Mohon tunggu...
Hans Steve
Hans Steve Mohon Tunggu... karyawan swasta -

Saya sangat simple, kritis, dan cuek.. tidak takut dibenci untuk mengungkapkan sesuatu yang benar.

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Si Unik Jokowi – Ahli Strategi (Bagian II)

9 Februari 2016   06:25 Diperbarui: 9 Februari 2016   08:45 2788
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

[caption caption="Sumber: newsweekly.com.au"][/caption]

Pada artikel Si Unik Jokowi - Ahli Strategi, ada membahas sebagian poin-poin strategi yang digunakan Presiden Jokowi untuk menjalankan pemerintahannya, dan sekaligus melawan mafia yang bersarang di Indonesia, memang butuh komitmen yang kuat untuk melawan, jika tidak, yang ada justru akan kebawa arus, dan malah ikut-ikutan dalam lingkaran mafia yang tidak ada habis-habisnya diberantas, yang pada akhirnya uang negara yang kembali digerogoti. Presiden harus menjaga sikap untuk mempertahankan posisi, supaya tidak mudah kehilangan komitmen dan semangat untuk terus berjuang melawan mafia itu, perlu pertahanan yang bertingkat-tingkat, karena kalau beliau melawan sendiri jelas sangat kelihatan kekalahannya.

Strategi Hulk, Banyak orang mengira Presiden Jokowi itu orangnya lemah karena tubuhnya yang kecil, tapi dibanyak kesempatan justru kita melihat ketegasan dan kemarahan saat beliau berada pada posisi terancam, beliau kalem kalau hanya dibilang klempeng, boneka atau apalah, tapi kalau sudah keterlaluan dan menyangkut kenegaraan ternyata beliau tidak lemah, beberapa kali melihat beliau marah dan bahkan sangat tegas. Contohnya dalam kasus #papamintasaham, dan kasus pansus pelindo II. Ibarat Dr Bruce yang tenang dan terlihat lemah namun begitu iklas dalam menolong orang yang sakit kalau masih dalam kondisi normal tapi kalau sudah merasa terancam maka akan berubah menjadi Hulk yang sangat ganas. Yang menjadi perbedaan ya keliaran, kehijauan, dan membengkaknya badan.

Strategi Reward and Punishment, masih ingat kalimat ini ? "Saya sudah janjian sama Kapolri dan Panglima TNI, reward and punishment. Yang terbakar semakin banyak semakin gede, sudah ganti, copot. Dari sini sampai ke bawah. Yang nggak ada, tentu saja promosi,", ya... kalimat dilontarkan Presiden pada tanggal 18 Januari 2016 dalam Rapat Koordinasi Nasional Pencegahan Kebakaran Hutan dan Lahan tahun 2016, kalimat yang berisi ancaman akan mencopot itu tentu memiliki maksud tertentu.

Seperti yang kita ketahui banyak sekali mafia lahan gambut yang justru dibekingin oleh oknum-oknum aparat dan pejabat, dan itu sudah menjadi rahasia umum yang istilahnya sangat sulit untuk dihindari, dan tentu Presiden juga mengetahui hal itu, dan Beliau sadar tidak bisa memberantas ini sendirian karena hanya akan menghabiskan tenaganya jika berantas 1 tumbuh 1.000, maka salah satu strategi ya dengan menekan kepalanya, dan dengan demikian kepalanya bisa menekan kebawahannya.

Selain itu, tidak hanya ancaman yang dikeluarkan tapi juga reward yakni promosi(naik jabatan), jika tidak ada kebakaran hutan di daerah.

Apa Presiden tidak takut kalau Panglima TNI dan Kapolri balik menyerang Presiden? Tentu saja tidak, karena Kapolri dan Panglima TNI adalah pilihan Presiden sendiri yang bukan sistem titipan, dan tentu Presiden sendiri sudah ada diskusi dengan mereka (janjian) sebelum kalimat itu dilontarkan Presiden.

Strategi Bertingkat, ini yang mungkin sering dilupakan, diremehkan atau diabaikan oleh para lawan politik Presiden Jokowi, dan para mafia yang berusaha menyerang Presiden. Di samping Presiden selain ada Pak JK, Politisi Senior yang sudah malang merintang di dunia politik, juga ada seorang ahli strategi Pak Luhut Binsar Panjaitan sebagai Menkopolhukam.

Pak Luhut yang berpangkat Jendral ini sudah biasa berada di area berbahaya, tidak hanya memiliki hubungan biasa dengan Pak Presiden, mereka berdua memiliki hubungan yang sangat dekat, mereka sudah dekat saat Presiden masih menjadi walikota Solo. Tidak hanya itu, dari info yang ada mereka adalah teman yang sangat baik, tidak hanya dalam hal politik saja, tapi dari segi pertemanan sendiri juga sangat dekat, dan Pak Luhut juga sangat dipercaya oleh Presiden.

Mungkin yang menjadi Pertanyaan, kalau hubungan mereka sangat dekat kenapa Pak Presiden tidak memilih Pak Luhut untuk jadi Wakil saat pencarian? Yang jelas ini dunia politik yang buas, tidak bisa hanya mengandalkan hubungan pertemanan yang dekat, dan tidak bisa juga hanya mengandalkan strategi perang saja, perlu sosok yang berpengalaman di bidang politik dan tentu dalam hal ini Pak JK.

Dengan 3 tingkat pertahanan yang dilakukan Pak Jokowi, ini membuat pertahanan Presiden sulit untuk ditembus oleh lawan politiknya, belum lagi menteri-menteri yang mentalnya mental baja, Meskipun banyak yang mengganggap banyak partai yang dulu berseberangan kini berbalik arah untuk mendukung akan berbahaya buat kinerjanya Pak Presiden. Tapi dengan pertahanan yang kuat itu seperti Presiden Jokowi Yang Koppig dan segala keunikannya, Pak JK yang berpangalaman di bidang politik serta Pak Luhut dengan strategi mematikannya, justru hanya akan membuat partai-partai gigit jari jika mencoba mengganggu kinerja Presiden . Contohnya ya PAN yang mencoba meminta jatah saat berubah arah untuk mendukung pemerintahan harus berakhir dengan gigit jari.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Politik Selengkapnya
Lihat Politik Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun