FEATURED

Isra Mi’raj dan Konsepsi Kejadian Masa Depan

06 Mei 2016 08:41:00 Diperbarui: 24 April 2017 19:01:34 Dibaca : Komentar : Nilai : Durasi Baca :
Isra Mi’raj dan Konsepsi Kejadian Masa Depan
Sumber gambar : http://wallpaperstock.net
Peristiwa isra mi’raj setiap tahun selalu diperingati para pemeluknya. Suatu peristiwa besar yang kejadiannya melibatkan Rasulullah, tidak saja menyangkut keimanan tetapi juga ilmu pengetahuan (akal). Pasca kejadian isra (perjalanan dari Masjidil Haram di Mekkah ke Masjidil Aqsa di Palestina) dan kemudian diteruskan mi’raj (ke sidratul muntaha), Rasullullah banyak dicibir akan kejadian itu. Maklum saja –masa itu- kendaraan yang dipakai untuk jarak jauh adalah unta, maka suatu hal yang mustahil melakukan perjalanan jauh hanya satu malam saja.


Peristiwa yang menimpa Rasulullah itu memang kejadian yang luar biasa. Ini merupakan peristiwa yang tergolong suprarasional dan metafisika, perlu pemahaman lebih di samping rasa keimanan. Namun, sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang kian pesat, peristiwa isra mi’raj itu mulai tersingkap sedikit demi sedikit. Adanya teori relativitas yang dikemukakan oleh Albert Einsten ini sedikit banyak menemukan relevansinya. Ada pula pertanyaan apakah Rasulullah itu dalam isra mi’raj hanya ruh atau dengan jasadnya? Jika merujuk rumus yang dikemukakan Einsten E=MC2, pertanyaan itu perlu direvisi sebab antara energi dan massa (materi) itu ternyata berbanding lurus.  

Peistiwa isra mi’raj memang terjadi 14 abad yang lalu, namun inilah gambaran peradaban manusia masa depan. Perpindahan benda termasuk manusia dari satu titik ke titik lain dalam jarak jauh dapat ditempuh waktu akan semakin singkat. Dan perjalanan ke luar angkasa bukanlah hal yang mustahil, antarplanet bahkan antargalaksi. 

Perjalanan yang dilakukan Nabi itu dengan waktu sangat singkat ada yang mengatakan perjalanan antardimensi. Kita, manusia di dunia terikat pada dimensi 3 yang dibatasi ruang dan waktu. Sedangkan di semesta ini ada beberapa alam lain yang dimensinya lebih tinggi. Menurut Agus Mustofa, penulis buku dari beberapa serial tasawuf modern, makhluk dari dimensi yang lebih tinggi akan mudah beradaptasi ke dimensi yang lebih rendah. Maka dari itu, seperti jin, malaikat bisa menuju alam manusia dengan cepat sedangkan manusia tidak kecuali dengan “kekuatan”.

Startrek sebagai Gambaran             

Jika kita pernah menyaksikan Startrek versi film ataupun serial televisi, di sana digambarkan perjalanan ruang angkasa antarplanet ataupun galaksi. Pesawat yang digunakan melesat begitu cepat dan singkat. Manusia pun dapat beralih dengan masuk ke ruang tertentu kemudian menghilang dan akan muncul pada ruang yang lain dan kembali utuh. Mungkin inilah teknik yang disebut dengan teleportasi.

Memang Startrek itu merupakan rekaan belaka. Namun demikian, Startrek mampu membuat sesuatu yang masuk akal sehingga tidak salah bila disebut fiksi ilmiah. Apa yang disuguhkan Startrek itu merupakan gambaran peradaban manusia di masa depan. Manusia boleh saja berimajinasi liar pada saat ini yang mungkin menjadi bahan lelucon saja. Boleh jadi apa yang khayal pada masa sekarang akan menjadi sesuatu yang biasa pada masa depan. Kita ambil contoh saja, pada zaman dahulu orang bisa terbang merupakan khayalan belaka, dan saat ini bisa kita lihat merupakan sesuatu yang biasa saja.

Startrek telah menyuguhkan gambaran masa depan. Dan ilmuwan saat ini mencoba mewujudkan semua itu dalam rangkaian bermacam penelitian dan percobaan. Kapal supercepat sudah bisa dibuat. Pesawat tanpa awak sudah bisa mencapai Planet Mars. Ini artinya merupakan langkah awal dalam merujuk langkah berikutnya. Fondasi dasar telah terbentuk untuk selanjutnya dilakukan pengembangan lebih lanjut untuk menjadi yang lebih sempurna.

Alam semesta ini mahaluas dan oleh Tuhan diperuntukkan buat manusia. Perjalanan antargalaksi saja memerlukan ribuan tahun bahan jutaan satuan cahaya, sedangkan umum manusia –rerata- hanya puluhan tahun. Namun, menurut teori yang dikemukakan para ilmuwan, kita dapat mempersingkat jarak itu dengan mem-by pass-nya, yang “jalan” itu sering diistilahkan “lubang cacing”.

Dan kita rasa manusia masa depan akan mampu mewujudkan hal itu, melakukan perjalanan yang sangat jauh dengan waktu yang sangat singkat. Dan bukannya tidak mungkin bahwa manusia pada masa yang akan datang akan menemukan planet baru yang dapat dihuni sehingga nantinya manusia di bumi ini dapat bermigrasi ke tempat baru yang lebih baik lagi.

Dipastikan pula bahwa matahari dalam tata surya kita ini mempunyai umur yang kemudian mati, seperti bintang-bintang lain yang sudah mati yang meninggalkan black hole. Di saat matahari telah “mati”, kiamat di bumi telah saatnya, yang mungkin itu sebut kiamat kecil. Masih ada kesempatan manusia di bumi untuk berpindah ke tempat lain yang dirasa lebih “aman” di antara miliaran tata surya lainnya, sebelum terjadi kiamat besar yang menghancurkan alam semesta keseluruhan.

Kejadian isra mi’raj di masa lampau itu adalah sesuatu hal yang masuk akal. Suatu kejadian pada masa lampau yang merupakan konsepsi kejadian masa depan. Manusia kian hari akan semakin maju dengan ilmu pengetahuannya yang akan berbanding lurus dengan kemajuan teknologi. Terlepas apakah nantinya pakai teknologi atau metode lain adalah urusan belakangan. Dalam konteks kekinian para ilmuwan pun masih memecahkan bagaimana Piramid atau Borobudur bisa didirikan, tentu ada hal-hal lain yang tidak berhubungan dengan teknologi dan itu lebih mutakhir.

Sudah selayaknya bahwa kejadian isra mi’raj ini bagi umat Islam dapat menjadi momentum dan semangat untuk menjadi keadaan yang lebih maju lagi. Kiranya ilmu pengetahuan itu dikembangkan untuk hal-hal yang bermanfaat bagi kepentingan umat manusia. Tidak sebatas ruang lingkup sesuatu yang berkenaan dengan keimanan semata. Konsep dan kejadiannya sudah ada, tinggal merumuskan ke tingkat lebih lanjut. Dan Tuhan pun dalam kitab suci menantang bangsa manusia dan jin untuk dapat menembus penjuru langit dan bumi (Ar-Rahman:33). Dan apakah nantinya manusia dapat berkelana antargalaksi di antara alam semesta yang mahaluas? (Dan tidak perlu terlalu muluk-muluk sampai pada langit tingkat tujuh atau sidratul muntaha). Manusia –saat ini- hanya bisa mereka-reka, semua dikembalikan kepada Tuhan yang maha tahu, wallahu a'lam bishawab.

Hery Supriyanto

/hery_supriyanto

TERVERIFIKASI

Liberté, égalité, fraternité ││Sapere aude ││ Iqro' bismirobbikalladzi kholaq ││www.herysupri.com
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana