kali melewati suguhan pemandangan hijau membentang, atau deburan ombak di pantai, ingin rasanya keindahan itu aku abadikan. Kadangkala aku takut, keindahan mahakaryaNya terganti oleh tumpukan beton-beton tinggi. Aku takut, alam kehilangan keseimbangannya. Lantas, apa yang bisa aku ceritakan pada anak-anakku nanti? Bahwa lukisan hijau persawahan hanyalah dongeng pengantar tidur? Bahwa sang gunung hanyalah monster belaka? Bahwa deburan ombak hanyalah bencana semata?

Sayang, lukisan keindahanNya kadangkala sulit kurekam dengan baik. Karena itulah, aku merasa beruntung, manakala Para Petualang mampu menyajikan keindahan ini dengan sempurna. Lukisan cahaya yang mereka sajikan, membawa serta anganku, seakan aku sedang berada di sana. Bernafas dengan aroma hijaunya dedaunan yang tersaji. Seakan dibasahi deburan ombak dan mendengar alunan dari sang alam.

Lihat, apa yang kau rasa? Hening, tentram, dan damai. Terasa lukisan ini menyelusup kalbu, betapa indah karuniaNya. Betapa sempurna sang petualang membawakan cerita untukku.

lukisan awan seakan bernyanyi, mengiringi keceriaan mereka (photo by Yswito)
lukisan awan seakan bernyanyi, mengiringi keceriaan mereka (photo by Yswito)

Lihat, kaki kecil itu melompat. Seakan turut menari dengan debur sang ombak dan arakan sang awan ikut mengiringi. Indah tersaji. Oh, aku rasakan senyum sang mentari dari sang petualang sejati.

saat senja menghantarkan keheningan, sendiri di sini mensyukuri hari yang telah terlewati (photo by Aryani L)
saat senja menghantarkan keheningan, sendiri di sini mensyukuri hari yang telah terlewati (photo by Aryani L)
Terdiam dalam hening. Mensyukuri nikmatNya yang tak terhenti. Meski dalam bayang senja menghampiri. Sang petualang mengajakku berimaji.

kerja keras tak terbatasi usia (photo by Dhanang Dhave)
kerja keras tak terbatasi usia (photo by Dhanang Dhave)
Berjuanglah, seakan hari tiada terhenti. Ya, sang petualang membisikkan ini. Kerasnya hidup bukan semata untuk diratapi, taklukan meski deraian keringat menyelimuti.

***

Begitu banyak cerita yang ingin kubagi dari sang petualang sejati.

Hesti Edityo

/hestiedityo

TERVERIFIKASI (HIJAU)

seorang anak dr seorang lelaki, seorang istri dr seorang lelaki, seorang ibu dari 4 lelaki | hestidwie.wordpress.com | hesti-dwie.blogspot.com
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?