Mempertanyakan Kebhinekaan Anies Baswedan

17 Februari 2017 17:59:33 Diperbarui: 17 Februari 2017 19:20:04 Dibaca : 2591 Komentar : 7 Nilai : 1 Durasi Baca :
Mempertanyakan Kebhinekaan Anies Baswedan
http://ww2.lintasnasional.com


Jokowi, Ahok, dan Anies adalah tiga pribadi yang sejak beberapa tahun terakhir saya amati, dan “kawal” karena saya merasa ketiga pribadi ini penting untuk Indonesia Baru. Jejak-jejak digital tulisan dan pemikiran saya tentang ketiga pemimpin baru ini bisa dicari dengan gampang di internet.  Intinya, saya berharap ketiganya bisa memberikan kebaruan bagi Indonesia.

Dan puji Tuhan, Jokowi jadi presiden, Ahok jadi gubernur DKI, dan Anies jadi menteri pendidikan. Hati ini gembira, dan sangat excited dengan munculnya ketiga jagoan saya ini. Tapi memang dunia tidak ada yang langgeng, tiba-tiba Jokowi memberhentikan Anies, dan menggantikan dengan Muhadjir Effendy.  Saya tidak banyak menulis soal ini, tapi saya sangat senang dengan respon Anies yang baik ketika dicukupkan Jokowi.

Ketika mendengar dari berita akhirnya Anies menerima pinangan Sandiaga Uno dan Prabowo, saya pun tetap happy-happy saja karena semua “sesuai skenario”.  Orang baik melawan orang baik, jadi tinggal adu program, ide, dan gagasan.  Ahok yang menang puji Tuhan, Anies yang menang ya ok-oc. Nothing to lose dari sudut penggerak misi kebhinekaan dan mimpi Indonesia Baru.

***

Perasaan gembira, happy, senang, dan excited menantikan duel gagasan antara Ahok vs Anies tiba-tiba terbang dibawa angin SARA.  Bau busuk yang menyengat memasuki pesta yang dinantikan.  Setelah Buni Yani mengunggah video yang bermasalah, kemudian mulai ramai di sosmed tentang penistaan agama, tiba-tiba Anies membuat status FB yang intinya ikut menekan proses hukum Ahok.  Disana hati nurani saya mulai terusik.  Is this Anies who I know?

Kemudian terus berlanjut, Anies mulai lebih sering tausiyah, dan memakai simbol-simbol agama. Bahkan menyanyi lagu-lagu agamawi.  Which is, ga ada yang salah dengan itu semua. Cuma bagi kita yang mengikuti, bergaul, dan ikut berjuang bersama untuk Tenun Kebangsaan, mulai resah dan tidak nyaman.

Kulminasinya ketika Anies ke Petamburan dan sowan ke Rizieg Shihab, bos FPI.  Sosmed pun riuh dan mulai menyerang Anies. Sampai disinipun, secara prinsip saya merasa tidak ada yang salah juga, wong namanya kampanye mau cari suara, meskipun itu menyerempet-nyerempet tapi masih bisa dijustifikasi dengan kata silaturahmi, menjadi jembatan, pemersatu, dan maju bersama. 

Tapi mendengar isi pidatonya yang menyebut Rizieg, Imam besar kita semua, shock juga saya. Kalau soal meluruskan Syiah, Sunni, liberal, dll karena saya ga ngerti, ya sudah biar aja.  Tapi Rizieg imam besarnya Anies? Apakah ini benar, atau cuma basa-basi karena di kantor FPI?  Kalau basa-basi kan jadinya lucu juga. Jadi entahlah, teruskan pesta gagasannya.

***

Ledakannya bukan kunjungan ke FPI, isi pidatonya, pecinya, tausiyahnya, tapi justru di Mata Najwa show Anies tersudut dan harus menyatakan dengan lugas pertanyaan yang menjadi inti kebhinekaan.  “Apakah menurut mas Anies pemimpin DKI harus muslim” (parafrase pertanyaan Najwa Shihab).

Jawaban Anies yang jagoan dalam retorika adalah jawaban politis. Artinya “kata-kata bersayap”.  Politisi tidak pernah menjawab dengan lugas kalau dilihat tidak menguntungkan dia.  Tapi dia akan menjawaba dengan kata-kata bersayap yang bisa diartikan dari kiri, atau kanan.

Pada dasarnya Anies mengatakan bahwa sebagai Muslim dia taat Al-Maida 51.  Jawaban yang secara konteks pertanyaan berarti Anies menyetujui pemimpin DKI harus muslim, tapi sekaligus dia mau nyatakan bahwa dia tetap nasionalis dalam konteks kenegaraan.  Lihai dan jawaban yang brilian.

Masalahnya, sebagal relawan kebhinekaan yang berjuang untuk kebhinekaan yang sejati, sejak awal Anies selalu secara LUGAS mengatakan bahwa tidak ada dikotomi mayoritas-minoritas. Dan selalu dalam frame bahwa siapapun pemimpinnya, apapun agama, suku, dan rasnya tidak menjadi masalah.

Jadi ketika sekarang Anies tidak bisa menjawab dengan lugas bahwa pemimpin DKI tidak harus muslim, maka tidak bisa disalahkan apabila Anies dipertanyakan kebhinekaannya.  Dan “tuduhan” merobek Tenun Kebangsaan itu muncul.  Perlu diketahui, bukan hanya relawan pro Ahok yang menyatakan itu.  

Tapi media-media luar negeri  pun  menganggap ada perubahan politik Anies, menjadi politik agama.  Saya kutip satu dari Time, karena disana ada perkataan dari Suratno dosen dan pemimpin Think-Thinak universitas Paramadina (tempat Anies pernah menjadi rektor), dan tokoh NU yang cukup memerahkan telinga.


“I had hoped that Anies would influence Islamists ... to be more ‘moderate,” says Suratno. “He is a disappointment.”

(Sumber)


***

Orang Islam harus memilih orang Islam. Itu tidak melanggar konstitusi. Kalau itu memang iman dan kepercayaan Anies, maka tidak ada yang bisa, bahkan tidak boleh melarang. Tapi kalau dulunya mengatakan tidak apa-apa sekarang tidak boleh, itu namanya bohong.  Disini letak kekecewaan, dan pertanyaan utama para relawan kebhinekaan.  Apakah Anies masih Anies yang sama?

Dengan gerbong PKS, FPI, HTI, dan garis keras lainnya, tidak bisa tidak kita jadi “ngeri” dengan posisi Anies sekarang.  Bukan asal tuduh, apalagi fitnah.  Tapi semua karena manuver Anies sendiri. TIdak ada masalah pribadi dengan Anies, semua cuma mempertanyakan, "Ada apakah?"

Rombongan relawan seperti Tsamara, Edward Suhadi, dan Rian Ernesto mungkin lebih vulgar menyatakan isi hatinya di sosmed.  Saya sendiri susah, karena seharusnya misi kita sama, dan banyak teman-teman saya yang sekarang sedang berjuang mempertahankan biduk kerelawanan bhinneka yang goyang gara-gara manuver-manuver SARA ini.  

Apakah cuma gara-gara posisi gubernur DKI, harus bermusuhan dengan seorang teman, dan seorang yang memang sejak awal di-grooming untuk menjadi seorang pemimpin?  Harga yang terlalu mahal untuk itu sebenarnya.

Tapi, hidup itu adalah pilihan dan respon.  Anies selalu mengatakan jangan takut apa kata orang, tapi takutlah apa kata sejarawan. Paling tidak saat ini sejarah sedang menuliskan ceritanya seorang Anies Baswedan harus menggunakan isu SARA untuk meraup suara di Pilkada DKI 2017.  

Dan itu cukup menyakitkan bagi para relawan yang tidak dibayar, dan sepenuhnya percaya pada mimpi bersama, Indonesia Baru yang Bhinneka Tunggal Ika.  


Pendekar Solo

Hanny Setiawan

/hannysetiawan

TERVERIFIKASI

Twitter: @hannysetiawan Gerakan #hidupbenar, Solo Mengajar, SMI (Sekolah Musik Indonesia) http://www.hannysetiawan.com Think Right. Speak Right. Act Right.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana