Mohon tunggu...
HL Sugiarto
HL Sugiarto Mohon Tunggu... Full Time Blogger - Menulis untuk dibaca dan membaca untuk menulis

Hanya orang biasa yang ingin menulis dan menulis lagi.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Gludak! Akhirnya Ia pun Menangis dan Diam

21 Juli 2019   12:19 Diperbarui: 21 Juli 2019   12:30 50
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

                                                                                                                  Gambar oleh engin akyurt dari Pixabay

Aku, Saipul, teringat akan temanku semasa di SD Katolik St. Yudit, Simon, namanya, anak dari seorang ustadz terpandang di kampungku. Anaknya cukup saleh, juara ngaji untuk wilayah se-kabupaten, tapi sayang kalau ngomong kadang suka-suka teriak, apalagi seringkali ia iseng-iseng menyorongkan mulutnya dari belakang dan meneriakkan nama temannya untuk sekedar menyapa dan mengagetkan orang yang disapanya.

Kala itu, setiap hari saat berangkat sekolah, aku selalu menjemput temanku ini si Simon di rumahnya yang terletak dalam perkampungan berdekatan dengan sebuah Masjid Jami. Ia selalu aku bonceng menggunakan sepeda jengki merk Phoenix, sepeda angin yang umum dimiliki banyak orang pada jamannya. Dan seperti biasa kalau aku bonceng, Simon selalu berceloteh dan bercerita panjang lebar dan sering kali ia berteriak dekat telingaku.

"Pul... Saipul, kalau ngayuh yang kuat dong! Biar laju ini... sepedanya," teriak Simon didekat telingaku, seperti biasanya.

"Iya... Mon..Ini kan lagi tanjakan, lu aja dah yang bonceng," aku menoleh kebelakang sambil membalas teriakannya.

Aku sudah sebal dengan kebiasaannya ini, selalu berteriak didekat telingaku kala aku bonceng. Sakit dan kaget rasanya ketika ia berteriak dekat telingaku. Ingin rasanya kusumpal mulutnya, tapi aku teringat akan pesan bapak wali kelasku, Pak Agus yang selalu mengajarkan agar jangan mudah emosi ketika menghadapi permasalahan. Ia selalu mengingatkan murid-muridnya, akan ada waktunya yang tepat untuk melampiaskan emosi kita dengan elegan,tak langsung menohok tapi mengena dengan baik.

Simon yang saat itu masih saja ngomong panjang lebar dan setengah berteriak di sepanjang perjalanan ke sekolah. Bosan rasanya,ingin sepeda ini aku lepas biar jatuh bersama. Tiba-tiba aku melihat sebuah gundukan polisi tidur yang biasa kami lewati, ku genjot kayuh sepedaku, ku percepat lajunya. Tiba-tiba Simon berteriak nyaring memperingatkan aku tapi ya begitulah... seperti biasa berteriak di dekat telingaku.

"Pul... awas ada polisi tidur, matamu...matamu Pul...." teriaknya sambil setengah mengeluarkan sumpah serapah.

Tak kupedulikan teriakannya ku terabas itu polisi tidur.

Gluuudaakkkk! Suara body sepeda bergetar karena ban yang berbenturan keras dengan polisi tidur. Bersamaan itu aku merasakan Simon terjatuh dari boncengan sepeda, segera aku menggenggam erat rem sepeda dan segera menghentikan laju sepedaku. Aku pun menoleh melihat Simon jatuh terduduk sambil meringis mengelus-elus bokongnya.

"Dobol... matamu Pul, nggak lihat itu Polisi tidur?"

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun