PILIHAN

Menanti "Keberanian" Anies

20 April 2017 17:13:33 Diperbarui: 20 April 2017 17:21:10 Dibaca : 2062 Komentar : 7 Nilai : 10 Durasi Baca :
Menanti "Keberanian" Anies
Sumber: tempo.co

Ini artikel pertama saya di Kompasiana. Perkenalkan sebelumnya, saya hanya orang biasa yang mencoba untuk mereka-reka apa yang menjadi trending topic di Medsos beberapa hari ini. Ya, soal memasuki babak akhir pertarungan antara Ahok-Djarot dan Anies-Sandi dalam perhelatan Pilkada DKI. Saya bukan ahli, apalagi pakar. Namun saya rasa sebagai Warga Negara Indonesia, saya berhak mengemukakan pendapat tentang apa yang ada dalam pikiran. Maaf jika ada yang tak berkenan. 

PilkadaDKI Jakarta telah menyedot energi yang luar biasa. Mulai dari Sabang sampai Merauke, Pilkada DKI menjadi obrolan menarik di warung-warung kopi hingga ke perkantoran elite. Beberapa hari lalu, berdasarkan data hitung cepat lembaga survei hampir bisa dipastikan, Anies-Sandi menang. Meski proses tahapan di KPUD DKI Jakarta tetap berjalan sebagaimana seharusnya yang diatur dalam PKPU. Saya tak akan membahas bagaimana tahapannya, namun lebih kepada bagaimana sosok Anies nanti setelah ditetapkan dan dilantik sebagai Gubernur DKI Jakarta. Sengaja saya beri judul artikel ini; Menanti "Keberanian" Anies.

Tunggu dulu, anda tak perlu sewot. Sebab saya tidak menjudge Anies pengecut dan tidak seberani Ahok. Namun yang saya maksud dengan keberanian adalah bagaimana kemudian dalam perjalanan menjabat sebagai Gubernur DKI nantinya, Anies tetap bisa menjaga keutuhan bangsa dan kerukunan umat dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika. Sehingga kekhawatiran berbagai pihak terkait dengan keberadaan beberapa ormas yang selama ini dikenal radikal di belakang kekuatan politik dan menjadi pendongkrak suara Anies-Sandi tidak terbukti. Apalagi jika kemenangan Anies-Sandi ini dikaitkan dengan awal kebangkitan khilafah di Indonesia. Meski menurut saya, pendapat ini berlebihan. 

Setidaknya ada dua kekhawatiran yang menjadi momok berbagai kalangan dengan kemenangan Anies pada Pilkada DKI Jakata. Pertama, kekhawatiran awal kebangkitan khilafah dengan indikasi makin gencarnya kelompok garis keras selama tahapan Pilkada DKI dilakukan. Bahkan beberapa tokoh diantaranya sempat ditangkap dengan tuduhan makar. Saya berpikir, dalam hal ini Polri tentu tak akan gegabah menangkap mereka jika tak ada dasar dan petunjuk kuat.

 Tentu tak akan ada asap jika tidak ada api. Meski tak terbukti, Polri berani mengambil tindakan karena setidaknya ada upaya yang akan dilakukan kelompok yang saya maksud untuk bertindak makar. Soal belum kejadian, untung keburu ditangkap. Bisa jadi kalau tak ditangkap, bisa makar benaran. 

Kedua, bangkitnya rezim orde baru. Seperti yang digadang-gadangkan pada saat Pilpres, Prabowo kala itu sangat diidentikkan dengan bangkitnya kekuatan orde baru. Dalam pemenangan Anies-Sandi ini tentu Prabowo menjadi bagian penting. Hal ini bisa dibuktikan pada saat memberikan keterangan pers, Prabowo tampak berada di barisan paling depan membelakangi Anies-Sandi. 

Sementara saat Prabowo memperkenalkan beberapa tokoh penting dalam pemenangan, Anies hanya tampak diam tanpa ekspresi. Jika saya boleh membaca pikiran Anies saat itu, sebenarnya apa yang dilakukan Prabowo tersebut membuat Anies tidak nyaman. Karena selama ini Anies memang dikenal sebagai akademisi yang menjaga nilai-nilai ideal dan santun bertutur. Setelah Prabowo usai memberi keterangan, barulah Anies bicara. 

Saya sebenarnya miris melihat drama konfrensi pers oleh Prabowo ini. Sebagai masyarakat awam, tentu saya gagal paham dengan apa yang saya tonton. Anies yang menang, kok Prabowo yang ada di barisan paling depan. Piye iki Cak? Tapi ya ini bagi saya yang awam dengan politik saja. Bagi mereka yang biasa berkecimpung dengan dunia politik, mungkin ini hal lumrah.  

Kembali ke judul, setelah ditetapkan dan tentunya dilantik menjadi Gubernur DKI Jakarta nantinya, tentu masyarakat Indonesia dan DKI Jakarta khususnya menanti keberanian Anies sebagaimana yang saya maksud di atas. Mampukah Anies menahan tekanan banyak kepentingan di belakangnya? Lebih jauh, mampukah Anies menjaga bingkai Bhinneka Tunggal Ika khususnya di Jakarta dengan segala hiruk pikuk perilaku sosial dan kehidupan layaknya kota metropolitan? 

Mampukah Anies Menjaga marwah reformasi agar dihindarkan dari "kekejaman" orde baru? Suatu hal yangtak kalah penting, jika Ahok berani keluar dari lingkaran Prabowo, lalu beranikah Anies mandiri menentukan sikap dan menjadi ksatria sebenar-benarnya gubernur yang memerintah?! 

Jika Anies Berani, tentu kekhawatiran itu tak akan terbukti. Kita tunggu saja.

Salam Kompasiana!

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana