HIGHLIGHT

Sekali Lagi Stigma dan Diskriminasi Kerap Terjadi

16 September 2012 02:52:26 Dibaca :

Mr. B  adalah klien saya  1 tahun yang lalu, dia datang pertama kali dengan kondisi yang amat lemah, namun setelah beberapa kali melakukan kontrol dan setelah minum obat arv, kondisinya berangsur pulih bahkan tidak ditemukan infeksi oportunistik,  saat itu kondisi daya tahan tubuhnya juga naik dari pemeriksaan CD4 pertama kali hasilnya < 100 dan setelah 3 bulan pengobatan angkanya naik menjadi >315.


Beberapa bulan yang lalu sebelum ramadhan tiba, dia datang melakukan konseling, dia menyampaikan keinginannya untuk melakukan pengobatan alternatif. Dia menyampaikan dengan semangat bahwa ada seorang yang pintar bisa mengobati hiv dan bisa menghilangkan virusnya. Dia menanyakan apakah diperboleh kan untuk melakukan pengobatan tersebut. Pada saat itu, saya sudah jelaskan bahwa tiada pilihan lain untuk saat ini bahwa pengobatan ARV adalah pilihan paling tepat untuk mengembalikan kondisi daya tahan tubuh sehingga bisa mencegah infeksi lain yang bakal masuk kapan saja. Saya sudah jelaskan juga pengaruh pengobatan alternatif terhadap kinerja obat arv yang sedang diminum, dan saya selalu menyampaikan kepada setiap klien saya agar hati-hati kepada mereka yang menjanjikan penyembuhan tanpa jaminan kesembuhan secara rasional.


Setiap kali konseling saya selalu menyampaikan beberapa kasus yang sudah pernah saya dapatkan sebelumnya, hingga beberapa pasien yang melahap informasi pengobatan alternatif tanpa konfirmasi dan edukasi, saya sampaikan bahwa kondisi mereka bukannya berangsur sembuh, alih-alih mengalami penurunan yang signifikan, bahkan berujung diperawatan inap.


Saat proses konseling terjadi,  mr. B nampak kurang menerima saran dan informasi berharga dari saya, sehingga dia menyampaikan argumen dari orang pinter tadi, dan tetap dengan tekad yang bulat untuk melakukan pengobatan alternatif kepadanya. Tapi saya coba tekankan seandainya dia mau melakukan itu, silahkan namun dengan syarat bahwa obat arv yang diminum selama ini jangan pernah mencoba untuk dihentikan. Tetap lakukan kontrol ke poli untuk pemantauannya setiap bulan untuk bertemu dokter .


Ditemani orang “pinter”


Hampir setahun lamanya, mr. B datang lagi ditemani seorang ahli pengobatan alternatif, yang menurutnya bisa menyembuhkan orang dengan HIV positif.  Apa yang saya dapatkan dari orang yang katanya “pintar”, sungguh membuat saya terheran-heran, Cara-cara yang dilakukannya sangat tidak masuk akal, dan membahayakan si pasien.


Bisa dibayangkan bagaimana seorang pasien odha yang jelas mengalami kemajuan dalam 3 bulan pertama dengan kondisi daya tahan tubuh yang naik hampir 30% harus memutuskan minum obat demi untuk percobaan ramuan obatnya yang katanya bisa menghilangkan anti body hiv menjadi non reaktif. Yang membuat saya geleng-geleng setiap bulan pasien mr. B harus  merogoh koceknya demi menjalani screening hiv. Padahal jelas-jelas hasil screening yang dilakukan tiga kali tes elisa semuanya menunjukkan hasil reaktif.


Yang membuat saya tidak habis pikir, dengan kondisinya yang semakin lemah, dan hasil tes cd4 menunjukkan penurunan yang tajam dalam kurun waktu 1 tahun sejak dimulainya terapi arv, mr. B masih percaya dengan pengobatan ala tabib yang menurutnya ahli mengobati hiv.


Kasus meninggal


Dalam kurun waktu 6 bulan saja di tahun 2012, pasien yang pernah melakukan berobat dan konseling, beberapa diantaranya sudah terapi arv, kondisinya sudah jauh membaik, bahkan ada yang sudah 6 bulan berjalan terapi arv, cd4 sudah mencapai angka >400, ini berbanding terbalik dengan sebagian mereka yang menghentikan pemakaian arv, kondisinya jauh semakin lemah dan banyak sekali yang terkena infeksi opportunistik dan berakhir kematian. Kondisi ini jelas memprihatinkan saya dan beberapa teman di tim konselor hiv rscm.


Seperti 1 bulan yang lalu, seorang ibu dari kota B, menyampaikan duka yang mendalam karena anaknya terkena tb paru sejak satu setengah tahun memutuskan untuk beralih pengobatan alternatif, dan akhirnya meninggal. Ibu tersebut menuturkan sejak diberikan ramuan jamu yang katanya bisa menghilangkan virus, malah terkena tbc, dan anaknya disuruh tetap minum ramuan dengan keyakinan bahwa tbc akan hilang dengan sendirinya. Tanpa alasan yang jelas, si pasien harus menuruti kata2 “dukun” dan tidak boleh berhenti meminum ramuan tersebut apalagi berobat ke dokter hingga virusnya hilang dalam tubuhnya.


Malang sekali nasib ibu 3 orang anak tersebut yang akhirnya harus dikucilkan warga , tetangga dan saudaranya sendiri karena anaknya meninggal karena hiv. belum tuntas penderitaannya seluruh barang bekas almarhum harus dibuang dan dibakar. Karena saudara dan tetangganya tidak mau ketularan virus hiv.


Dikucilkan warga


Sejak diketahui mengidap virus hiv, mr. A harus menjalani perawatan di lantai 7 rscm. Dia mengalami diare selama 2 bulan ditambah jamur di mulut. Kondisinya semakin lemah. Suatu ketika tetangga warga dan rt tempat tinggal pasien menjenguk di rscm. Karena tidak mendapatkan informasi mengenai sakit yang diderita pasien, pak rt berkali-kali mencari tahu apa sebenarnya yang dialami mr. B hingga sakitnya tak kunjung sembuh.


Entah dari siapa pak rt tersebut mendapatkan kabar bahwa pasien mengidap virus hiv, warga di sekitar tempat tinggal pasien (mr.A) secepat kilat menjadi gaduh dan ramai-ramai mencemooh dan mengucilkan si pasien dan keluarganya. Yang memprihtinkan lagi rt setempat mengadakan pertemuan di balai warga untuk meminta keterangan dari si pasien untuk mendapatkan pengakuan bahwa dia benar-benar mengidap hiv.


Kontan saja pihak keluarga tidak menerima ajakan tersebut, bahkan beberapa kali pihak keluarga menyampaikan informasi bahwa hiv tidak begitu saja menularkan, namun warga tetap tidak percaya dan mengharapakan pasien untuk tidak tinggal di lingkungan tempat tinggalnya.


Keluarga mr.A sudah meminta bantuan pihak puskesmas untuk ikut pertemuan di balai warga tersebut dan tidak ditanggapi. Dengan berat hati akhirnya keluarga mengungsikan mr. A ke tempat yang dirasa aman jauh dari tempat tinggalnya sekarang.


Saya kira semua pihak amat menyesalkan kejadian ini, terlebih peristiwa ini dilakukan oleh tokoh bahkan panutan yang menjadi pimpinan sebuah warga di pinggiran timur ibu kota jakarta. Kasus seperti ini seharusnya tidak musti terjadi di tengah pesatnya informasi dan teknologi. Sebagian warga masih saja tidak memahami apa sebenarnya hiv itu?. Bagaimana sesungguhnya penularannya, dan pengobatannya.



KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?