Mohon tunggu...
Rahmi H
Rahmi H Mohon Tunggu... Guru - Peskatarian

Ngajar | Baca | Nulis Kadang-Kadang Sekali

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Cerpen | Kotak Kehilangan

20 Agustus 2017   13:29 Diperbarui: 22 Agustus 2017   06:05 660
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sumber foto:pexels.com

Seorang perempuan muda terkulai lemas di kasur lusuh, kamarnya berantakan, bantal dan selimut berserakan di lantai. Cermin buram tergantung di samping jendela, beberapa tanda gincu menempel kotor di sudutnya. Perempuan itu tertidur hampir sehari penuh, jangan ditanya tentang kondisi dirinya, rambut sepinggang dibiarkan kotor tak terurus, beberapa jerawat menempel cantik di tiap sudut wajahnya, matanya cekung pertanda kurang tidur dihiasi kantung hitam melingkar menghapus senyum yang mulai lenyap dari bibirnya.

Perlahan ia bangun, menengok malas ke jam dinding yang terus setia berdetak menemani nafasnya. Angka tiga tersentuh jarum pendek, sedangkan jarum panjangnya tepat di angka dua belas. Masih pukul tiga pagi, pikirnya. Ia duduk bersila di atas tempat tidur, menarik nafas tiga kali, ritual tetap, yang selalu ia kerjakan untuk membantu membangunkan kesadarannya tentang dunia, setelah cukup, kakinya menjuntai menyentuh lantai, ia berdiri, menghadap cermin sejenak, menekuri wajah kusutnya yang mulai menonjolkan tulang pipi, tubuhnya mulai kurus. Tapi, tak sedikitpun hatinya tersentuh menatap perubahan fisik yang nampak dalam bayangan cermin itu. Tatapannya kosong, pikirannya hampa, sementara batinnya terus menerus meneriakan kehilangan. Batas antara kekosongan dan kehilangan memang tipis.

Di kamar mandi, perempuan itu menggosok gigi dan mencuci muka seadanya, air terasa segar menyentuh kulit mukanya yang kusam. Ia menarik nafas lega, teringat olehnya, sejak kemarin siang tubuhnya belum sedikitpun tersapu air. Namun, saat ini nalurinya tak niat mandi, pikirannya masih kalut, hatinya masih kelam tertutup kabut lembut kekecewaan dan kehilangan. Perasaan terbunuh berdetak di setiap nadinya. Air mata tak kuasa memberi penyelesaian, hanya menambah sayat luka. Perempuan itu terluka. Lukanya teramat berat atau mungkin tak pantas disebut luka. Ia harus memaksa diri menyimpan berjuta-juta rindu yang mustahil ditunaikan, sekaligus batinnya mesti sekuat malaikat, mengikhlaskan kepergian seseorang yang dicintainya, ini semacam penderitaan sekaligus keajaiban, batinnya. Ia tak bisa membenci, tak bisa menyalahkan, ia harus benar-benar mencintai tanpa ketetapan dan keputusan.

Mesti ada jalan keluar, aku tidak bisa terus seperti ini, batinnya. Namun, semakin keras memikirkan jalan keluar, dadanya makin bergemuruh, gelombang besar berputar kencang di rongga paru-parunya, hatinya terhimpit, satu kata terus bergema di dinding tubuhnya, kehilangan. Langkahnya tertatih, ia kembali berbaring lesu di atas tempat tidur. Tatapannya kosong, meski pupil matanya tertuju pada deretan buku yang telah berdebu, tertata rapi di rak dindingnya yang ungu. Di bawah rak buku itu, meja tulis bulat juga sudah berdebu, seperti telah lama ditinggal pemiliknya. Ia mendekati meja itu, meniup debu bersama seluruh rasa gundahnya. Ia membuka kotak kaleng biskuit yang terletak di atas meja tersebut, kotak kaleng itu kosong.

Setengah bulan berlalu, waktu berjalan teratur, tapi kesedihan dan rasa kehilangan tidak pergi dengan teratur, kedatangannya juga demikian, tanpa waktu, tanpa musim. Tapi, perempuan itu kini memiliki cara menyampaikan rindu dan melampiaskan rasa kehilangannya. Kesehariannya tetap dilalui secara normal, ia tetap pergi ke kantor di pagi hari dan pulang sore atau malam harinya, tergantung tingkat kesibukan dan banyaknya pekerjaan. Di hari libur, ia tetap kembali pada hobinya, yakni menyiram tanaman dan merawat bunga-bunga.

Sesak di dadanya tetap terasa, pikirannya selalu saja mendatangkan kenangan-kenangan, batinnya selalu kehilangan. Setiap kali semua itu menerpa dirinya, ia memasukkan beberapa koin rupiah ke dalam kotak kaleng biskuit yang bagian luarnya tertempel tulisan 'Kotak Kehilangan'. Di dalam kotak itu ia menyimpan semua kenangan, rasa sakit, penyesalan dan kehampaan melalui koin-koin yang ia masukan satu persatu, kadang disertai air mata kepedihan.

Sudah seminggu kotak itu terletak di sudut kamarnya. Pagi ini, kerinduan begitu menyeruak relung jiwanya, ia bangkit dari tempat tidur mengambil beberapa koin di tas kerjanya, lalu memasukan ke dalam, 'Kotak Kehilangan'. Dari enam buah koin hanya satu koin yang berhasil masuk, rupanya kotak itu telah penuh. Perempuan itu kaget, ia mengangkat kotak itu, berat. Rupanya memang betul, kotak itu penuh. Ia melirik tanggal yang tertera di atas kotak, baru seminggu ia mengisi Kotak Kehilangan ini, tapi belum lagi lukanya berkurang kotaknya telah penuh. Segera ia menyimpan kotak itu di gudang, lalu menggantinya dengan yang baru dan memasukan kembali koin-koin yang tadi sempat tersisa.

Rupanya, 'Kotak Kehilangan' tak jua membuat sedihnya berkurang, dalam seminggu ia telah memenuhi hampir tujuh kotak, artinya hanya dalam beberapa hari saja ia harus mengganti kotak karena penuh. Sementara, jiwanya makin ringkih lantaran sedih, raganya lelah karena dipaksa bekerja tanpa jiwa. Sebulan pertama ia telah mengisi hampir dua puluh lima kotak dengan koin-koin yang melambangkan kesedihan sekaligus kerinduannya. Ia memandangi kotak itu satu persatu, menendangnya, bahkan berniat menghancurkannya. Perempuan itu sadar telah menumpuk berjuta-juta kepiluan.

Tapi, karena itu hatinya tergerak, bahwa luka tak boleh dibiarkan menganga, luka harus disembuhkan, kesedihan harus ditepis, kehilangan harus dinikmati, jumlah kotak ini harus berkurang di bulan berikutnya, begitu ia bertekad. Ia mulai membangun benteng kesabaran dalam tubuh dan jiwanya.

Selanjutnya, ia mulai belajar mengakrabi kehampaan hingga dadanya hanya menyimpan rasa tawar dan kepasrahan. Pelan-pelan perempuan itu berhasil membuat batinnya menjadi lebih tenang. Hatinya dilingkupi kegembiraan mendapati jumlah kotak kian sedikit. Hanya lima belas kotak dalam sebulan. Bibirnya menyunggingkan senyum puas begitu meletakan kotak-kotak itu digudang.

Hampir setahun berlalu, kehilangan masih terus menyelimuti hidupnya, tetapi kehilangan itu terasa menjadi berkah dan cerita indah di tepian imajinasinya. Meski terkadang air mata menggenang lembut di sudut kelopaknya yang sayu, namun relung hatinya telah ikhlas menyerahkan seluruh urusan kesedihannya kepada Tuhan. Ia masih terus mengisi 'kotak kehilangan' dengan koin-koin, hanya bedanya koin-koin itu kadang mengandung kesedihan mendalam, kadang juga adalah kerinduan tak terperi. Kotak yang terisi kian sedikit bahkan terkadang ia hanya mengisi empat buah kotak dalam sebulan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun