Gandis Octya Prihartanti
Gandis Octya Prihartanti Translator and Content Writer

A watch collector who have big dreams.

Selanjutnya

Tutup

Media highlight

Kesalahpahaman tentang Menulis: Mudah Tanpa Teori

14 Agustus 2017   11:45 Diperbarui: 15 Agustus 2017   01:04 239 2 0

Pemicu kesalahpahaman adalah tidak cukupnya informasi yang diserap, sehingga timbul salah persepsi. Hal ini berlaku juga dalam menulis. Kegiatan merangkai kata tersebut dikatakan berada di antara mudah dan sukar. Namun, ketika teori dan teknik belum cukup dikuasai, and then it would say that writing is an absolutely easy.

Lebih spesifik lagi, menulis yang disinggung di sini adalah fiksi. Ada pun banyak perbedaannya dengan non-fiksi, seperti adanya alur, plot, teori show don't tell, character driven, dan berbagai elemen penting lain. Nah, misalkan saja tidak memahami hal-hal di atas, tentu menulis terasa mudah lantaran tidak ada aturannya.

Menulis memang berkaitan dengan kebebasan berpikir, tapi teori diciptakan agar lebih terarah dan akan berpengaruh pada kualitas.

Awal sekali menulis, ketika SMP (karena SD masih suka membuat puisi), saya berpendapat kalau penggunaan POV 1 dalam cerita itu lebih mudah ketimbang POV 3. Kenyataannya, tidak seratus persen benar. Ada saatnya sendiri mereka diaplikasikan. Misal cerita itu sederhana dan ingin lebih menekankan pada emosi karakter sebagai daya tarik, maka POV 1 cocok digunakan. Sebaliknya, jika cerita kompleks dan ingin lebih dieksplor, maka POV 3 lebih baik digunakan.

Lalu, saat SMA, saya berpikir kalau genretermudah untuk ditulis adalah roman. Menyenangkan bukan berimajinasi tentang seorang cowok yang melakukan hal-hal manis pada kekasihnya? Namun, semakin berlatih, roman terasa tidak semudah dulu. Hal ini saya sadari sejak semester berapa, ya? Entahlah, lupa. Pokoknya masih awal. Karenanya, saya tidak lagi menulis Fanfiction yang kala itu sedang gencar. Ditambah lagi perubahan drastis jenis bacaan. Saya semakin menjauhi roman.

Beberapa hari lalu, saya mengikuti kelas penulisan yang berfokus pada plot, dan berlangsung selama tiga hari. Kelas tersebut dipandu oleh seorang editorfiksi dari sebuah penerbit besar. Setelah membaca materi dan sharing dengan beliau, terbuktilah dengan teori kenapa roman terasa sukar bagi saya. Ternyata, hal ini ditimbulkan dari segi plot itu sendiri.

Beliau menuliskan kalau plot itu hanya mengacu pada satu karakter. Nah, sementara dalam roman, aturan tersebut tidak bisa. Harus ada dua plot dan subplot untuk karakter sekunder, guna memunculkan benang merah dari judul. Jadi, adegan-adegan manis itu bukan satu-satunya elemen penting dalam menulis roman, ya. Roman---meski terlihat mudah, tapi kalau semakin banyak teori yang ditahu, akan semakin banyak pertimbangan.

Kemudian, satu kebodohan masa lalu yang paling membuat saya ngakak tentang menulis adalah kata puitis dan pembukaan yang terlalu banyak basa-basi itu keren. Padahal ya, itu alay sekali. Fatalnya, membuat pembaca bosan. Mau menceritakan hal remeh-temeh saja deskripsinya berlebihan. Beruntung, salah persepsi ini saya ketahui sejak lama, sehingga cara seperti itu sudah saya buang jauh-jauh. Meski berakibat pada berkurangnya kemampuan saya dalam menulis dengan puitis, tidak masalah. Toh, puitis kalau tidak ada makna atau esensinya, sama saja nol besar. Tidak ada yang salah dengan kata lugas.

Kebetulan saya diminta mengoreksi cerpen seorang murid teman dan saya menyarankan untuk mengubah gaya tulisan. Selain jangan terlalu berbasa-basi, masukkan ayat dari kitab suci secara tidak langsung saja. Misalkan, melalui karakter-karakternya. Tidak disangka, siswi SMA tersebut menjadi juara satu dalam lomba menulis cerpen. Trust me, simple is the best. Wkwkwkw (without "land.")

Untuk mengurangi kesalahpahaman dalam menulis, tentu banyak cara yang bisa dilakukan. Misalkan saja banyak membaca (teori dan karya orang lain), mengikuti kelas penulisan, atau bertanya pada yang berkompeten. Tidak kalah pentingnya, berlatih. Karena, menulis tidak sepenuhnya dipengaruhi oleh bakat.

Jika sebuah frasa dipilih untuk merangkum tulisan ini secara keseluruhan, maka: semakin dipelajari, kesulitan suatu hal akan semakin terkuak. Jangan mudah puas atas apa yang diketahui, karena ilmu atau teori yang ada di dalamnya sangat luas.