HIGHLIGHT

Memberi Itu Tidak Selalu Asyik

28 Juli 2012 09:20:27 Dibaca :

Ada pepatah kuno di Indonesia yakni memberi lebih baik daripada menerima. Tapi terkadang, menerima itu lebih menyenangkan daripada memberi. Mengapa? Karena memberi itu berarti kita harus siap kehilangan. Ya, kehilangan apa yang di tangan, di dompet dan di tabungan. Yang menjadi pertanyaan kemudian, apakah kita siap untuk kehilangan? Tidak semua orang siap kehilangan. Pasti ada sesuatu yang disesali di hati. Sebagai contoh, kita semua pasti pernah menyumbang uang kepada orang yang membutuhkan melalui dompet peduli atau sejenisnya.


Tapi bagaimana kalau orang yang kita tolong itu tidak tahu diri? Malah menyalah gunakan sumbangan kita untuk hal-hal yang sebenarnya tidak perlu. Seperti membeli televisi, perabotan rumah yang mahal atau membangun rumah baru. Tentunya, kita yang sudah menyumbang menjadi jengkel dan dongkol melihatnya.


Padahal tujuan kita sebenarnya menyumbang uang untuknya bukan untuk membeli hal-hal yang seperti itu. Tapi kembali lagi, kita orang Indonesia gampang merasa kasihan melihat orang yang menderita. Jadi tanpa perlu berpikir dan menganalisa dulu, kita langsung saja memberi sumbangan. Masih mendingan yang disumbangkan Rp 20.000 sampai Rp 50.000, kalau lebih dari itu dan ternyata tujuannya tidak sesuai dengan yang kita harapkan. Tentunya kita kecewa sendiri. Dan mungkin menyesalinya.


Selain itu, kita orang Indonesia juga masih menganggap menolong itu harus dengan ikhlas. Ini kesalahan besar kita, Jelaslah tidak mungkin bisa ikhlas kalau menolong orang. Lha, kita sendiri masih mengharapkan pahala dari Tuhan. Apakah ini ikhlas namanya? Kalau mau menolong ya menolong saja, tidak perlu mengharapkan pahala dari Tuhan, Karena Tuhan mau memberi pahala atau tidak itu terserah DIA. Yang penting kan ikhlas.


Satu hal lagi kebiasaan orang Indonesia terutama orang kaya yang membuat kita mengelus dada. Yakni ketika memberi sumbangan harus mengumpulkan orang miskin yang banyak. Lalu setelah itu, disuruh antri untuk mendapatkan sumbangan. Kurang kerjaan banget ini orang kayanya. Nanti kalau ada pingsan atau meninggal dalam antrian, malah bukannya nambah pahala tapi nambah dosa.


Sebenarnya memberi itu bisa sangat asyik, kalau orang kaya yang ingin memberi sumbangan jangan mengumpulkan banyak orang miskin di rumah. Memangnya, mau pamer ke dunia kalau di Indonesia masih banyak orang miskin. Benar-benar tidak lucu dan tidak manusiawi. Tapi akan lebih baik kalau orang kaya itu mendatangi rumah orang miskin itu satu per satu. Itu akan bisa berjalan dengan baik kalau pihak-pihak yang terkait benar melakukan pendataan data kemiskinan di Indonesia. Karena dengan berbekal data itulah, orang kaya bisa menyumbang orang miskin.


Sebenarnya, tanpa data itu pun, orang kaya masih bisa menyumbang orang miskin. Caranya cukup mudah, cari saja orang miskin di sekitar rumah tinggal. Tidak perlu mencari orang miskin dari luar kampung. Sumbanglah orang miskin yang dekat di rumah itu terlebih dahulu dengan langsung mendatanginya. Lalu setelah tidak ada lagi orang yang tergolong miskin di dekat tempat tinggal, baru mencarinya di luar kampung. Ini baru yang namanya memberi itu asyik.

Herumawan P A

/herumawanpa

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Asli wong Yogya. Pernah menjadi mahasiswa UIN Sunan Kalijaga. Menyukai olahraga sepakbola, sedang belajar menjadi citizen Juornalism dan suka menulis apapun. Mulai dari artikel sepak bola, cerita remaja, cerita pendek, cerita anak hingga cerita misteri (mistik/serem)
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?