Kesepian Dalam Kesunyian

23 Maret 2013 17:08:36 Dibaca :

Aku berdiri dalam gelap. tersungkur dalam keheningan malam. berlarian dalam pikiran. terkapar oleh angin liar. Aku melihat tiga bintang berdekatan. Bentuknya mirip anak panah sedang meluncur bak deburan ombak. Meluncur, memecahkan malam, meleburkan dingin malam, menghancurkan dinding keterpaksaan perasaan. Aku masih kesepian. Sepi ini menerkam sampai dalam. Sakitnya mencuat dari raut muka yg sudah pucat. Lukanya tak berbekas bagai tapak kaki di pantai lepas. Terbawa ombak tanpa mempedulikan akan kemana bertepi kelak. Daun kering, batu kerikil, bungkus rokok, sampai bunga mawar berduri enggan menemaniku dalam kesunyian. Peribahasa lama, 'Manikam telah menjadi sekam', sesuatu yg tidak berharga lagi. Jika dijaga akan tetap bernilai, tapi jika dibuka sudah tak bernilai. Sepi membuatku kalap. Sunyi membuatku ingin bernyanyi. Angin malam bersiul ketika bertabrakan dengan daun didahan. Langkahku bertinjak di atas aspal. Menembus malam hingga gerbang kesunyian. Tiga jam lagi tugasku selesai. Cahaya lampu jalan masih setia menemaniku. Embun diatas rumput sudah mulai bermunculan. Ayam-pun sudah siap membangunkan. Matahari perlahan memperlihatkan fajarnya. Tidak seperti putri malu yang menguncup ketika dikecup. Satu per-satu lampu tengah didalam rumah menyala. Tapi tidak meyadari, masih ada orang kesepian di luar. Bunyi mesin air terdengar bagai air terjun. Masih tidak menyadari, ada orang sedang bermain dalam sunyi. Aku, seorang penjaga malam. Kesepian dalam kesuyian.

Harry Ramdhani

/harryramdhani

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Sedang berusaha agar namanya ada di "Kata Pengantar" Skripsi orang lain. | Think Globally Act Comedy | @_HarRam
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?