Tertawa Kala Musibah

13 Juni 2011 03:01:00 Dibaca :
Tertawa Kala Musibah

Bismillahirrahmanirrahim Hujan turun, tidak terlalu lebat sebenarnya, tapi dalam waktu yang cukup lama. Petir dan kilatpun tak mau ketinggalan ikut meramaikan. tiba-tiba, bruk, tenda di depan rumah roboh. Bukan musibah yang layak ditangisi memang. Namun saat menyikapi musibah kecil tersebut saya melihat ada beberapa macam reaksi dari orang yang memperhatikannya. Reaksi pertama, tentu reaksi yang sudah jamak terjadi. Serius, dan menanggapi musibah tersebut dengan sikap seolah siap bertempur. Reaksi berikutnya adalah sikap acuh tak acuh. Saya rasa orang yang bersikap seperti ini tidaklah terlibat secara langsung pada peristiwa yang terjadi. Mereka hanya berada pada tempat terjadinya peristiwa, tanpa ada keterkaitan emosi, untung ataupun rugi dengan musibah yang terjadi. Reaksi ketiga adalah orang-orang yang masih bisa tersenyum dan tertawa. Bukan dalam arti mentertawakan. Saat pertama menyaksikan musibah yang sama, mereka bereaksi seperti kelompok orang pertama, namun setelah memeperhatikan dan memperhitungkan efek dari musibah tersebut, mereka dapat menemukan sisi-sisi yang dapat menimbulkan tawa dari musibah itu. Orang-orang ini tertawa bukan karena mereka tidak bersimpati, atau mereka tidak terlibat secara emosi maupun materi. Mereka sebenarnya adalah orang terlibat secara langsung emosinya, dan merekalah yang sebenarnya harus membayar ongkos musibah yang terjadi. Tapi toh mereka masih bisa tertawa, dan menemukan humor-humor dari musibah yang terjadi. Hidup orang-orang ini bila saya perhatikan jauh dari kata stress. Mereka selalu bisa tertawa walaupun saat tertimpa musibah. Dengan tawa yang pada tempatnya tentu. Karena tertawa pada saat musibahpun sebenarnya tidaklah selalu baik. Ada saat kita harus bersikap serius saat musibah terjadi. Namun yang mengagumkan saya adalah kemampuan mereka menjaga jarak dengan musibah yang terjadi. Mereka bisa mengatur emosi yang terkait dengan musibah tersebut, sehingga mereka bisa tidak terlibat terlalu jauh secara emosi dengan musibah yang terjadi. Menyadari bahwa kita bisa memilih sikap saat mengahadapi musibah rasanya sebuah keahlian yang bermanfaat untuk dimiliki. Bagaimana tidak, alih-alih terpengaruh musibah yang terjadi, kita masih bisa menjaga jarak, berpikir jernih dan meminimalkan emosi sehingga efek buruknyapun bisa diredam. Bukan berarti kita kehilangan sikap untuk berempati, tapi kita bisa menempatkan secara wajar, dan memilih emosi yang akan kita pakai. Apa bila selama ini emosi yang kita punya seolah tidak bisa dipilih, dengan kata lain setiap emosi berkait dengan peristiwa. Peristiwa A akan memicu emosi kelompok A, begitupun peristiwa B akan memicu kelompok emosi B, selalu begitu, hingga akhirnya kita berkesimpulan bahwa emosi bukanlah sesuatu yang dapat kita pilih sesuai keadaan. Mereka telah tertanam tanpa bisa kita ganggu gugat lagi pada diri kita. Nah menemukan kesadaran bahwa emosipun bisa kita pilih sesuai dengan kemauan, tentulah sebuah kabar gembira. Kita bisa tidak berlarut-larut dalam kesedihan misalnya, karena kita sadar bahwa sedih itu adalah sebuah emosi, dan kita bisa memilih untuk terus bersedih ataupun menyudahi kesedihan yang berlangsung. Anda mungkin berkata, hal ini tentu sulit dilakukan. Memang. Kita telah terbiasa dengan otomatisasi pada otak kita, dan merubah kebiasaan ini tentulah tidak secepat menyuapkan sepiring nasi kedalam mulut, sesuap demi sesuap tentu, lalu merasa kenyang. Mungkin ada saat-saat seolah hal ini terasa mustahil. Tapi toh kita juga tak langsung bisa berjalan saat dilahirkan. Kita tertatih, terjatuh saat belajar berjalan, namun kita terus berusaha hingga akhirnya bisa berjalan, bahkan berlari dengan kencang, bahkan lebih kencang saat dikejar hutang. Berusaha lalu terbiasa itu kata kuncinya. Tak perlu ngoyo, rileks saja, rasakan sensasinya. Mulailah dengan emosi positif, sadari emosi tersebut, lalu cobalah untuk memainkannya. Anda bisa mengawalinya dengan duduk rileks, lalu bayangkan sebuah peristiwa yang menyenangkan buat Anda, amati hal-hal yang ditimbulkannya, entah itu sebuah gambaran yang tiba-tiba saja muncul pada pikiran, ataupun sebuah simfoni yang tiba-tiba saja berkumandang, atau mungkin juga perasaan nyaman yang tiba-tiba Anda rasakan. Saya tidak tahu hal apa yang terlebih dahulu muncul pada diri Anda. Mungkin ketiga unsur tadi muncul kepermukaan, atau mungkin hanya ada dua unsur, mungkin bahkan satu, tak uasah cemas, Anda tidak salah prosedur, nikmati saja. Amati emosi tersebut. Cobalah untuk menaikkan intensitas emosi tersebut. Lalu coba untuk menurunkannya. Ulangi beberapa kali. Setelah merasa cukup, tarik nafas panjang, bangkit sebentar dari tempat duduk Anda, berjalanlah minimal lima langkah sebelum Anda kembali ketempat duduk Anda semula. Selanjutnya pilihlah sebuah momen negatif yang pernah Anda alami. Tidak usah momen yang benar-benar mengharu biru, yang rendah saja intensitasnya. Lalu kembali amati seperti tadi, apa hal tiba-tiba muncul, entah gambar, suara ataupun sensasi, perhatikan. Setelah merasa cukup, tarik nafas, lalu melangkahlah minimal lima langkah sebelum kembali ketempat Anda duduk tadi. Dengan mengetahui bahwa intensitas emosi bisa naik dan turun sesuai keinginan, tentulah bisa kita manfaatkan. Kita bisa menjadi tuan atas diri kita sendiri. Alih-alih didikte oleh emosi, kita bisa menurunkan intensitas emosi yang menurut kita tidak baik, dan sebaliknya meningkatkan intesitas emosi yang memberdayakan diri. DS 114002-116070

Hasnul Hamdi

/hasnul_hamdi

Not The Special One, Just Extra Ordinary.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?