Gustaaf Kusno
Gustaaf Kusno profesional

A language lover, but not a linguist; a music lover, but not a musician; a beauty lover, but not a beautician; a joke lover, but not a joker ! Married with two children, currently reside in Palembang.

Selanjutnya

Tutup

Humor headline

Pergondokan alias 'Pet Peeves'

14 Maret 2011   08:36 Diperbarui: 26 Juni 2015   07:48 1263 5 11
Pergondokan alias 'Pet Peeves'
13001026691989764966

[caption id="attachment_96068" align="aligncenter" width="640" caption="(ilust treehugger.com)"][/caption]

Ada kata unik dalam bahasa Inggris untuk melukiskan hal-hal atau perbuatan menyebalkan yang dinamakan dengan pet peeve. Di dalam definisinya dia dimaknai dengan hal-hal kecil yang bisa membuat kita dongkol dan sebal dan memang sifatnya sangat individual. Jadi mungkin saja untuk orang lain tidak dianggap dan dirasakan sebagai ‘gangguan’, namun untuk kita pribadi terasa amat mengganggu dan menjengkelkan. Lebih parahnya lagi, kita tidak mungkin menegur si pelaku pet peeve ini, karena tidak ada perda atau peraturan tak tertulis sekali pun yang melarang perbuatan itu. Ada ratusan pet peeves yang diungkapkan tiap-tiap orang dan sesuai dengan namanya dia mengundang senyum di kulum bagi kita yang mendengarnya.

Pet peeve untuk sejumlah orang adalah bilamana ada orang yang bersin atau batuk dan tidak berusaha menutup mulutnya dengan tangan. Ada lagi yang berkata sebal, apabila ada orang yang mengeluarkan dahak dengan bunyi yang menjijikkan (clear their throat in disgusting way). Atau mengeluarkan ingus (blow their noses) dengan suara sekeras-sekerasnya. Ada lagi misalnya bilamana melihat orang mengupil (pick their noses) atau mengorek sisa makanan di celah-celah gigi (picking their teeth) di tempat umum. Bahkan ada yang memiliki pet peeve kalau mendengar orang yang bersendawa (burping), kentut (farting) dengan nyaring atau mendengar orang mendengus seperti babi bilamana tertawa (snorting when laughing).

Karena pet peeves ini umumnya berkaitan dengan orang-orang yang dekat dengan kita (anggota keluarga, teman sekerja dll), maka wujudnya bisa sangat beragam misalnya sebal kalau melihat sprei tempat tidur yang tidak pernah dirapikan (unmade bed), toilet yang tidak diguyur (unflushed toilet), orang makan dengan mengeluarkan suara kunyahan yang keras (noisy eating), menggunting kuku kaki di atas tempat tidur (clipping toenails on the bed), selalu memotong pembicaraan (interrupting), double dipper (mencelup potongan daging di saus atau sambal, menggigitnya, kemudian mencelupkan kembali sisa gigitan daging tadi ke saus atau sambal), berjalan sambil ‘menyeret’ sepatu atau sandal sehingga mengeluarkan suara gesekan, mengklik bolpen berulang-ulang (pen clicking), mengetuk-etuk meja dengan pena atau pensil (tapping) dan membuang puntung rokok (cigarette butt) secara sembarangan.

1300091121436612032
1300091121436612032
Di ranah publik, pet peeves dapat berwujud mendengar suara speaker di ponsel seseorang yang sedang bertelepon, bertemu dengan polisi tidur (speed bumps), kena blinking (terkena lampu silau mobil yang berpapasan), mendengarkan orang yang ikut bersenandung (sing along) mengikuti lagu yang didengarkan lewat walkman atau Ipod, mendengar orang yang mengobrol keras atau ber-HP ria di saat menonton film di bioskop, bertemu dengan pengendara yang tidak menghidupkan lampu sein (turn signal) pada waktu akan berbelok, pengendara yang membaca dan menulis SMS sambil menyetir mobil, pengendara yang melawan arus atau menguntit di belakang mobil dengan rapat sekali (tail-gating).

Untuk saya pribadi sebagai dokter gigi, pet peeves saya antara lain bilamana ada pasien yang membawa serta anaknya yang masih kecil ke ruang praktek dan tangannya yang usil akan memencet segala tombol di unit gigi. Pet peeve yang lain adalah apabila ada seorang pasien yang sedang dirawat giginya, dan ibunya atau isterinya tidak habis-habisnya berkomentar tentang perawatan yang saya berikan. Dia akan berulang kali bertanya kepada anak atau suaminya dengan nada cemas apakah merasakan sakit dan berulang kali pula meminta kepada saya untuk menghentikan saja perawatan kalau masih lama. Padahal sang pasien tenang-tenang saja di kursi gigi tidak merasakan sakit. Dan satu lagi pet peeve saya yang mungkin tidak ’diidap’ orang lain, yaitu kalau bertemu dengan anak kecil yang mengenakan sepatu yang bisa mengeluarkan bunyi cit-cit-cit pada waktu dia berjalan. Ingin rasanya saya melepaskan sepatu itu dari kakinya dan melemparkannya ke selokan. Tapi saya tidak punya nyali untuk melakukannya karena saya menyadari pet peeve ini cuma saya doang yang menyandangnya.