Mudik Nyaman dengan BigData

12 Agustus 2017   23:23 Diperbarui: 12 Agustus 2017   23:30 136 0 0
Mudik Nyaman dengan BigData
infra-hero-598f2d07d3493a6b3c33e7c2.jpeg

Mudik merupakan ritual tahunan yang menyedot perhatian besar bagi pemerintah dan juga masyarakat.  Pemerintah pusat  mulai dari kementerian Perhubungan, kementerian  PU hingga Kepolisian, Pemerintah Daerah serta pihak swasta berlomba meningkatkan kualitas perjalanan dari dan ke Jakarta. Jumlah pemudik yang diperkirakan sekitar 33 juta orang memerlukan perencanaan serta penanganan yang tepat dalam pengaturan lalu lintas serta penyediaan transportasi yang nyaman. 

Kemacetan tidak hanya memberikan kerugian ekonomi yang sangat besar, tapi juga kerugian non ekonomi seperti kesehatan para pemudik. Salah satu tantangan  dalam manajemen traffic adalah data serta informasi yang real time bagi pemerintah maupun masyarakat dalam menentukan langkah yang harus diambil. Sumber informasi tersebut banyak sekali di Era BigData ini, yang berasal dari perangkat keras seperti dari GPS, traffic sensor, CCTV, Internet of Things (IoT), handphone, dan drone, ataupun informasi dari social media (facebook, twitter, instagram), radio dan bahkan gabungan dari semuanya. 

Salah satu aplikasi yang wajib adalah Waze dan google map yang memberikan informasi tentang jalur serta kondisi jalan yang mana informasinya berasal dari para pengguna aplikasi itu sendiri. Waze dan google maps menggunakan posisi para penggunaanya untuk menghitung kecepatan serta jumlah kendaraan. Selain itu para pengguna Waze juga dapat memberikan informasi mengenai kecelakaan, kemacetan melalui aplikasi tersebut yang sangat bermanfaat bagi pengguna lainnya. 

Di beberapa negara maju, selain CCTV, sensor diletakkan di jalan-jalan utama dan di setiap traffic light untuk mendapatkan informasi kecepatan kendaraan yang langsung terkoneksi dengan kepolisian untuk pengaturan lalulintas. Saat ini CCTV dari berbagai lokasi jalur mudik terhubung dengan command center Kemenhub dan beberapa smart city, yang dapat diakses oleh masyarakat. 

Penetrasi Internet Indonesia merupakan no 6 di dunia sebanyak hampir 84 juta dapat mengakses internet   memperlihatkan kebutuhan akan informasi yang real time dan juga merupakan peluang untuk mendulang peran aktif masyarakat. Laporan masyarakat mengenai kondisi terkini melalui berbagi media social seperti twitter, radio, serta aplikasi lainnya juga merupakan sumber informasi lain yang real time dan diharapkan dapat dengan cepat digunakan dan direspon. Namun saat masih belum secara maksimal digunakan secara automatis (menggunakan bantuan manusia untuk membaca text dan mendengar suara) mengingat ekstraksi informasi dari tulisan (text) dan suara perlu teknologi tersendiri. 

Beberapa inisiatif telah dilakukan oleh kementerian terkait serta pemerintah daerah dengan membentuk semacam command center yang menghubungkan ke beberapa sumber bigdata serta stakeholder yang ada. Namun saat ini hal tersebut dirasa belum maksimal. Tantangannya adalah tidak hanya mengkoneksikan seluruh sumber data yang memiliki structure berbeda-beda, tetapi juga bagaimana menganalisa serta memvisualisasikan data yang dihasilkan dalan hitungan detik tersebut menjadi sebuah informasi dan kebijakan yang tepat. Disini lah peranan data scientist yang saat ini masih sangat langka di Indonesia.Pengumpulan dan penggunaan informasi strategis yang real time serta akurat melalui Bigdata  dapat meningkatkan  keandalan infrastruktur transportasi, meningkatkan efisiensi dan pemanfaatannya  dan yang jelas membuat mudik akan jauh lebih nyaman dan aman.