Irena Handono Tersinggung Umat Lain Bicara Agamanya? Dia Sendiri?

11 Januari 2017 18:11:42 Diperbarui: 11 Januari 2017 18:20:13 Dibaca : Komentar : Nilai : Durasi Baca :

Sejak awal ketika saya mendengar si ibu mualaf ini yang bernama Irene Handono menjadi pelapor kasus Ahok karena dianggap menistakan agamanya, saya gemes dan hanya tersenyum senyum sendiri. Saya sih berharap ini salah supaya tidak menjadi dagelan konyol yang berkelanjutan. Dan ternyata saya salah. Peristiwa itu berlanjut dan benar benar terjadi. Ibu yang mencerahkan ini ternyata benar benar kemudian menjadi saksi pelapor atas kasus Ahok. Dengan alasan Ahok tidak seagama dengannya, maka tidak ada hak Ahok untuk bicara tentang agamanya. Apa yang membuat saya tertawa? Terutama karena dia seakan akan tidak berkaca bahwa dengan versinya sendiri, beliau jauh lebih dahulu membahas tentang iman agamanya yang lama.

Dalam pikirnya, dia membangun sebuah kristologi. Bukankah, bukan wewenangnya pula dia bicara tentang kristologi? Belum lagi, dia mengaku sebagai mantan biarawati tapi bahasanya jauh sekali dari cara bicara dan cara berfikir logis layaknya orang yang terdidik secara Kristen. Setelah saya telusuri, jauh bertahun tahun sebelum kasus Ahok ini, saya katakan bahwa beliau berdusta. Bohong. Ya, sekali lagi harus saya katakan, bohong! Dia bukan mantan biarawati dan tidak ada kapasitas seorang kristolog! Bahkan awalnya, saya mengatakan dia tidak tahu apa apa tentang dunia biara dalam kekristenan. Yang lebih omong kosong lagi adalah klaimnya bahwa sempat mengenyam pendidikan di Fakultas Teologi yang katanya ada di Jogja. Ini almamater saya.

Mantan Biarawati?

Menurut kesaksian keluarganya dan juga teman teman suster di biara ursula, Irena Handono ini memang sempat tinggal di Biara. Namun kemudian tidak lolos sensor untuk menjadi suster. Jadi, dalam proses penerimaan seseorang untuk menjadi suster biarawati, ada masa masa percobaan sebelum bisa diterima. Tapi, sebelum masa percobaan itu, sang calon diberi kesempatan untuk mengenal hidup membiara. Tinggal di dalamnya dan sedikit sedikit diajak untuk merasakan bagaimana hidup membiara. Di sana ada kesempatan berdoa, kesempatan untuk belajar hal hal pengantar sebagai pengenalan, pengenalan aturan dan tata hidup biara yang dikenal dengan statuta, dll. Termasuk mengenal bagaimana karya karyanya. Lalu, kalau sudah merasa mengenal dalam masa pengenalan itu kurang lebih 1-2 tahun yang dikenal dengan postulant dan juga aspirant baru diterima untuk tahap awal menjadi suster biarawati.

Irena Handono ini baru melewati tahap awal ini, belum genap 2 tahun di biara. Menurut teman temannya, yang sekarang tetap berkarya sebagai seorang biarawati Irena ini dulunya terlalu spesial sehingga itu jadi alasan tidak lolos sensornya. Spesialnya bukan karena ia cerdas dan kritis, tapi karena ada riwayat sakit yang tidak memungkinkan untuk hidup bersama sebagai anggota komunitas susteran. Nah, dalam waktu kurang dari dua tahun itu, mustahil untuk mengecap perkuliahan. Mustahil!

Menurut keluarganya, yang kontaknya bisa minta konfirmasi ke saya, Irene kemudian ditolak untuk menjadi seorang biarawati dan kemudian menikah dengan calon pastor yang juga keluar. Mereka berdua, setelah beberapa lama menikah kemudian bercerai. Nah, dalam agama Katolik kan ga diperbolehkan bercerai, tapi perpisahan terjadi juga. Setelah bercerai kemudian menikah kembali sebagai seorang istri dengan suami yang pernah beristri. Nah, ini hanya mungkin terjadi kalau dia tidak Katolik. Maka, menurut riwayat ini…. Meskipun ada kemungkinan lain, motivasi ini juga cukup besar kemudian untuk ‘hijrah’ keyakinan. Lalu, setelah itu dia terkenal heboh dengan kesaksiannya yang mantan biarawati, tercerahkan karena merasa menang berdebat kristologi dengan dosennya dulu di Jogja. Kalau saja dia ngomong sama saya, hayah…. Ente ngomong apa? Ente bohong bin dusta….

Sekedar untuk tahu saja, sampai saat ini di kampus filsafat teologi di Jogja itu ya…. Kuliah terbuka untuk umum. Mahasiswa mahasiswa UIN banyak yang kuliah di sana dan tidak ada yang kemudian mengolok olok iman kristen yang pernah dikuliahinya. Saya sendiri juga mendapatkan kuliah islamologi di sana dari dosen UIN juga, berjenggot juga meskipun tipis. Lalu ada lagi kuliah filsafat Islam. Tapi juga, saya tidak segitu gitunya atau setidaknya dalam tradisi Katolik tidak ada kemudian yang membuat kesaksian ala Irene Handono. Sebaliknya, kami baik yang Kristen maupun yang Islam semakin sadar bahwa pandangan kami berbeda, itu saja. Semua dibatasi oleh dogma dan pada hemat kami, seandainya debat neh… ga akan ada yang menang dan ga akan ada yang kalah. Satu satunya cara yang bisa ditempuh adalah menghargai keyakinan masing masing.

Maka, bagi kami… membicarakan keyakinan iman dari agama yang berbeda itu sah sah saja. Hanya saja tidak ada itu kesaksian kesaksian dusta, palsu dan omong kosong yang pada hemat saya, motifnya lebih besar pada prinsip ekonomi dan menekankan keuangan. Ya, membuat kesaksian bombastis untuk cari uang agar banyak yang mengundangnya. Dalam kasus Ahok, Irena sedang mencari panggung. Siapa tahu dengan ini makin laris… Dan seandainya saya jadi pengacaranya saya akan bertanya, “saudara saksi… anda tersakiti karena Ahok menyinggung agama anda, tapi bukankah saudara saksi juga berlaku hal yang sama dan lebih parah?”

Nah, beliau kemudian membuat membuat mualaf center…. Hebat…. Coba bayangkan kalau katolik juga membuat lembaga serupa…. Apa ga akan jadi konflik? Ga ada dalam gereja katolik di seluruh dunia murtadin center…. Hehehe…. Tentang sang mantan biarawati ini kemudian saya ingat sosok mother teressa… meskipun karya karyanya pernah ditolak oleh biaranya sebagai orang yang ingin menolong orang sekitarnya yang menderita, dia tetap teguh dengan imannya. Bahkan ketika ada ketakutan orang sekitar akan adanya kristenisasi, biarawati itu tetap berkarya, menolong dan memperlakukan manusia sesamanya tanpa terfikir untuk mengkristenkan mereka… ah, kadang saya merasa tak pantas membandingkan Irena Handono dengan Suster Teressa…. Jauhhh


Herulono Murtopo

/heroelonz

TERVERIFIKASI

berusaha ikut serta mencerdaskan kehidupan bangsa
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.
LABEL humaniora

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana