Leonardi Gunawan
Leonardi Gunawan Karyawan

Warga Negara Biasa Yang Ingin Indonesia Ke Piala Dunia

Selanjutnya

Tutup

pilihan headline

Arsenal dan Ujian Konsistensi

11 Agustus 2017   10:27 Diperbarui: 11 Agustus 2017   10:53 538 5 3
Arsenal dan Ujian Konsistensi
Sumber Gambar: skysports.com

Berbicara tentang penampilan Arsenal, tentunya pasti teringat akan masalah konsisten permainan. Arsenal sejatinya adalah salah satu klub besar sepakbola di tanah Inggris. Boleh dibilang Arsenal adalah penghuni tetap The Big Five bersama Duo Manchester United,  Chelsea dan Liverpool.

Tetapi soal prestasi terutama prestasi meraih gelar title liga Inggris khususnya dalam kurun waktu 10 tahun terakhir ini, Arsenal lebih layak disebut tim dengan label "hampir atau nyaris". Begitu juga di Liga Champions bahkan Arsenal dalam beberapa tahun belakangan selalu kandas di babak 16 besar dari tim yang sama yakni Bayern Munich. Arsenal hanya bisa meraih gelar kelas dua yakni Piala FA, Piala Liga Inggris atau tournament pra musim seperti Community Shields.

Arsenal biasanya akan bagus pada setengah kompetisi awal atau setengah kompetisi akhir, yang sering menjadi masalah adalah Arsenal sering kehabisan bensin pada saat memasuki fase  di sekitaran bulan November dan Desember. Pemain banyak yang cidera ditambah dengan jadwal yang sangat padat, dan perlu diingat pada saat tersebut Liga Champions memasuki babak krusial yakni babak knock out.

Musim lalu menjadi bukti paling sahih terkait performa Arsenal yag naik turun, sempat menunjukkan performa baik di awal kompetisi bahkan di liga Champion bisa melaju ke babak knock out  dengan status juara grup, akhirnya penampilan Arsenal jeblok baik di liga, bahkan di Liga Champions kalah agregat 10-2 dari Munchen. Performa Arsenal sempat membaik kembali menjelang akhir kompetisi, tetapi nampaknya sudah terlambat. Arsenal memang berhasil meraih Piala FA dengan mengalahkan Chelsea, tetapi Arsenal gagal meraih tiket Liga Champions musim ini, karena hanya duduk di peringkat ke lima.

Arsene Wenger tentunya tidak tinggal diam melihat kondisi seperti ini, apalagi pada musim lalu, terutama di akhir kompetisi, suara keras yang menginginkan dia mundur sering terdengar di stadion saat Arsenal bermain di Emirates. Sempat tarik ulur terkait masalah kontrak sebelum akhirnya Arsene setuju memperpanjang kontrak selama 2 tahun kedepan.

Musim ini Arsenal kedatangan dua pemain yang diharapkan bisa menutup lubang inkonsistensi Arsenal. DI lini depan,  kedatangan Alexandre Lacazette yang awalnya diplot sebagai pengganti Alexi Sancez yang sempat diragukan masa depannya di Arsenal diyakini akan memberikan dampak yang sangat baik. Apalagi kalau ternyata Sancez tidak jadi pergi. Maka Arsenal mempunya 4 Striker yang kualitasnya baik, karena masih ada Giround dan Welbeck. Di lini belakang untuk mengantisipasi cidera dan kelelahan yang diderita bek gaek mereka Per Mertesacker dan Laurent Koscielny, Wenger mendatangkan Sead Kolasinac.

Untuk lini tengah sebenarnya tidak ada yang perlu diragukan dari skuad yang ada, kepulangan Jack Wilshere dan kembalinya Santi Cazorla dari cidera akan membuat skuad di lini tengah Arsenal menjadi "rame" karena sebelumnya sudah ada nama -- nama beken  seperti Granit Xhaka, Mezut Ozil, Walcott, Alex Oxlade.

Tinggal bagaimana Wenger lebih jeli untuk melakukan rotasi pemain dalam menghadapi padatnya kompetisi, Wenger sebaiknya membuat prioritas mana tournament atau kompetisi yang ingin dicapai maksimal. Skuad Arsenal sendiri akan bermain di empat kompetisi ;  Liga Inggris, Piala Liga, Piala FA dan Liga Europa. Belum lagi para pemain nasional yang pastinya tenaga akan dipakai oleh negara masing -- masing guna penyisihan Piala Dunia 2018 tahun depan.

Jika salah dalam menuntukan prioritas dan tidak cermat dalam memilih pemain yang turun, bahaya cidera dan berakibat pada penurunan performa akan berdampak pada skuad secara kesuluran, bisa jadi nasib Arsene Wenger akan dievalusi oleh manejemen Arsenal bahkan sebelum musim berakhir.

Kita nantikan bersama Arsene Wenger memimpin Arsenal dalam dua tahuan teraahir masa kepemimpinannya, apakah bisa memberikan gelar bergengsi atau tetap dicap sebagai tim yang "hampir" meraih gelar juara.